Browse By

BIOSKOP – American Assasin

Saya lupa kapan terakhir menonton film spionasi. Terlalu banyak menonton film horor membuat saya lupa dengan genre action. Mari simak review film American Assasin sebagai film spionase terbaru. Mitch Rapp merupakan karakter rekaan Vince Flynn yang diciptakan sebagai tokoh utama untuk belasan seri novelnya. American Assassin adalah penampilan perdananya di layar lebar, dan sepertinya dimaksudkan sebagai pembuka bagi franchise aksi mata-mata berbasis karakter, sama halnya dengan Jack Ryan-nya Tom Clancy atau Jack Reacher-nya Lee Child. Mitch adalah agen yang lumayan tangguh dan efektif tapi agresif dan pikirannya tak terlalu panjang. Semacam Bourne versi ceroboh. Selain dari itu, sama seperti filmnya ini sendiri, tak ada karakteristik lain yang membuatnya benar-benar berbeda dari para agen sinematis lainnya.

Ceritanya tak bisa lebih klise lagi dengan sumber konflik yang melibatkan pemicu nuklir. Kita bahkan diberikan antagonis berjuluk “The Ghost” (Taylor Kistch) yang merupakan mantan agen yang sekarang menjadi penjahat internasional. Ia baru saja mencuri pemicu tersebut dari mafia Rusia, dan sekarang berniat untuk menjualnya kepada penawar tertinggi. Stan merasa Mitch belum siap untuk misi ini, namun Irene yakin ia sudah mampu. Tak perlu kita tanya kenapa.

Yang dibutuhkan oleh film semacam ini hanyalah tokoh utama dan sekuens laga yang meyakinkan. Dylan O’Brien menarik untuk dilihat. Ia bukan lagi remaja puber yang anda ingat pernah berlarian di The Maze Runner, melainkan benar-benar tampak tangguh sebagai bintang laga meski masih punya rambut bergaya anak band. Ia memberikan fokus dan amarah yang cukup bagi karakternya. Sementara itu, Keaton sepertinya tahu ia sedang bermain di film seperti apa. Scott Adkins dan Shiva Negar tampil singkat sebagai pemeran pendukung.

Adegan aksinya berlangsung di semesta khas film aksi, dimana para karakter kita saling menembak di tengah keramaian tapi tak terlalu menarik perhatian polisi. Kalau saya tak salah ingat, hanya ada 4 polisi yang muncul disini, dan tak ada satupun yang krusial bagi cerita. Mungkin mereka tak mau ikut campur urusan CIA. Meski begitu, ia digarap dengan baik. Sutradara Michael Cuestakebanyakan merancang sekuens aksinya yang agresif dalam sorotan close-up, lebih sering melibatkan pertarungan jarak dekat. Ada sebuah adegan besar di klimaks, lebih dari sekadar tabrakan mobil atau kehancuran gedung, yang dibuat menggunakan banyak CGI dan tak kita duga akan kita dapatkan dalam film seperti ini. Adegan ini takkan saya ungkap, yang jelas lumayan membuat saya terpana.

Adegan aksinya juga terbilang standar. Tak ada hal-hal baru yang yang membikin kita berteriak whoaa, entah itu brutal atau keren. Paling yang mendekati adalah adegan pembuka di pantai Ibiza di awal film yang penuh darah dengan efek luka Yang paling mengecewakan adalah kelakuan film ini dalam memperlakukan Scott Adkins. Scott Adkins (yang terkenal setelah franchise Undispute) adalah satu dari sedikit aktor Amerika yang benar-benar mahir dalam bela diri dan nyaman di depan kamera. Tapi American Assassins tak memberikannya porsi penting dalam adegan pukul-pukulan, bahkan kemunculannya bisa dengan cepat dilupakan. What a waste of talent.

Satu-satunya yang menggembirakan adalah Michael Keaton yang berperan sebagai Stan Hurley, mentor Rapp yang punya memori buruk dengan murid sebelumnya. Ia memberi nyawa bagi karakter Hurley yang efisien, tangguh, dan dapat diandalkan. Keriput di wajah dan tatapan matanya seakan berbicara.