Browse By

Datangi PT Sumber Djantin Tanyakan Bau dan Limbah Sisa yang Dibuang ke Sungai Kapuas

Pontianak – Warga di Jalan Situt Mahmud, Kelurahan Siantan Tengah, Kecamatan Pontianak Utara mengeluhkan pencemaran lingkungan, terutama bau hasil produksi perusahan karet PT. Sumber Djantin Pontianak.

Tidak hanya pencemaran bau, perusahaan yang berdiri sejak tahun 50 ini juga diduga sengaja membuang sisa hasil olahan limbah produksi ke Sungai Kapuas.

Pernyataan ini terungkap saat Komisi B DPRD Kota Pontianak mendatangi perusahaan crumb rubber terbesar di kota Khatulistiwa tersebut, Kamis (5/3).

Kunjungan kerja yang sudah teragenda itu merupakan tindaklanjuti dari aduan masyarakat ke gedung wakil rakyat itu.

Ketua Komisi B DPRD Kota Pontianak Agus Sutisna, langsung bereaksi dan bersama Badan Lingkungan Hidup (BLH), ia dan rombongan mendatangi PT Sumber Djantin.

Bau menyengat karet olahan kata Agus masuk dalam pencemaran udara. Selain mengganggu warga sekitar, bau yang sangat menyengat hingga di saat-saat tertentu bisa sampai ke tengah kota ini sudah masuk tarap mengkhawatirkan, mengingat letak dan posisi perusahaan karet itu berada di tengah-tengah pemukiman penduduk.

“Saat kita ke sana, mereka membeberkan bahwa bau yang ditimbulkan itu bukan disengaja tetapi karena karet yang dijual petani umumnya mengandung air. Padahal, kata mereka, pihaknya sudah sering mengingatkan petani untuk menjual karet kering tanpa air. Akibatnya, saat diproduksi zat kimia dari karet yang tercampur air itu berbau menyengat. Itu penjelasan mereka kepada kita saat kita melakukan kunjungan ke sana,” paparnya.
   
Namun, menurut Agus itu bukan jawaban untuk solusi yang dihadapi masyarakat setempat. Untuk itu, ia mengingatkan perusahaan karet itu untuk segera membuat kebijakan yang bisa meminimalisir bau menyengat karet.

Nmaun, yang paling membuat kaget pihaknya adalah proses pembuangan sisa limbah karet ke Sungai Kapuas. Ini kata, Agus merupakan pencemaran lingkungan dan bisa merusak ekosistem yang ada dis ekitar sungai.

“Ternyata benar bahwa mereka membuang sisa hasil limbahnya ke Sungai Kapuas, meskipun mereka berdalih bahwa pembuangan itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga tidak akan mencemari lingkungan,” ungkapnya.

Ia pun meminta PT Sumber Djantin segera mencari cara untuk membuang sisa hasil olahan produksi ke tempat lain bukan ke Sungai Kapuas.

“Sangat disayangkan sekali. Kita pun memiliki tiga rekomendasi untuk PT Sumber Djantin yang harus segera ditindaklanjuti. Pertama, segera meminimalisir bau meskipun mereka mengatakan sudah membeli parfum khusus tapi bau tetap saja ada. Kedua, kita minta hasil limbah olah pabrik tidak dibuang di Sungai Kapuas dan ke tiga, program CSR perusahaan harus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. Tiga ini yang kita minta untuk dipenuhi,” tegas Agus.

Sampai sejauh ini, belum ada korban terkait pencemaran lingkungan yang dilakukan PT Sumber Djantin ini.

“Belum ada, saya harap tidak ada.  Namun, jika hal ini terus terjadi, kita khawatir bisa saja, makanya harus ada solusi jangka panjang. Tepat juga menjadi perhatian kita, meskipun sudah berdiri sejak tahun 50, sebelum banyak pemukiman penduduk di sana tetapi sekarang zaman sudah berubah, pabrik di tengah kota sudah tidak layak lagi. Namun, mereka menganggap proses akan lama jika pubrik dipindah,” paparnya.

Ia pun meminta BLH juga mengawasi tindaklanjuti rekomendasi pihaknya karena itu merupakan bagian dari aspirasi masyarakat. (sis)