Browse By

2016, Tahun Kesuksesan Rainforest World Music Festival

Sebagai seorang blogger dan jurnalis saya merasa bangga bisa hadir di acara Rainforest World Music Festival ke-19. Dalam 5 tahun terakhir saya menonton festival ini, seperti biasa ada workshop dan pertunjukan musik yang akan mengisi keseruan selama 3 hari. Tanggal 5-7 Agustus dipilih sebagai waktu yang tepat untuk memanjakan seluruh pecinta musik yang akan datang dari seluruh belahan dunia untuk menyaksikan bagaimana kemegahan panggung musik di tengah hutan hujan tropis yang di apit oleh Gunung Santubong dan Pantai Laut China Selatan.

Tahun ini ada 26 penampil yang datang dari berbagai belahan dunia. Mereka membawa budaya, instrument music dan tarian serta uniknya nyanyian untuk ditampilkan kepada seluruh penonton yang hadir di sini. Ada 45 workshop yang dipersembahkan di 7 tempat dalam Sarawak Cultural Village. Ada pengenalan budaya, permainan instrument tradisional sampai tarian yang mengakar pada tradisi dari seluruh dunia dijadikan satu wadah dalam RWMF 2016. Selain itu ada 3 panggung yang menghadirkan total 30 pertunjukan. Panggung teater untuk musik-musik akustik sedangkan Jungle Stage dan Tree Stage untuk grup music besar dengan gelegar suara dan tata cahaya yang membuat berdecak kagum.

Selama 3 hari mengikuti, tahun ini boleh dibilang sangat ramai. Perkiraan lebih dari 20.000 ribu orang hadir selama 3 hari perayaan musik dunia ini. Didominasi oleh penikmat musik dari luar Malaysia, bahkan teman saya dari Jogjakarta dan Makassar jauh-jauh datang ke Kuching untuk menikmati musik. Tidak hanya penonton berkantung tebal, traveler dan backpacker cekak pun datang berbondong-bondong untuk datang, terlihat dari kebanyakan mereka tinggal di dalam tenda yang didirikan di dekat pantai.

Hari ke-2 boleh dibilang sebagai puncaknya. Di pintu masuk terlihat antrian masuk yang cukup panjang. Di lapangan juga dipadati penonton dari depan hingga belakang bahkan undak-undakan untuk duduk pun penuh terisi, padahal hari ke-2 dibumbui dengan hujan sekitar 3 jam. Walaupun lapangan becek tetapi festival goers tidak beranjak dari lokasi dan bahkan semakin senang menari sembari bermain lumpur.

Tahun ini hampir semua benua memiliki perwakilan. Dari Sarawak, Alena Murang dan legenda hidup Mathew Ngau akan tampil, serta pemain lainnya seperti Gendang Melayu Sri Buana, Thunder Beats dari Nanyang Wushu Drums serta rombongan dari host festival itu sendiri, Sarawak Cultural Village. Pemain Malaysia lainnya termasuk 1Drum.org dan Akademi Seni Unik dari Malaysia Barat, serta Band Gadis LKNS dari Sabah.

Mewakili Asia Tenggara dan daerah sekitarnya ada Naygayiw Gigi Dance Troupe dari Australia, Dya Singh dari Malaysia / Australia, Dol Arastra Bengkulu dari Indonesia dan Lan Dieu Viet dari Vietnam. Dari Asia Tengah dan Barat, akan tampil Shanren dari China dan sebuah band yang multinegara, band Violons Barbares, anggotanya berasal dari Mongolia, Bulgaria dan Prancis,  serta Broukar dari Suriah.

Afrika akan diwakili oleh penampilan dari Pat Thomas & Kwashibu Lokasi Band dari Ghana, Derek Gripper dari Afrika Selatan dan Kolektif Krar dari Ethiopia. Dari Eropa, akan ada Stelios Petrakis Kreta Quartet dari Yunani, Téada dari Irlandia, Auli dari Latvia dan Vassvik dari Norwegia.

Band-band seperti Chouk Bwa Libète dari Haiti dan Vocal Sampling dari Kuba akan mewakili Amerika Latin, dengan performa duo Nukariik yang berasal dari Kanada.

Saya merasa setiap pemusik mampu memberikan rasa “khusus” dalam setiap penampilannya. Ada cirri khas yang tidak mungkin tertukar. Masing-masing punya cara bagaimana membuat seluruh penonton puas. Walaupun berasal dari berbagai suku dengan bahasa yang tidak dipahami tapi mereka mampu berbicara dengan bahasa musik yang universal. Semua menyambut dengan bahagia. Caranya dengan ikut bertepuk, meloncat. Menari sampai menyanyi menggunakan bahasa yang mungkin tidak pernah mereka ketahui sebelumnya.

Rainforest World Music Festival 2016 memang memberikan kesan berbeda bagi saya dan penonton yang datang. 2016 Tahun Kesuksesan Rainforest World Music Festival. Saya bisa melihat wajah puas mereka setelah acara selesai. Semuanya keluar dengan wajah berbinar. Mungkin saja mereka lelah tapi semuanya telah terbayar dengan keseruan selama 3 hari ini. Sebagai traveler saya juga tidak sabar kejutan apa yang akan ditampilkan di dalam perayaan 2 dekadenya tahun depan.