Pontianak Deflasi 0,51 Persen

Pontianak – Kepala Badan Pusat Statistik (BPK) Provinsi Kalbar, Pitono di Pontianak, Senin, menyatakan deflasi terjadi karena adanya penurunan indeks pada tiga kelompok pengeluaran, yakni bahan makanan minus 0,85 persen; perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar minus 0,13 persen; kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan minus sebesar 2,10 persen.
Sementara itu untuk kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks, yaitu makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,32 persen; sandang 0,28 persen; kesehatan 0,28 persen; dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga tidak mengalami perubahan indeks dari bulan sebelumnya, yakni sebesar 0,00 persen.
“Untuk tingkat inflasi tahun kalender April 2016 sebesar 0,10 persen, dan tingkat inflasi tahun ke tahun, yaitu April 2016 terhadap April 2015 sebesar 3,82 persen,” ungkapnya.
Pitono menambahkan, beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga, yaitu tertinggi dari harga bawang merah, wortel, bawang putih, minyak goreng, mobil, pisang, kontrak rumah, apel, tomat sayur, udang basah.
Sedangkan komoditas yang mengalami penurunan harga, yakni tertinggi premium, daging ayam ras, sawi hijau, angkutan udara, tarif listrik, cabai rawit, kacang panjang, ikan kembung, kangkung, dan telur ayam ras.
Perbandingan inflasi antar kota sepanjang April 2016, sebanyak lima kota mengalami inflasi, dan 77 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi di Kota Tarakan sebesar 0,45 persen, dan terendah terjadi di Kota Banjarmasin 0,04 persen, kata Pitono.
“Deflasi tertinggi di Kota Sibolga minus sebesar 1,79 persen, dan terendah di Kota Singaraja minus sebesar 0,06 persen,” ujarnya.
Untuk perbandingan antarkota di Pulau Kalimantan, yakni inflasi tertinggi di Kota Tarakan 0,45 persen, dan terendah di Kota Banjarmasin 0,04 persen. “Kemudian deflasi tertinggi di Kota Pontianak minus sebesar 0,51 persen, dan terendah di Kota Tanjung minus sebesar 0,16 persen,” kata Pitono. (Wati Susilawati)