Manfaatkan SDM Lokal Kelola Smart City

Pontianak – Konsep smart city sejatinya adalah bagaimana mengelola kota dengan berbagai sumber daya yang dimiliki, baik sumber daya alam, sumber daya manusia, sumber daya waktu dan sumber daya lainnya untuk menjadikan kehidupan masyarakatnya aman, nyaman dan bahagia.

Penggagas Smart City, Suhono S Supangkat, menilai, yang terpenting dari konsep smart city adalah bagaimana mengelola sumber daya yang dimiliki dengan cara mengetahui persoalan, kemudian mempelajarinya hingga memahaminya, dan melakukan aksi dengan benar. “Inilah konsep smart city, mengelola kota dengan berbagai sumber daya yang dimiliki supaya bersih, yang belum bekerja mendapat pekerjaan, belajar, start up, mengatur jalan yang benar, mengelola sampah dengan benar dan sebagainya,” ujarnya usai pembukaan Pontianak Digital Week 2016 di Taman Alun Kapuas, belum lama ini.

Menurutnya, tujuan dari pemanfaatan teknologi digital adalah bagaimana mensejahterakan masyarakat. Sedangkan digital hanya sebagai alat bantu atau enabler. Kendati ia tidak menampik bahwa teknologi digital penting dalam penerapan smart city namun bukan merupakan tujuan utama. “Yang menjadi tujuan adalah hidup kita menjadi lebih enak, lebih baik. Sampah dikelola dengan benar maka perlu teknologi digital. Sampah ada di mana, diketahui di mana, Pak Wali mendapat laporan melalui sarana digital seperti Whatsapp atau media sosial lainnya, kemudian langsung direspon dan diteruskan kepada SKPD yang bertanggung jawab terhadap permasalahan yang dilaporkan,” jelasnya.

Walikota Pontianak, Sutarmidji mengatakan, tujuan smart city adalah untuk percepatan kesejahteraan dan kenyamanan masyarakat. Teknologi apapun yang digunakan tetapi bila tidak bisa menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat, maka teknologi itu tidak ada manfaatnya. “Jadi manajemen yang baik, didukung dengan teknologi dan aplikasi yang benar, itu akan memberikan percepatan pencapaian kesejahteraan dan kebahagiaan,” tuturnya.

Ia mengapresiasi tingkat partisipasi masyarakat Pontianak yang dinilanya sudah bagus, disiplin masyarakat sudah semakin baik dan Pontianak termasuk kota yang lebih bersih dan tak kalah dengan kota-kota lainnya di Indonesia. “Taman-taman maupun area publik semakin kurang penjaganya dikarenakan tingkat kesadaran masyarakat semakin meningkat,” imbuhnya.

Senada dengan Suhono, Sutarmidji menilai aplikasi-aplikasi yang sudah diciptakan tersebut hanya sebagai alat bantu untuk mempermudah. Karenanya, ia tidak ingin ketergantungan dengan teknologi ketika menangani suatu persoalan untuk melayani masyarakat. Sebab menurutnya, dalam melayani masyarakat, butuh langkah-langkah cepat dan itu tidak mesti melalui aplikasi atau teknologi. “Tapi bisa saja dengan langkah bijak, bicara dari satu hati ke hati juga bisa dilakukan,” katanya.

Pendekatan-pendekatan dengan diskusi dinilainya bisa mengubah pola pikir atau mindset seseorang dengan mengajaknya berpikir maju. Itu juga merupakan salah satu bagian dari smart city. Diakuinya, dalam menjalankan tugasnya selaku kepala daerah, ia kerap memanfaatkan media sosial seperti WhatsApp untuk menerima laporan bawahan atau masyarakat, kemudian langsung meminta kepala SKPD menindaklanjuti laporan tersebut. “Dalam waktu enam menit setiap laporan direspon jajaran terkait,” pungkasnya. (wti)