#bilingual : Philippine Court Approves Hero’s Burial for Dictator Ferdinand Marcos

Bilingual adalah berita dua bahasa yang akan membantu Bujang Dare untuk mempelajari dan lebih memahami Bahasa Inggris. Serta menambah wawasan dunia tentang berbagai informasi dan berita masa kini. Untuk hari ini sebuah topik telah dipilih khusus untuk Bujang Dare.

Philippine Court Approves Hero’s Burial for Dictator Ferdinand Marcos
(Pengadilan Philipin Menyetujui Pemakaman Pahlawan Untuk Sang Diktator Ferdinand Marcos)

The Philippine Supreme Court has ruled that former president Ferdinand Marcos can be buried in a cemetery for national heroes. Philippine President Rodrigo Duterte had approved the burial. But several groups opposed his decision and went to court to stop it. On Tuesday, the Supreme Court voted 9-5 to dismiss opposition requests to block the burial. In its decision, the court noted that while Marcos “was not all good,” he “was not pure evil either.” A spokesman for the court added that there was no law preventing the burial.

(Pengadilan tertingi di Filipina telah memutuskan bahwa Mantan Presiden Ferdinand Marcos bisa dimakamkan di sebuah Pemakaman khusus untuk para Pahlawan Nasional. Presiden Filipina Rodrigo Duterte sudah menyetujui perihal pemakaman tersebut. Akan tetapi beberapa kelompok melawan keputusan presiden tersebut dan ke pengadilan untuk menghentikannya. Pada hari Selasa, Pengadilan Tinggi mengumpulkan suara 9-5 untuk menggagalkan permintaan para pihak oposisi untuk menghalang pemakaman itu. Dalam keputusan ini, pengadilan mencatat bahwa meskipun Marcos “tidaklah sepenuhnya orang baik”, dia “juga bukan sepenuhnya orang jahat”. Juru bicara pengadilan menambahkan bahwa tidak ada aturan untuk menghalangi pemakaman itu.)

Marcos ruled the Philippines for more than 20 years. His administration was accused of widespread corruption and human rights abuses. He was removed from office in 1986 when the army supported what was called a “people power” rebellion. At that time, his opponents accused him of trying to steal an election from another candidate. Marcos fled the country. He died in 1989 while living in exile with his family in the American state of Hawaii. In 1993, his body was flown back to the Philippines and taken to his home province of Ilocos Norte. It has been kept in a glass coffin. Many people travel there to see his remains.

(Marcos memimpin Filipina untuk lebih dari 20 tahun. Pemerintahannya dituduh menyebarkan korupsi dan penyalahgunaan hak asasi manusia. Dia dilengserkan dari pemerintahan pada tahun 1986 ketika pihak militer mendukung aksi yang disebut pemberontakan “kekuatan rakyat”. Saat itu, lawan politiknya menuduh beliau untuk mencoba mencuri pemilihan dari kandidat lainnya. Marcos melarikan diri. Dia meninggal pada tahun 1989 saat beliau tinggal di pengasingan bersama keluarganya di sebuah Negara bagian Amerika, Hawaii. Pada tahun 1993, jasadnya diterbangkan kembali ke Filipina dan dibawa ke kediamannya di Provinsi Ilocos Norte. Jasad Marcos telah diletakkan di dalam sebuah peti mati kaca. Banyak orang kesana untuk melihat tubuhnya)

President Duterte ordered the military to bury the president at Heroes’ Cemetery, saying he was acting on a campaign promise. Duterte said he felt it was right for Marcos to be buried there “not because he was a hero, but because he was a Filipino soldier.” Marcos served in the Philippine army and was a guerrilla leader against Japanese occupation forces during World War II.

(Presiden Duterte memerintahkan pihak militer untuk memakamkan Presiden di Makam Pahlawan, bermaksud untuk mewujudkan janji kampanyenya. Duterte berkata bahwa ini hak bagi Marcos untuk dimakamkan disana, “bukan karena beliau seorang pahlawan, tetapi karena beliau adalah seorang tentara pejuang Filipina”. Marcos bertugas sebagai tentara Filipina dan seorang pemimpin pasukan Gerilya melawan penjajahan Jepang selama Perang Dunia II)