Laporan Hari Pertama Borneo Jazz Festival 2016, 2000 orang puas!

Sebelum memulai konsernya di Borneo Jazz Festival 2016, press conference dilaksanakan di ruang media (Lambir room) yang menghadirkan 5 grup jazz; Gallo Manou Groove Orchestra (Ivory Coast & Belgium), Raw Earth (Singapore), Yuichiro Tokuda’s RALYZZDIG (Japan), Funkatorie (Malaysia), O Sister! (Spain) yang di mulai pukul 11.00 dan dihadiri seluruh awak media dan anggota grup. Acara ini sudah di tunggu banyak awak media yang ingin lebih mengetahui lebih dalam mengenai artis dan musik yang mereka bawakan.

DSC00738
Press Conference hari pertama Borneo Jazz festival 2016

Gallo Manou menjelaskan bagaimana 4 orang wanita yang mempunyai kemampuan bermusik dan mempunyai karakter musik yang berbeda disatukan dalam bahasa musik. Kemampuan bermusik mereka menghadirkan alunan musik yang berjalan beriringan. Sentuhan feminisme juga terasa dalam setiap nadanya. Lain lagi dengan Yuichiru yang memasukkan unsur tradisional Jepang untuk memperkaya musiknya. Kedalaman pemahaman bermusik dan pengetahuannya bermusik diterapkan dalam nada yang dihasilkan, hal ini juga di amini Raw Earth. Sedangkan Funkatorie lebih ingin menghadirkan jazz yang lebih fun untuk dinikmati dengan fusion musik yang beragam. O Sister juga tidak mau kalah dengan menghadirkan Jazz klasik di tahun 20an yang penuh kegembiraan dan keceriaan.

Selesai menghadiri media juga mendapat hidangan lezat berupa sandwich keju, cupcake coklat dan ada bihun goreng bergaya hongkong yang gurh dan penuh udang segar. Kopi dan teh serta susu segar menjadi teman yang menyenangkan setelah selesai berinteraksi. Di sini juga awak media dan artis masih bisa berbincang lebih dalam sembari menikmati cemilan. Di sini ruangan media ini juga disediakan ruangan khusus untuk radio interview dengan lebih nyaman.

Menunggu sore hari untuk penampilan pertama sembari melihat matahari terbenam sungguh menyenangkan. Chung Hua Miri Matching Band sendiri punya 120 anggota dan terdiri dari 90 musisi dengan alat musik orkestra lengkap. Kemampuan mereka terlihat sangat kompak dengan alunan musik yang dihasilkan. Musik klasik di buat dengan aransemen yang lebih modern. Ada 10 lagu yang dimainkan dengan 5 konduktur yang memandu secara bergantian. Gaya bermusik anak muda di bawakan dalam bentuk orkestra dengan balutan baju ungu dan hitam di udara terbuka di tepi pantai. Pembukaan yang menyenangkan.

DSC00882
USM Mini Big Band membuka Borneo Jazz Festival

Berpindah ke panggung utama, penampilan di buka oleh sekumpulan anak muda yang tergabung di USM Mini Big Band. Ini adalah representasi dari band besar yang dipersempit dengan 10 orang saja. Prof Jeep sang arranger berada di balik keyboard. Suasana panggung dengan kerlap kerlip lampu mulai menghangatkan suasana. Saya tertarik dengan alunan saksofon dan suling dari bibir dua orang wanita di panggung. Saya sendiri lebih banyak melihat saksofonist pria daripada wanita. Penampilan yang hangat.

DSC00892
Prof Jeep dari USM Mini Big Band

Lain lagi dengan penampilan O Sister! Yang sangat menarik. Saya langsung tak bisa lepas dari panggung. Grup Spanyol yang terdiri dari 7 orang ini menghadirkan 3 vokalis (2 wanita 1 pria) dengan perpaduan suara trio yang apik. Suara gitar ala spanyol dimasukkan dalam alunan musik dixie dan swing ala 20an membuat saya tidak berhenti menggerakkan tubuh mengikuti suasana musik yang ceria. Lirik yang lucu dengan gaya penyanyi yang atraktif membuat festival goers harus bertepuk tangan riuh rendah berkali-kali.

DSC00919
Vokalis O! Sister
DSC00916
Pemain gitar O! Sister

A.P.I hadir dan langsung menghipnotis dengan alunan suara suling dan gumaman wanita dari akar budaya India dipadu dengan suara tetabuhan gentong tanah liat yang rancak bertalu talu namun unsur jazz dari keyboard dan gitar bass yang mengiringi ditambah dengan permainan saksofone yang luar biasa. Permainan personal masing-masing juga menunjukkan kelas dan kemampuan mereka. Justin sang penabuh gentong tanah liat beradu dengan suara dengan peniup seruling saling bersahut-sahutan. Sungguh menarik dan membuat terpana.

DSC00981
A.P.I in action
DSC00970
Pemain Sulin india dari A.P.I
DSC00960
Saxsofone A.P.I

Lalu bagaimana dengan Yuichiro Tokuda’s RALYZZDIG? Musik progresive jazz langsung berkumandang. Musisi cerdas yang pernah bersekolah musik di Berklee University ini menunjukkan kelasnya. 4 orang anggota lainnya juga punya kemampuan bermusik yang luar biasa. Gaya cutting edge jazz music terasa kental. Yuichiro sendiri memanikan saksofone sembari bernyanyi tapi selain penampilannya saya juga sangat tertarik dengan penggebuk drum yang mampu memainkan nada cepat dan pelan dalam waktu bersamaan. Dari kelembutan hingga musik yang menghentak kencang.

DSC00992
Yuichiro Tokuda
DSC00989
Pemain Gitar Yuichiro Tokuda
DSC01000
Yuichiro Tokuda Pianist

Satu lagi penampilan yang luar biasa dan menutup Borneo Jazz Festival ini dengan sempurna. Manou Gallo Groove Orchestra. Dominasi musisi perempuan langsung terasa saat 4 wanita dengan gitar, bass, perkusi dan vokal serta biola bass. Sementara 3 pria menjadi trio terompet dan 1 penabuh drum. Semuanya bermain sangat cantik. Entah bagaimana saya harus menulisnya, yang jelas perpaduan antara blues, funk, soul dan musik dari afrika serta tentu saja tetap dengan garis merah musik jazz. Manou Gallo mampu membuat semua penonton menari, menyanyi, berteriak mengikuti musik yang dimainkan. Sampai di akhir pun penonton berteriak kembali meminta mereka untuk bernyanyi kembali. Manou Gallo benar-benar menutup acara di stage ini dengan meriah. Paling tidak, lebih dari 2000 orang memadati lapangan ParkCity Everly Hotel Miri ini.

DSC01031
Manou Gallo
DSC01023
Manou Gallo
DSC01020
Manou Gallo

Saya bergerak ke Ruai Bar setelah acara ini berlangsung karena ada perpaduan penampilan musisi yang masing-masing menunjukkan kebolehannya. Kolaborasi ini memang membuat orang banyak harus kembali berkumpul di sini. Banyak sekali alunan musik dan suara yang mengejutkan. Permainan musik tanpa rencana tapi menghadirkan kompilasi terbaik. Pukul dua pagi keseruan ini berakhir dan semua bersiap untuk konser hari kedua. (Dony Prayudi)