Browse By

Aliansi Jurnalis Independent Gelar Diskusi Publik Sistem Siaran Berjaringan

Pontianak – Hari ini, kamis (19/5) Aliansi Jurnalis Independent (AJI) Kota Pontianak akan menggelar diskusi publik ‘Sistem Siaran Berjaringan untuk Keberagaman Isi Siaran’ di Hotel Aston.

Ketua Panitia AJI Pontianak Yuniardi dalam press release-nya memaparkan bahwa  dengan daya jangkaunya yang begitu luas, media, khususnya televisi, punya kuasa membentuk pemahaman atas realitas.

Setidaknya 91,55% penduduk Indonesia berusia di atas 10 tahun menonton televisi (BPS, 2012). Ironisnya, meski jumlah stasiun TV bertambah, konten yang ditampilkan cenderung seragam. Berbagai kajian mengungkap betapa televisi kikir menyajikan kekayaan Nusantara.

Di layar kaca, Indonesia tidaklah bhinneka. Aneka muatan yang terkesan merendahkan kebudayaan non-Jakarta juga menerbitkan keprihatinan tersendiri.

“Di sisi lain, publik sering dianggap sebagai kerumunan pasif, menerima begitu saja konten yang diciptakan industri. Penonton seolah hanya menjadi angka dalam rating tanpa kuasa untuk memengaruhi tayangan. Namun, berbagai kajian menunjukkan bahwa dalam taraf tertentu, penonton mampu merespon atau setidaknya, memilih,” ujarnya.

“Praktek di atas sering terjadi, karena lemahnya penegakkan UU Penyiaran no 32/2002 yang sebenarnya menegaskan sistem siaran berjaringan (SSJ). Hampir di banyak daerah SSJ ini tidak berjalan, sementara TV Lokal pun bertumbangan. Namun tidak semua, beberapa daerah bisa menjadi contoh bagaimana TV-TV Lokal maupun TV Berjaringan kemudian memproduksi isi-isi siaran sesuai konteks lokal,” ujarnya.

Pada tahun 2016, DPR sedang membahas RUU Penyiaran yang baru dan RUU RTRI (Radio Televisi Republik Indonesia). Perubahan 2 UU ini diharapkan menjadi momentum penting untuk menciptakan sistem penyiaran yang memperhatikan konten lokal, distribusi kepemilikan, frekwensi dipergunakan untuk kepentingan publik, serta menciptakan kreativitas dan penggerak ekonomi daerah.

“Untuk itu, diperlukan masukan, tanggapan, kritik dari berbagai pihak, khususnya sektor masyarakat, terutama dari daerah-daerah yang jauh dari ibukota atau pemusatan kepemilikan TV,” terangnya.

Untuk wilayah Kalimantan Barat, ada beberapa isu seperti bagaimana isi siaran lokal mampu memenuhi kebutuhan budaya masyarakat setempat yang beraneka ragam dan juga bagaimana lembaga penyiaran publik mampu menjangkau kebutuhan masyarakat di perbatasan.

“AJI Indonesia bekerjasama dengan AJI Pontianak didukung oleh Yayasan Tifa, mengadakan diskusi publik untuk menjaring pendapat publik,” ucap dia.  (Wati Susilawati)