Browse By

Review Film A Monster Call @dodon_jerry

Film tentang bocah dan monster sudah cukup banyak beredar di Hollywood. Ada yang lucu dan cocok di tonton anak-anak adapula yang justru jadi bahan tontonan dewasa karena terlalu seram.

Satu lagi film tentang relasi bocah dan monster, setelah BFG dan Pete’s Dragon, kini giliran Juan Antonio Bayona, sutradara asal Spanyol yang sebelumnya terkenal berkat horor ciamik The Oprhanage-nya unjuk gigi dengan A Monster Calls. Tetapi berbeda dengan dua koleganya, A Monster Calls yang merupakan adaptasi dari novel milik Patrick Ness ini jauh dari kesan ceria.

Menghadirkan tema low fantasy, yang berarti batasan-batasan antara dunia nyata dan fantasi terasa kabur tanpa ada penjelasan rasional tentang sebab akibatnya membuat narasi A Monster Calls terasa lebih kompleks untuk disantap para penonton muda, apalagi ia memuat cerita tentang pencarian jati diri seorang bocah 12 tahun yang harus berjibaku dengan dirinya sendiri yang tengah gundah karena sang ibu tercinta tengah sekarat karena kanker ganas.

Ini bukan cerita tentang relasi bocah dan monster yang sering kamu temui. Muatan drama coming of age dengan nuansa fantasi gelap dan tema-tema depresif membuatnya mungkin akan terasa berat namun bukan berarti kamu tidak bisa menikmatnya. Kudos buat penyutradaraan apik Bayona dan akting kuat para pemainnya yang mampu menghadirkan pesan tentan kedewasaan dan emosi menonjok.

Menyaksikan A Monster Calls memang dibutuhkan suatu kepekaan nurani. Dibutuhkan sebuah sensitivitas dalam mengenali berbagai semiotika kehidupan dan alegori emosional yang tersembunyi dalam suguhan visual memukau. Film ini bukanlah sebuah film fantasi berbujet mahal biasa. Anda akan dibuat menjelajah setiap sajian visual, menanyakan apa maknanya dan lalu membuat Anda merenung hingga akhir kisahnya usai.

Conor adalah seorang anak tak beruntung. Ayahnya (diperankan oleh Toby Kebbell) meninggalkan dia saat masih kecil. Conor adalah produk dari hubungan gejolak jiwa muda. Saat kedua orangtuanya mengambil keputusan untuk mengejar ambisi masing-masing, Con lalu yang menjadi korban.

Ada sebuah sentilan kepada generasi muda yang memutuskan untuk menikah muda dalam film ini. Sebuah sentilan yang akan membuat kaum muda memikirkan kembali keputusan untuk menikah dan membangun sebuah keluarga. Apakah secara emosional kita bisa memikul tanggung jawab? Apakah keputusan itu hanya berlandaskan gejolak jiwa muda yang masih menggebu-gebu? Atau merupakan sebuah keputusan yang lahir dari proses menimbang dan mengukur? Con adalah contoh dari sebuah generasi yang lahir dari sebuah keputusan terburu-buru.

Jauh dari kasih sayang seorang ayah dan kelembutan seorang ibu yang harus berjuang melawan penyakit, Con lalu bak pohon muda yang kering. Dia gemar menyendiri. Satu-satunya tempat dia menumpahkan isi hati adalah lewat medium kertas yang ia penuhi dengan berbagai sketsa cat air. Sketsa yang mewakili kegundahan hatinya. Sketsa yang lahir saat dia menyaksikan penderitaan ibundanya yang berjuang melawan sakit.

Con yang masih teramat muda belumlah mengerti apa yang dirasakan oleh ibundanya. Dia hanya tahu sebagian kecil saja saat mendengar perbincangan ibunya dengan sang ayah. Atau lewat pembicaraan sang ibu dengan neneknya (diperankan oleh Sigourney Weaver). Con hanya bisa mengintip lewat celah pintu yang terbuka dan melihat bahwa sosok ibunya kini semakin lemah. Con masih dianggap terlalu kecil untuk mengetahui yang sebenarnya. Tapi orang dewasa tak pernah mengetahui bahwa kejadian itu membuat dia sebagai pihak yang paling menderita. Tak ada orang dewasa yang memahaminya. Tak ada orang dewasa yang mau meluangkan waktu sebentar untuk mendengarkan jeritannya.

 Satu-satunya yang mau mengajaknya bicara adalah sesosok monster berwujud kayu yew (taxus baccata ) yang menjulang tinggi, bermata merah dan ronga-rongganya mengeluarkan cahaya merah menyala. Sesosok monster yang wujudnya seperti gabungan antara Groot, Ent di trilogi Lord of The Rings dan mahluk Swamp Thing di komik DC. Monster yang disuarakan oleh Liam Neeson ini selalu muncul saat Con memanggil dan sudah dihimpit amarah tak terkendali. Monster Yew ini lalu menceritakan tiga buah kisah. Saat ketiga kisah itu sudah selesai, Monster Yew mengharuskan Con menuturkan kisah keempat. Kisah keempat yang hanya bisa diceritakan bila Con sudah mengerti apa yang dialaminya. Saat Con sudah bisa memaknai hidup dan jujur pada diri sendiri.

Surprisingly, A Monster Calls adalah sebuah film yang sangat indah dan menyentuh tentang bagaimana seorang anak menghadapi pengalaman pahit dalam hidup. Dibungkus dalam balutan fantasi dengan visual yang menakjubkan, terutama dengan suara bass khas Liam Neeson yang menenangkan. Kesabaran jelas dibutuhkan untuk mengikuti dan memahami cerita yang dibangun secara perlahan namun pasti mengenai Connor dan orang-orang di sekelilingnya. Tetapi kemudian semua itu terbayar dengan maksimal pada akhir cerita yang sangat menyentuh.

Di samping penuturan cerita yang terkesan lamban, setengah film pertama juga terlihat fokus cerita yang jelas. Hadirnya karakter-karakter lain seperti teman-teman sekolah dan sang ayah dengan waktu tayang yang banyak, membuat fokus cerita menjadi kabur. Padahal inti cerita dari kisah ini adalah hubungan antara Connor dengan ibunya – yang seharusnya diberikan porsi dan pondasi yang kuat di awal film. Beruntungnya, hal ini terbayar di akhir film dengan deretan adegan yang membuat setiap orang yang memiliki ibu akan mengelus dada dan menahan air mata.

A Monster Calls adalah Pan’s Labyrinth (2006) tanpa horor dan thriller, atau Where the Wild Things Are (2009) tanpa kenakalan khas anak kecil. Berdiri dengan kakinya sendiri, A Monster Calls adalah kisah yang jenius dan heart-warming mengenai cara menghadapi duka atau grief khusus untuk anak-anak. Di sisi lain, kisah Connor juga bisa menjadi inspirasi bagi setiap orang tua mengenai bagaimana caranya untuk mempersiapkan anak-anak mereka dalam menghadapi hal pahit dalam hidup. Film ini jelas membuka pintu kepada banyak orang untuk memahami lebih jauh kisah Connor dalam novelnya yang berjudul sama.