Browse By

Info Musik Pekan ini

Incoming: Danilla, Penyanyi Pendatang Baru Terbaik

Sulit untuk membayangkan bahwa biduanita yang telah merilis Telisik, salah satu album Indonesia terbaik rilisan 2014, baru merasa bisa menyanyi tiga tahun silam. Namun begitulah kenyataannya bagi Danilla Jelita Poetri Riyadi, yang lebih dikenal dengan nama depannya saja.

Tumbuh di keluarga musik—ibunya adalah Ika Ratih Poespa, dua pamannya masing-masing bernama Dian Pramana Poetra dan Henry Restoe Poetra serta neneknya, Sumiyati Sutiko, menyanyi keroncong pada dekade ’60-an—Danilla didorong untuk menjadi penyanyi oleh ibunda sejak dini.

Namun, menurut penuturan Danilla kepada Rolling Stone, ia dulu tak pernah mau menyanyi karena merasa nihil teknik. Sampai akhirnya, saat Danilla duduk di bangku SMP, sang ibu memberikan saran kunci yang mampu mengubah pendirian Danilla; bahwa menyanyi adalah modal rasa.

“Mama bilang, ‘Rasakan lagunya, nggak usah pedulikan suara fals.’ Perlu banyak latihan dan percobaan untuk bisa sampai ke sana. Tapi ketika akhirnya sampai, segalanya langsung terasa enak mengalir,” ungkap Danilla.

Ditambah lagi dengan dorongan dari Lafa Pratomo, produser untuk album Telisik, yang percaya bahwa Danilla bisa menjadi penyanyi penuh karakter. Sebetulnya tak sulit untuk menyadari potensi Danilla ketika sudah mendengar suara altonya. Berat, teduh, penuh perasaan, dan efektif karena tak bombastis; terasa pengaruh Diana Krall dan Astrud Gilberto di sana. Selain itu, gaya bernyanyi Danilla yang terkadang berbisik menimbulkan kesan personal terhadap lagu-lagunya; ia seakan berada di sebelah pendengar, mengajak berdialog secara intim.

Danilla pun menarik perhatian banyak kalangan, menerima pujian dari musisi tenar macam Endah N Rhesa, Mondo Gascaro, dan Sigit Agung Pramudita dari Tigapagi. Meski begitu, ambisi bukanlah bagian dari dirinya. Danilla menyanyi karena kecintaan tinggi terhadap bermusik. Baginya, bermusik bukanlah medium menuju popularitas, melainkan aktualisasi diri tempat ia benar-benar menemukan dirinya dalam musik.

(rollingstone.co.id)

2014 Menjadi Tahun Terlaris Penjualan Piringan Hitam

Selamat dari ancaman kepunahan pada dekade lalu, piringan hitam atau vinil mendapatkan kembali kepopulerannya secara signifikan sebagai salah satu format rekaman yang paling menjanjikan di era kini. Di tengah degradasi antusiasme publik untuk membeli album secara legal, penjualan vinil justru melonjak tajam pada 2014.

Menurut data yang dipublikasikan oleh Nielsen Soundscan, terdapat lebih kurang 9,2 juta album yang terjual dalam format vinil pada 2014. Mengingat hanya 6,1 juta album vinil yang terjual pada 2013, berarti persentase peningkatan penjualannya tak kurang dari 52 persen.

Kendati demikian penjualan 9,2 juta album itu hanya menyumbang 3,6 persen dari total penjualan album di dunia pada 2014, namun angka tersebut sudah menjadikannya rekor penjualan vinil terbesar sejak Nielsen mulai melakukan pantauan terhadap penjualan album pada 1991. Sebagai pembanding, hanya 0,2 persen sumbangan penjualan piringan hitam pada 2004.

Menurut Billboard, jika vinil paling laku pada 2013 adalah album Random Access Memories dari Daft Punk dengan 49 ribu keping, maka rekor tahun ini—sekaligus sejak 1991—dipegang oleh album Lazaretto dari Jack White dengan 87 ribu keping.

Di sisi lain, industri rekaman dan para pelakunya juga perlu mencatat fakta krusial bahwa jumlah penjualan unduhan berbayar di Internet pada tahun lalu turun 9 persen untuk penjualan album dan 12 persen untuk penjualan lagu.

Beranjak lesunya penjualan musik digital itu bukan tidak mungkin terdorong oleh jumlah penggunaan layanan streaming yang justru mengalami pelonjakan drastis, yakni 54 persen, dari 106 miliar lagu pada 2013  menjadi 164 miliar lagu pada 2014.

(rollingstone.co.id)

Secara Mengejutkan, Bjork Merilis Album Baru Versi Digital, ‘Vulnicura’

Bjork secara mengejutkan telah merilis versi digital dari album barunya, Vulnicura, padahal sebelumnya diberitakan baru akan dirilis pada Maret. Sekarang album ini sudah dapat dibeli melalui iTunes, sedangkan untuk versi CD dan piringan hitam tetap keluar pada Maret mendatang.

Dalam akun Facebook miliknya, Bjork menjelaskan kepada penggemar bahwa Vulnicura adalah album patah hati. “Saya menemukan bahwa sudah menulis album patah hati ini dari setahun lalu. Cukup mengejutkan bagaimana mendokumentasikan secara tepat sisi emosional saya. Seperti tiga lagu sebelum putus cinta dan tiga lagu setelahnya. Sisi antropolog saya keluar dan saya memutuskan untuk membaginya.”

“Pertama, saya khawatir kalau terlalu memanjakan diri sendiri, tapi kemudian saya merasa ini lebih universal. Mudah-mudahan lagu-lagu ini bisa menjadi bantuan untuk orang lain dan membuktikan bagaimana proses biologis seperti luka dan penyembuhan luka. Psikologis dan fisik. Sewaktu-waktu bisa rusak tanpa diketahui,” jelas Bjork seperti dikutip oleh NME.

Bjork juga membahas kerjasamanya dengan Arca dan The Haxan Cloak di album ini. “Dan ada hal ajaib yang terjadi. Setelah saya kehilangan, seseorang datang. Alejandro [Arca] mengontak saya pada musim panas 2013 dan berminat untuk bekerja dengan saya. Itu adalah waktu yang tepat. Untuk membuat ketukan untuk lagu, saya membutuhkan tiga tahun [Seperti di album Vespertine], tapi Arca menemui saya beberapa kali dan hanya butuh beberapa bulan untuk menyelesaikan seluruh album!!!”

“Ini adalah salah satu kolaborasi paling nyaman yang pernah saya lakukan! Lalu saya melanjutkan dengan menulis aransemen bagian string dan paduan suara lalu merekamnya di Islandia. Memasuki sesi akhir pembuatan album, saya mencari mixingengineerdan dikenalkan teman saya, Robin Carolan kepada The Haxan Cloak. Ia mengerjakan mixing album saya dan membuat satu ketukan untuk ‘Family.’ Bersama engineer Chris Elms, kami membentuk band saat proses mixing dan akhirnya abum ini selesai,” pungkas Bjork.

(rollingstone.co.id)