Instalasi Pengolahan Air Pontianak Timur akan Diresmikan Menteri

Pontianak – Instalasi Pengolahan Air (IPA) PDAM di Pontianak Timur rencananya akan diresmikan oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono dan Menteri Koordinator (Menko) Kesejahteraan Rakyat (Kesra), Puan Maharani, Jumat (9/12).

“Setelah itu kemungkinan dilanjutkan mengunjungi lokasi-lokasi yang mendapat fasilitas MBR. Peresmian itu sekaligus rencananya dilanjutkan dengan dimulainya pembangunan IPA 300 liter per detik di Imam Bonjol,” ujar Walikota Pontianak, Sutarmidji saat meninjau persiapan peresmian IPA yang terletak di Jalan Tanjung Raya II, Rabu (7/12).

Sutarmidji menambahkan, saat ini pihaknya sedang membangun booster PDAM di Jalan Karet Dalam. Ia berharap keberadaan booster berkekuatan 2.000 meter kubik ini, distribusi air lebih lancar terutama area RSUD Kota Pontianak, Nipah Kuning dan sekitarnya.

“Kita juga akan membangun booster di Pontianak Utara, tepatnya di sekitar Gang Flora,” sebutnya.

Tahun 2017, Pemkot telah menganggarkan lebih dari Rp 12 miliar untuk pemasangan pipa-pipa tersier di gang-gang. Menurut perkiraannya, dengan anggaran tersebut bisa mencapai 400 gang yang mendapat fasilitas air PDAM. Ia meminta, pemasangan pipa tersier itu diprioritaskan terhadap gang-gang.

“Kalau pun perumahan, itu perumahan bagi MBR. Bukan di perumahan yang menengah,” katanya.

Ia menekankan Dinas Pekerjaan Umum harus memberikan perhatian terhadap masyarakat yang selama ini belum dapat menikmati air bersih. Pihaknya memprioritaskan pembangunan jaringan PDAM di Pontianak Utara dan Timur serta sebagian di Pontianak Barat, terutama di kawasan-kasawan kumuh.

“Pontianak ini dua tahun ke depan harus bebas dari kawasan kumuh. Saya optimis itu bisa. Saya yakin dan sangat yakin itu bisa. Sebab kita melihat antusias masyarakat untuk bisa membangun kawasan kumuh,” ucapnya optimis.

Orang nomor satu di Kota Pontianak ini mengapresiasi peran serta masyarakat dalam menata kawasannya. Salah satunya, di Kawasan Sungai Putat Pontianak Utara. Ia menilai, semangat masyarakat untuk menata kawasan itu patut dicontoh oleh daerah-daerah lain.

“Semangat mereka untuk menjaga parit dan menjaga lingkungannya itu patut dicontoh. Hanya butuh sedikit sentuhan dari Pemkot untuk memoles kawasan tersebut,” terang Sutarmidji.

Dirinya juga memberi apresiasi camat dan lurah yang tidak henti-hentinya melakukan pendekatan kepada masyarakat, melakukan inovasi-inovasi dalam percepatan pembangunan dan penataan lingkungan. Diakuinya, memang masih ada kendala-kendala terutama masyarakat yang tidak peduli dengan kawasannya, itu juga menjadi kendala bagi Pemkot.

“Tahunya mengunggah suatu kawasan yang becek, yang rusak tetapi dia tidak tahu apa-apa,” ungkapnya.

Mengunggah keluhan-keluhan di media sosial, dinilainya bukan solusi untuk cepat ditangani sebab Pemkot Pontianak sudah memiliki sistem. Sekalipun jalan itu hancur lebur seperti sawah, jika tidak pernah diusulkan dan diprogramkan di dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (musrenbang), maka pihaknya tidak akan membiayai dari APBD sebab sistem dan program yang sudah dibangun harus diterapkan oleh semua pihak.

“Di sinilah peran RT/RW, lurah dan camat dibutuhkan. Masyarakat pilihlah RT/RW yang betul-betul peduli terhadap lingkungan. Bukan hanya menyampaikan keluhan kepada pemerintah,” ungkap Midji.

Peran RT/RW adalah bagaimana mereka bisa membuat imbal swadaya. Misalnya, mereka ingin membuat saluran di lingkungannya. Kemudian mereka secara bergotong royong siap mengerjakannya, sementara Pemkot membantu materialnya.

“Kan itu ada suatu percepatan. Apabila ada kendala satu saluran di titik-titik tertentu karena masyarakatnya tidak mau dilalui saluran itu, inilah yang harus dirembukkan oleh RT/RW. Jangan semua keluhan ke camat atau wali kota,” katanya.

Menurut Sutarmidji, bagaimana pun infrastruktur jalan itu pendongkrak pertumbuhan ekonomi yang paling vital. Ia tidak menginginkan ada jalan yang kondisinya tidak baik. (Wati Susilawati)