Dukung Pembangunan Waterfront

Pontianak – Ketegasan Walikota Pontianak, Sutarmidji yang meminta warga segera membongkar bangunannya di sepanjang pinggir Sungai Kapuas yang terkena proyek pembangunan waterfront, mendapat respon positif dari salah seorang warga Kelurahan Benua Melayu Laut Kecamatan Pontianak Selatan, Maimunah (67).

Dirinya secara sukarela membongkar warungnya yang berada di atas sungai, Selasa (18/4). Bangunan dengan luas sekitar 4×8 meter itu satu-persatu dinding papannya dibongkar oleh seorang pekerja yang membantunya.

Maimunah menyebut, dirinya membongkar warung yang juga berfungsi sebagai posyandu secara sukarela untuk mendukung pembangunan waterfront. Ia berharap, apa yang dilakukannya ini bisa diikuti oleh warga lainnya demi kepentingan umum. Apalagi, dirinya menyadari bangunan warungnya berdiri di atas sungai menyalahi aturan.

“Saya malu kalau tidak membongkarnya, apalagi sudah mendapat Surat Peringatan (SP) 1,” ucapnya.

Menurut kader PKK ini, dirinya merasa tidak berhak mempertahankan bangunan warung yang didirikan di atas sungai sebab menyalahi aturan. Diakuinya, apa yang dipertahankan itu bukanlah haknya karena bangunan itu sudah jelas berada di atas sungai yang merupakan fasilitas umum.

Kendati demikian, apabila Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak berkenan memberikan kompensasi, ia meminta untuk dibangunkan kanopi di teras rumahnya sebagai peneduh untuk posyandu yang sudah berjalan selama ini.

“Rencananya posyandu yang dulunya menempati warung itu akan saya pindahkan ke rumah saya tetapi kalau bisa minta ditambahkan kanopi di depan rumah supaya tidak kepanasan dan kehujanan,” harapnya.

Diceritakan Maimunah, selain sebagai warung nasi, bangunan yang dibongkar itu juga berfungsi sebagai Posyandu Balita Karya Indah II dan Posyandu Lansia Lestari. Dua posyandu itu banyak dimanfaatkan warga sekitar. Awalnya memang posyandu itu berlokasi di rumah miliknya. Namun dikarenakan jumlah warga yang memanfaatkan posyandu semakin bertambah, dirinya pun berinisiatif membangun posyandu sekaligus warung di atas sungai.

“Saya buat 3×4 meter untuk Posyandu anak-anak dan Lansia, selanjutnya karena ramai akhir saya tambah lagi luasnya. Jadi untuk satu bulan Posyandu beroperasi hanya dua kali, dan mengisi waktu kosong dipergunakan untuk membuka warung nasi yang hasilnya juga untuk warga dan posyandu,” ceritanya.

Terpisah, Walikota Pontianak, Sutarmidji menyambut baik inisiatif warga yang secara sukarela membongkar sendiri bangunan di pinggiran Sungai Kapuas. Ia meminta warga lainnya ikut melakukan hal serupa untuk kepentingan pembangunan waterfront di kawasan tersebut.

“Saya senang jika masyarakat mau seperti itu, itu yang bagus,” katanya.

Dijelaskan Wali Kota dua periode ini, tak mudah mendapatkan anggaran Rp51 miliar dari Pemerintah Pusat untuk pembangunan tersebut. Karena itu masyarakat harus mendukung, apalagi tujuannya untuk menata kawasan tersebut.

“Sudahlah bongkar saja, jika mau kuat-kuatan percuma, saya bersyukur itu (bongkar sendiri) bagus, kan pilihannya bongkar sendiri atau kami yang bongkar,” tegas Sutarmidji.

Dirinya mengajak semua warga wajib mendukung pembangunan jika ingin kota ini maju. Karena semuanya tentu mau tinggal di kota ini hingga akhir hayat, dan ingin menikmati suasana yang nyaman.

“Nyaman dilihat, memangnya mau sampai akhir hayat melihat Pontianak ini kumuh-kumuh, kan tidak, bagus dinikmati hidup kita di dunia ini tak lama,” tambahnya.

Sementara untuk bangunan rumah pribadi yang juga terkena dampak pembangunan waterfront akan ada kompensasi. Namun besarannya tidak bisa diintervensi sebab sudah ada hitung-hitungannya oleh pihak terkait. “Itu pun bukan ganti rugi, tapi setidak-tidaknya bisa untuk sewa rumah, sambil menunggu mapan ekonominya,” tukasnya.

Lurah Benua Melayu Laut, Lestari menjelaskan, ada 28 bangunan di wilayahnya yang harus dibongkar lantaran pembangunan waterfront. 28 bangunan itu terdiri dari 11 kafe, 12 rumah dan 5 warung. Sejauh ini pihaknya sudah mengundang warga untuk membicarakan perihal itu.

“Kami sudah memberikan sosialisasi beberapa kali, sudah diundang ke kantor kami, mereka pada dasarnya mendukung dengan program water front, tapi itu tadi mereka mengharapkan adanya bantuan dari pemerintah,” terangnya.

Hingga kini baru ada satu bangunan yang dibongkar secara sukarela. Bangunan tersebut merupakan Posyandu Balita dan Lansia yang sehari-hari juga dimanfaatkan sebagai warung makan. Ada pula satu warung lagi yang akan dibongkar dalam waktu dekat.

“Rumah tinggal sementara ini mereka bersedia untuk bongkar sendiri. Kompensasi memang sedang diusahakan Pemerintah Kota, siang ini kita ada rapat kembali untuk menentukan terkait kompensasi mereka,” jelasnya.

Pihaknya juga melayangkan SP 2 pada hari Selasa (18/4) kepada warga yang berjangka waktun dua hari. Jika SP 2 itu tidak juga diindahkan, maka SP 3 kembali dilayangkan dengan tenggat waktu satu hari.

“Setelah itu kita lakukan eksekusi. Sementara ini secara lisan mereka tidak mempermasalahkan, cuma mereka meminta ada perhatian dari Pemerintah Kota. Kami selaku pemerintah sangat mengharapkan dukungan dalam bentuk membongkar sendiri,” pungkasnya. (Wati Susilawati)

Simak Warta Volare setiap hari Senin-Jum’at pukul 12.00 dan 15.55. Simak pula Warta Volare Weekend setiap Sabtu pukul 07.00 dan 12.00 di Volare 103.4 FM