Browse By

Februari Inflasi di Pontianak 0,43 persen

Warta Volare Edisi 6 Maret 2015

Pontianak – Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Pontianak mencatat inflasi bulan Februari 2015 mencapai 0,43 persen. Menurut Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Barat, Dwi Suslamanto, nilai inflasi tersebut disebabkan efek perayaan imlek yang jatuh pada bulan Februari. Namun nilai inflasi tersebut jauh lebih baik jika dibandingkan dengan lima tahun sebelumnya mulai 2010-2014 di mana rata-rata inflasi bulan Februari bisa mencapai 1,38 persen.

Dengan nilai inflasi yang berhasil ditekan hingga 0,43 persen ini, kerja TPID dinilainya sudah mulai kelihatan hasilnya. Secara akumulasi, inflasi bulan Januari dan Februari 2015 mencapai 1,62 persen. Nilai inflasi tersebut jauh lebih baik jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2014 lalu di mana inflasi mencapai 8,16 persen.

“Nah, ini dipicu oleh komoditas jeruk, tarif listrik, angkutan udara dan telor ayam ras.  Secara nasional inflasi Kota Pontianak berada pada peringkat empat. Inflasi cenderung kepada ekspetasi karena keberadaan kegiatan imlek yang diikuti dengan kenaikan harga tiket angkutan udara, otomatis kebutuhan-kebutuhan lain secara ekspetasi pedagang dan konsumen meningkat. Tapi kalau stoknya cukup saya rasa harga bisa turun,” ujarnya usai rapat membahas inflasi, Jumat (6/3) di ruang rapat Wali Kota Pontianak.

Dwi menjelaskan, inflasi yang terjadi bersifat musiman, seperti bertepatan pada perayaan imlek, idul fitri dan natal. Kendati demikian sebelum itu terjadi, pihaknya yang tergabung dalam TPID sudah menyiapkan beberapa langkah supaya efek dari inflasi itu tidak terlalu besar dan bisa ditekan.

“Untuk menekan inflasi di sektor angkutan udara, kami sudah melakukan koordinasi dengan perusahaan maskapai penerbangan supaya harga tiket angkutan udara jangan terlalu tinggi. Artinya, walaupun harga tiket penerbangan naik tapi tidak secara drastis,” ungkapnya.

Ia menilai, inflasi tidak semata berdampak buruk selama itu masih dalam batas kewajaran. Inflasi memang dibutuhkan asalkan jangan terlalu tinggi tingkat inflasi yang terjadi karena inflasi diibaratkan pelumas bagi pertumbuhan ekonomi.

Walikota Pontianak, Sutarmidji mengatakan, dari data yang ada, harga kebutuhan pokok antara satu pasar dengan pasar lainnya selisih harga bisa mencapai 40 hingga 60 persen. Padahal, jarak antara pasar satu dengan pasar lainnya cukup dekat. Ia menilai, kondisi ini disebabkan ada permainan harga di tingkat pengecer atau pedagang. Bahkan ada beberapa kebutuhan pokok yang harganya tidak wajar antara pasar satu dengan lainnya.

“Nah, indikasi dari data itu sepertinya ada permainan-permainan harga. Makanya ketika harga beras naik, saya langsung telepon beberapa distributor yang saya kenal, saya katakan jangan permainkan harga, jangan anda jadi spekulan, saya akan razia semua gudang dan saya akan lihat faktur pengiriman barangnya, tanggal berapa diterima dan lain sebagainya. Tidak ada cerita harga bahan bakar naik, harga angkutan naik, kita juga akan kaji itu semua,” paparnya.

Upaya Sutarmidji itu membuahkan hasil karena harga beras di Pontianak tidak sempat melonjak naik secara signifikan. Kenaikan harga beras hanya sekitar 2 hingga 5 persen saja, sementara daerah lainnya kenaikan bisa mencapai 30 persen.

“Nah, inikan langkah-langkah cepat seperti itu yang perlu kita lakukan untuk pengendalian inflasi,” pungkasnya. (sis)