Browse By

BIOSKOP – Pengabdi Setan (2017)

Jadi sudah tau kan kalo #IbuDatangLagi? Dan percaya deh kalo dikasih tau #JanganNontonSendirian. Nurut aja. Gak usah sok-sok an nonton sendirian, apalagi malem Jum’at.

Remake dari film tahun 80an berjudul sama ini didukung sama pemain-pemain berpenampilan kuat. Sayangnya gue cuma kenal Tara Baso yang juga main bagus di film A Copy of My Mindnya Joko Anwar juga. Dia jadi Rini di film ini, anak tertua dari empat bersaudara yang harus berhenti kuliah. Dia sekali lagi membuktikan kekuatan aktingnya. Meskipun menurut gue dia agak tua buat memerankan anak umur awal 20-an, tapi masih believable.

Selain itu Ayu Laksmi yang jadi Ibu berhasil banget bikin suasana serem sepanjang film. Bayangkan aja, cuma lihat fotonya di dinding sent a fine chill down the spine. Oh well, pengaturan oleh set decorator dan sinematografinya ngaruh banget juga sih ya. Dukungan cast yang lain gak kalah kuatnya, terutama di antara kakak beradik Rini, Toni, Bondi dan Ian. Dua adik terkecil di empat bersaudara ini, Bondi dan Ian menunjukkan potensi akting terbesar karena di bayangan gue anak kecil kan mestinya belom ngerti akting ya. Tapi mereka berdua bisa ngebangun chemistry yang pas. Sementara peran orang-orang dewasa yang lain di film ini bervariasi antara biasa sampai cukup menyita perhatian. Ambil contoh si Nenek yang meskipun gak banyak dapet waktu tampil, tapi kehadirannya cukup memberikan pengaruh ke scene-scenenya.

Film ini dibuka dengan adegan-adegan “pengenalan” yang banyak memberikan informasi kepada penonton mengenai kondisi keluarga, karakter personal para tokoh, serta sejumlah problematika yang mereka alami. Biar begitu, adegan-adegan tersebut tidak terkesan “menggurui”. Suasana rumah khas vintage memberikan kesan haunting bahkan sejak menit-menit pertama. Kisah berangsur-angur menggelap. Kejadian-kejadian tak wajar serta kematian demi kematian, perlahan menggiring penonton ke arah klimaks yang gripping dan penuh teror. Tak lupa, dilengkapi pelintiran yang apik dan mulus menjelang ending.

Layaknya film horror pada umumnya, ada banyak jumpscare dalam film ini. Biar begitu, adegan-adegan jumpscare dalam Pengabdi Setan tidak monoton sehingga tidak terkesan “murah”. Film ini tak hanya membombardir penonton dengan adegan-adegan mengejutkan, namun juga memberikan kesempatan kepada penonton untuk mencerna alur dengan baik. Pengabdi Setan memiliki plot yang cukup kuat, bisa dibilang jauh lebih kuat dibanding plot film-film horror internasional yang baru-baru ini muncul seperti Annabelle: Creation(2017) dan IT (2017). Plotnya detail dan cukup “segar”.

Meski ada banyak sosok-sosok meyeramkan dalam film ini, namun tampaknya sosok hantu ibu lah yang paling mengena bagi penonton. “Penciptaan” tokoh ibu yang kini jadi perbincangan banyak orang, menurut saya sangat berhasil. Sosok Ayu Laksmi yang cantik jelita seketika tak dapat dikenali lagi di sini. Bagaimana tidak? Gerak-gerik ibu sudah memberikan kesan sangat seram bahkan sejak beliau diceritakan masih hidup. Selain suara lonceng ibu, suara nyanyian sang ibu yang khas nan mencekam dan terus menerus diputar sepanjang film, juga menambah nuansa kelam pada film. Perpaduan tone visual yang gelap, irama-irama lembut namun menyeramkan, suara-suara yang memekakkan telinga, dan plot detail nan tak terduga semuanya berpadu secara sempurna.

Menonton Pengabdi Setan (2017) seperti menonton sesuatu yang sama sekali berbeda. Jika saja judul dan produksinya tidak mengacu pada film berjudul Pengabdi Setan yang dirilis sebelumnya, bisa jadi karya terbaru Joko ini terlepas dari penghakiman ekspektasi. Sekalipun banyak catatan cacatnya, usaha Joko untuk memberikan standar baru bagi film horor Indonesia patut diberikan acungan jempol. Segala trik yang berusaha diperlihatkan, keseriusan menggarap film horor secara produksi, dan keterbukaan pada kemungkinan-kemungkinan yang selama ini tak terlihat merupakan niat yang pantas diapresiasi. Setidaknya film ini dapat menjadi pembuka jalan untuk para sineas lainnya yang hendak menantang ruang pemahaman yang selama ini terbatas.