Empat Pilar MA Bangun SDM ; Iman dan Ahlak Jadi Harga Mati

Warta Volare Edisi 25 Februari 2015

Pontianak – Modernitas boleh tak terbendung tetapi pilar iman dan ahlak harus tetap ada dalam menjadi tameng moderintas yang kebablasan. Ini yang menjadi salah satu fokus diskusi rapat kerja wilayah (Rakerwil) ke II Miftha’ul Anwar (MA) Provinsi Kalbar, Kamis (25/2) di aula Dekopinwil Kalbar.

Pilar iman dan penguatan ahlak merupakan harga mati, mengingat sangat dibutuhkan di era teknologi informasi yang pesat ini. Demikian diungkapkan Pendiri Pondok Pesentren MA KH Ahmad Juhaidi Abdullah.

Menurutnya, ada empat pilar dan pondasi MA dalam penguatan visi misinya membangun SDM santri berkualitas. Empat pondasi itu adalah dakwah, pendidikan, sosial dan ekonomi.

“Empat ini sudah jadi visi misi kita. Makanya, dakwa dalam bentuk pondok pesantren yang awalnya kita rintis sejak 27 tahun lalu d sini. Menyusul tsanawiyah dan Aliyyah. Untuk sosial dan ekonomi juga tidak kita lupakan, kita bentuk koperasi untuk menunjangnya,” papar sang kyia ini.

Tantangan dakwah dan dunia pendidikan sangat besar. Untuk itu, MA masih mengedepankan prioritas iman dalam mendidik para santri.

“Jka ikan kita kuat, maka tidka sulit menngakal hal negatif yang ingin masuk ke diri kita. Nah konsep ini yang kita bangun di MA. Jika para santri sudah siap terjun masyarakat, mereka tidak akan ragu menolak pengaruh negatif. Ini yang tidak ada sekarang, banyak penguasa mengedepankan ego yang pada akhirnya terjebak dalam arus korupsi,” paparnya.

Ia berharap santri-santri jebolan ponpes MA mampu mencetak ratusan, bahkan ribuan cendikiawan yang beriman dan berahlak.

“Cerdas dan pintar kita butuh, tapi paling utama kita butuh yang memiliki iman. Jika sudah punya itu, santri kita siap untuk bermasyarakat,” ucapnya.

Hal sama juga diungkapkan, Pengurus Ponpes MA Kalbar, KH Ahmad Maugfuri. Ia mengutip salah satu ayat Alqur’an,  Allah akan mengangkat derajat orang yang beriman dan yang menuntut ilmu.

“Nah, maka kita berikan ilmu yang benar-benar, terutama masalah ahlak karena sekarang ini dengan modernitas sekarang, ahlak sangat penting,” paparnya.

Untuk itu, modul yang diajarkan MA adalah bagaimana memberikan filter dalam menjaga mental agar tidak terjerumus hal-hal yang merugikan.

“Kita ingin, santri kita saat terjun di masyarakat menjadi pelopor yang membangun masyarakat. Mendidik anak sekarang ini sangat susah, apalagi dengan perkembangan teknologi. Untuk itu, kita memang sejak awal membuat kebijakan yang ketat, seperti di ponpes tidak boleh bawa hp. Santri sejak subuh sampai pukul 23.00 WIB belajar tugasnya. Itu untuk mengantisipasi anak-anak dipengaruhi. Anak remaja usia 13 tahun kalau bisa lebih efektif masuk ke pesantren karena pada masa menjelang remaja itu, mereka cenderung mencontoh apa yang ada di sekitarnya. Kita berharap lulusan MA mampu menjadi penerus bangsa yang beriman dan berahlak baik,” harapnya. (sisi)