Oleh: MinBae @noisybae
Di edisi ke-17 ini, MinBae kedatangan sosok yang sebenernya nggak asing cuma mungkin lu orang belum ngeh aja. Namanya Abo Sidin. Wajahnya familiar? Kalau belum, sini MinBae spill dikit.
Abo Sidin adalah vokalis dari band Next Try yang sebelumnya juga sempat mampir di season lalu. Tapi kali ini, dia datang dengan versi yang lebih personal: sebagai solois. Bukan sekadar cabang dari band, tapi ruang baru buat dia cerita lebih jujur, lebih fleksibel, dan tentu aja lebih “Abo”.
Ngomongin nama, ternyata “Abo Sidin” bukan sekadar nama panggung yang asal keren. Nama ini punya akar yang cukup dalam. Abo yang dalam bahasa Sekadau berarti “abang”, jadi panggilan yang melekat karena dia adalah anak tertua dan punya banyak sepupu. Jadi ya, “Abo Sidin” itu literally berarti “Abang Sidin”. Simple, tapi punya identitas yang kuat.
Abo lahir dan besar di Kabupaten Sekadau. Lingkungan keluarganya bukan yang jauh dari musik justru sebaliknya. Sang ayah adalah pemain orkes dangdut. Harusnya sih, kalau mengikuti stereotype, Abo bakal “kesambar” musik dari rumah. Tapi ternyata nggak gitu ceritanya.
Plot twist-nya datang dari tempat yang nggak terduga: counter handphone.
Waktu SMA, Abo kerja sebagai penjaga counter. Tempat yang harusnya identik sama pulsa dan ringtone malah berubah jadi tongkrongan kecil penuh gitar dan lagu-lagu. Dari situlah semuanya mulai. Dari nongkrong, dari iseng, dari pegang gitar yang awalnya cuma coba-coba.
Dan kalau ditanya lagu pertama yang dia pelajari? Jawabannya cukup klasik: “Kasih” dari Salju.
Iya, lagu yang mungkin buat sebagian orang cuma lewat di radio, tapi buat Abo itu jadi titik awal. Lagu pertama yang dia petik, yang mungkin juga jadi pintu masuk ke dunia musik yang lebih serius.
Setelah lulus SMA, Abo memutuskan buat lanjut ke Pontianak. Bukan perjalanan instan, tapi penuh proses sampai akhirnya dia diterima di FKIP Untan, jurusan Seni dan Pertunjukan lewat jalur beasiswa. Di titik ini, musik bukan lagi sekadar hobi dari tongkrongan, tapi mulai diasah secara akademis.
Di kampus, Abo nggak cuma belajar teori. Dia tumbuh. Cara bermusiknya mulai kebentuk, cara dia melihat musik juga makin luas. Dan dari situ, perlahan tapi pasti, dia menemukan bentuk yang paling nyaman buat dirinya.
Menjadi Solois bukan karena pengen beda. Bukan juga karena nggak bisa band-an. Tapi karena satu hal yang sangat realistis: fleksibilitas.
“Bisa dikerjain kapan aja, sendiri.”
Kalimat yang sederhana, tapi relevan banget. Di tengah kesibukannya yang lain karena yes, Abo juga seorang tenaga pengajar di salah satu sekolah swasta di Pontianak jadi solois adalah cara paling masuk akal buat tetap produktif tanpa harus nunggu jadwal orang lain.
Dan kalau sempat lihat TikTok dia, terutama di kolom komentar itu bukan fans random. Itu murid-muridnya. Yang mungkin di kelas lihat dia sebagai guru, tapi di luar jadi pendengar paling jujur.
Yang bikin menarik dari Abo Sidin bukan cuma perjalanan atau lagunya, tapi cara dia sampai ke titik ini. Nggak ada cerita yang terlalu dramatis, nggak ada branding yang dibuat-buat. Semua terasa organik.
Dari anak Sekadau yang dipanggil “Abo”, ke penjaga counter yang belajar gitar dari tongkrongan, ke mahasiswa seni, ke guru, dan sekarang seorang solois yang pelan-pelan menemukan pendengarnya.
Ini bukan cerita tentang jadi besar dalam semalam. Ini cerita tentang tumbuh.
Dan mungkin, itu yang bikin musiknya terasa dekat
Simak AMPLITUDO live setiap Senin, pukul 7-9 malam!
- streaming: volarefm.com
- Instagram & TikTok @radiovolare