Peringatan Hari Kartini: Perempuan Berjuang Melalui Politik

Pontianak – Momentum hari Kartini setiap tahunnya tidak hentinya diperingati sebagai hari kebangkitan kaum perempuan Indonesia. Peringatan Hari Kartini diharapkan bukan hanya secara seremonial saja, namun menjadi momentum sebagai penguatan Pemberdayaan dan kemandirian perempuan seperti yang menjadi cita-cita Kartini, terutama perjuangan  dalam bidang Politik.
Hal tersebut disampaikan anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) dapil Kalbar, Hj. Rubaety Erlita Prabasa, S.Sos.I, S.H saat dimintai tanggapan terkait peran perempuan di momentum hari Kartini yang jatuh pada hari Kamis (21/4).
“Hari Kartini setiap tahun jangan hanya kita maknai secara seremonial saja, namun menjadi momentum sebagai penguatan pemberdayaan dan kemandirian perempuan seperti yang menjadi cita-cita Kartini. Khusus untuk perempuan di Kalimantan Barat, kita harapkan agar perempuan mampu berdaya dan berjuang secara politik, dengan cara mengambil peran-peran politis baik di legislatif maupun eksekutif,” ungkap Rubaety, yang juga anggota Kaukus Perempuan Parlemen Republik Indonesia (KPPRI) ini.
Perempuan, kata Rubaety memiliki peluang yang besar untuk berada di legislatif  maupun eksekutif di berbagai tingkatan. Sebab secara demografi, penduduk Indonesia lebih banyak perempuan dibanding laki-laki. Hanya saja kekuatan politik perempuan diakuinya belum terkonsolidasi dengan baik sehingga berbagai kebijakan affirmative action untuk perempuan belum dapat dimanfaatkan secara optimal.
Begitu juga kesadaran dan kapasitas politik perempuan perlu terus ditingkatkan. Sehingga ketika duduk di lembaga legislatif, eksekutif maupun yudikatif dapat memberikan kontribusi terhadap perubahan arah kebijakan yang mampu mendorong peningkatan partisipasi politik perempuan.
“Partisipasi yang dimaksud tidak sekadar ikut bertarung dalam perebutan kursi kekuasaan tetapi lebih penting aktif dalam proses pembangunan di segala bidang,’’ imbuhnya.
Ditambahkannya, tahun 2017 masyarakat Kalbar kembali akan menggelar Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) secara serentak, setelah sebelumnya Pilkada serentak diadakan pada tahun 2015 lalu. Momentum itu merupakan salah satu hal penting untuk memperjuangkan perempuan. peran-peran politik perempuan di politik tentu bukan sesuatu yang “given”, untuk itu perlu diperjuangkan.
“Perempuan harus mengambil peran sebagai calon kepala daerah baik melalui jalur partai politik maupun jalur independent. Jika perempuan memiliki keterwakilan yang cukup, maka akan mudah membuat kebijakan-kebijakan untuk kepentingan perempuan yang selama ini masih banyak yang perlu diperjuangkan seperti, kurangnya perhatian pemerintah kepada organisasi keperempuanan, angka kematian bayi dan ibu melahirkan yang masih tinggi, kekerasan dalam rumah tangga, pemberdayaan ekonomi perempuan dan lainnya,” papar Rubaety.
Selama ini Rubaety juga melihat bahwa perhatian pemerintah terhadap perempuan masih minim. Terutama kepada organisasi-organisasi keperempuanan. Organisasi-organisasi keperempuanan sulit melakukan aktifitas karena kekurangan dukungan. Untuk itu dalam momentum hari Kartini ini ia mengajak masyarakat, khususnya perempuan untuk berdaya secara politik dan menyambut pilkada serantak demi kemajuan perempuan. Serta mengajak masyarakat untuk mengapresiasi,  mencalonkan dan memilih perempuan sebagai calon Kepala Daerah di Kabupaten / Kota yang akan menyelenggarakan Pilkada serentak nanti.
“Jika memungkinkan tidak hanya Pilkada Kabupaten Kota saja, saat Pilgub nanti juga ada calon Perempuan yang akan maju. Kenapa tidak? Banyak di daerah-daerah lain kepala daerahnya juga perempuan. Dan saya yakin jika diberi kesempatan perempuan juga dapat memegang amanah dengan baik. Semangat itu merupakan manifestasi cita-cita Kartini yang menginginkan emansipasi wanita disegala bidang kehidupan,” pungkasnya. (Wati Susilawati)