Jadi Penyiar Itu Ga Gampang

Jadi Penyiar itu Ga Gampang

Enak yaa sepertinya jadi penyiar. Kerjanya cuma ngomong, muterin lagu, udah deh.

Seperti itu juga ya mikirnya? Padahal, tak semudah itu looh menjadi penyiar. Ada beragam kisah di balik bilik studio.

Yang tampak dan yang terdengar, profesi penyiar sepertinya ya memang sekedar ngomong plus memutarkan lagu untuk pendengar. Faktanya, menjadi penyiar tidak cukup hanya dengan modal suara. Karena, tidak semua orang bersuara mikrofonis punya rasa percaya diri yang oke untuk bicara di depan publik, meskipun yang terdengar hanya suara. Selain suara dan kepercayaan diri, seorang penyiar juga harus terus memperkaya diri dengan wawasan supaya suara mikrofonisnya berfaedah.

Bukan itu saja, berdasarkan pengalaman saya menjadi penyiar di Radio Volare Pontianak sejak tahun 2004, masih banyak lagi keterampilan lain yang sebaiknya dimiliki penyiar. Keterampilan bersosialisasi, misalnya. Mentang-mentang kerjanya lebih banyak di studio, bukan berarti skill sosialisasi menjadi tak berguna loh. Justru penyiar lah yang sangat perlu keterampilan ini, terutama ketika bersiaran dengan rekan penyiar lain. Tak mudah loh menumbuhkan chemistry di udara, apalagi kalau sehari-hari jarang bertemu dan berkomunikasi. Gagal membangun chemistry yang oke dengan tandem siaran, bisa bikin bad mood berkepanjangan.

Keterampilan bersosialisasi dan berkomunikasi juga diperlukan  saat memandu program talkshow yang melibatkan tamu dari luar, yang bisa jadi, adalah pertama kalinya bagi mereka bersiaran di radio. Mengoperasikan peralatan siaran sambil mengajak tamu ngobrol supaya mereka tak merasa dicuekkin terutama saat off air bukanlah hal mudah. We need a great multi-tasking skill to do it.

Bukan saat off air saja, tamunya kita undang hadir di studio kan untuk berbagi ilmu dan cerita di udara. Maka sebagai penyiar yang memandu acara, kita harus cerdas mengolah kata, tanggap merespon jawaban, dan kritis tapi tetap sopan dengan tamu. Saya sendiri hingga kini masih belajar nih untuk poin ini.

Hal penting lainnya yaitu KOMITMEN. sepertinya, bukan hanya menjadi penyiar saja yaa yang perlu komitmen. Semua profesi sepertinya mewajibkan ini. Ketika kita sudah memilih untuk bergabung di dunia penyiaran, komitmen kita lah yang pada akhirnya akan menentukan berapa lama kita sanggup bertahan menjadi penyiar. Kalo dari pengalaman pribadi saya, komitmen berbanding lurus dengan passion terhadap dunia siaran. Saya sendiri, meskipun siaran sudah bukan lagi aktivitas utama, namun masih cinta dunia siaran sehingga saya cukup sulit melepas diri dari dunia siaran. Saking tetap ingin paling tidak sepekan sekali bersiaran, saya berpesan pada semua rekan yang mengaturkan jadwal mengajar saya agar tidak ada kelas di hari Kamis malam, karena hari itu adalah satu-satunya jadwal saya siaran 😁😄

Belum lagi kalau tanggal merah atau libur panjang. Orang-orang pada liburan, para penyiar ya liburannya dengan bersiaran 😂. Apalagi kalau hari libur ditambah hujan deras sedangkan mobil belum punya, berangkat siaran hujan-hujanan deh. Menggigil di studio saat musim hujan itu sudah biasa bagi kami para penyiar Radio Volare. Semua itu kami lakukan demi siapa lagi kalau bukan demi menemani Bujang Dare yang setia menyimak siaran kami 😊 Thanks for always listening us!

Jadi, masih tetap yakin untuk menjadi penyiar di Radio Volare? Yuk, dicoba. Siapa tau rejeki dan passionnya memang ada di dunia siaran 😉