Kerukunan Adat Batak Kalbar Akan Gelar Festival Seni Budaya

Pontianak – Dalam rangka pelesterain budaya sebagai peninggalan,warisan nenek moyang diperlukan sebuah langkah nyata. Pesatnya kemajuan teknologi mau tidak mau telah banyak membawa perubahan kebiasaan hidup masyarakat kita, bahkan ada beberapa fakta hilangnya budaya yang memiliki nilai nilai tinggi. Hal ini dapat dirasakan di tengah kehidupan saat ini, menurunnya rasa kepedulian serta minimnya rasa gotong royong adalah contoh nyata pengaruh budaya luar serta kemajuan teknologi yang demikian derasnya. Namun, sebagai bangsa yang besar serta memiliki kekayaan akan keanekaragaman budaya, tentu kita dituntut untuk berperan serta melestarikan budaya itu sendiri.

“Tanpa bermaksud menolak arus budaya luar, diharapkan segenap anak bangsa semestinya memiliki sikap dan tanggung jawab dalam rangka pelestarian budaya titipan pendahulu kita,” kata Ketua DPD Kerukunan Masyarakat Batak (KERABAT) Kalbar, Rihat Natsir Silalahi. Ia mengungkapkan, kekayaan budaya yang diwariskan para leluhur dan pendahulu kita tentu memiliki ragam serta ciri tersendiri. Antara satu suku dengan suku yang lain tentu memiliki keanekaragaman dan hal itu merupakan kekayaan bagi bangsa ini.

Suku Batak yang sejak zaman sebelum kemerdekaan telah banyak terlibat serta berperan dalam berbagai aspek kehidupan di negeri tercinta ini, juga memiliki budaya yang sangat arif, dimana suku Batak yang terdiri dari sub suku Toba, Simalungun, Karo, Mandailing, Pak Pak dan Nias memiliki budaya masing-masing. “Setiap sub suku di Batak memiliki filosofi tersendiri. Sebut saja contohnya sub suku Batak Toba dengan filosofi ‘Dalihan Na Tolu’ yang bermakna ‘sobba marhula hula, manat mardongan tubu, elek marboru’  dimana bila diartikan secara sederhana dapat bermakna hormat kepada atasan, saling menghargai sesama teman/sahabat, senantiasa membimbing dan mendukung kepada bawahan,” papar Rihat.

Rihat mengatakan, Pagelaran Festival Seni Budaya Batak merupakan bagian dari kepedulian orangtua untuk mempertahankan kearifan lokal khususnya seni budaya Batak. “Orang tua harus mewariskan kearifan lokal itu kepada anak cucu, generasi muda. Kearifan lokal tidak lekang karena panas dan tidak luntur di kala hujan. Artinya seni budaya juga mampu membangun karakter mulia,” kata mantan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalimantan Barat tersebut.

Pada kesempatan itu, Rihat menyampaikan harapannya kepada seluruh warga Batak di Kalbar untuk mendukung penuh event nanti. “Terima kasih atas ketulusan, keterbukaan hati dan spontanitas kita memberikan sesuatu yang berharga. Semangat gotong royong tetap kita pupuk menapak masa depan, yang tentu saja berlandaskan adat dan martabat,” kata Rihat. (Wati Susilawati)