Browse By

Info Film Paranormal Activity – The Ghost Dimension

Wih…. Hebat, menuai kontroversi, ada yang bilang jelek, ada yang bilang bagus ada yang bilang biasa-biasa saya. Tapi faktanya Paranormal Activity sudah beranak pinak mengeluarkan 6 seri, Model found-footage memang bukan hal lazim didunia perfilman tapi hal ini biasa dilakukan untuk menyatakan bahwa adegan ini terjadi secara nyata.

Jika anda pernah menonton salah satu film Paranormal Activity -atau film found-footage apapun- saya rasa kita sudah berada di tahap dimana tak perlu lagi mempertanyakan kenapa para tokohnya tak pernah lalai untuk merekam dan membawa kamera kemana-mana meski nyawa mereka terancam.

Masih mengenai keluarga yang rumahnya dihantui, kali ini keluarga yang ketiban sial adalah keluarga Fleege: sang ayah Ryan (Chris J. Murray), ibu Emily (Brit Shaw) dan seorang anak perempuan berusia 7 tahun Leila (Ivy George). Mereka baru saja pindah ke rumah baru bersama dengan saudaranya Ryan, Mike (Dan Gill) serta seorang wanita seksi bernama Skylar (Olivia Taylor Dudley) yang entah siapa namun saya asumsikan merupakan temannya Emily.

Keanehan dimulai saat Ryan menemukan sebuah kamera jadul beserta beberapa video home-made. Kamera ini mempunyai konstruksi yang berbeda dengan kamera konvensional, yang membuat Ryan (dan penonton, tentunya) bisa melihat peristiwa paranormal. Awalnya hanya dianggap sebagai error, namun lama kelamaan mereka menyadari bahwa wujud berbentuk cairan hitam yang bisa melayang– terdengar aneh memang, saya agak kesulitan menggambarkannya dengan gamblang karena memang tak ditampilkan begitu jelas– ini adalah teror dari makhluk gaib.

Situasi menjadi semakin kacau saat Leila mulai berbicara dengan teman imajiner-nya yang bernama Toby dan melakukan tindakan-tindakan aneh seperti merobek-robek Injil. Jika anda adalah penonton seri Paranormal Activity, anda tentu sudah pernah mendengar tentang Toby bukan?

Meskipun sebenarnya kontinuitas adalah hal yang sedikit membingungkan dari seri ini, The Ghost Dimension melanjutkan langsung kisah dari film ketiga dimana film dibuka dengan adegan saat Kristi dan Katie melihat Dennis tewas mengenaskan. Faktanya, video-video yang ditonton Ryan dan Mike menampilkan keduanya yang tampak sedang melakukan suatu ritual bersama seorang pria misterius.

Di film sejenis ini, tentu saja para tokohnya dungu dan tak konsisten. Entah kenapa Ryan memutuskan hanya menonton satu video per hari. Entah kenapa membiarkan Leila tidur sendirian padahal kedua orang tuanya tahu bahwa anak mereka diganggu makhluk halus. Entah kenapa mereka baru memanggil pendeta di saat semua sudah terlambat. Di malam hari di kala mendapat teror, mereka percaya pada kekuatan mistis, namun anehnya setelah pagi datang, mereka juga lah yang menyangkalnya sendiri.

Jason Pagan, Andrew Deutschman, Adam Robitel, Gavin Hefferman, dan Brantley Aufill yang keroyokan menulis naskah menggantikan veteran Christopher Landon menggampangkan semua plot point yang menimbulkan inkoherensi. Belum lagi kemiripannya dengan 2 film horor klasik. Bagi yang sudah menantikan penyelesaian yang benar-benar signifikan, anda akan pulang dengan tangan hampa, karena alih-alih resolusi final, ending film malah ngegantung yang pada dasarnya sama persis dengan film-film sebelumnya.

Sutradara Gregory Plotkin menggantungkan filmnya pada jump-scares (yang sayangnya gampang diprediksi dan tak begitu menakutkan) serta suara yang menggelegar untuk menambal narasi yang tipis. Selain memperlihatkan furnitur yang terlempar ke arah anda, tak banyak kelebihan dari format 3D-nya yang hanya akan membuat adegan yang sebagian besar disorot dalam gelap, semakin tak jelas.

Lalu akankah film ini dapat bertahan melebihi seri tersanjung? Kita lihat saja nanti.