Browse By

Review Film Beauty and the Beast by dodon_jerry

Film yang akan saya ceritakan adalah film remake yang tentu sudah tidak asing lagi ‘Beauty and the beast’ yang soundtrack lagunya melegenda dan sering sekali didengar di acara pernikahan. Cerita 1001 malam yang sudah diangkat menjadi film animasi, drama, panggung broadway dan masih banyak lagi yang lain ini tidak perlu saya ceritakan jalan ceritanya lagi karena sudah pasti bisa ditebak bagaimana akhir ceritanya.

Emma Watson, definitely is the right Belle. Karakter aslinya yang sudah menawan dari sananya dan (kebetulan) punya kebiasaan doyan membaca buku, membuat Emma seakan tak perlu bersusah-payah memainkan karakter Belle. Hanya saja perannya ini juga mengingatkan kita dengan karakternya sebagai Hermione Granger yang pernah diperankannya dalam francise film Harry Potter. Cantik, smart, dan pemberani. It’s so Emma! Selain dimanjakan dengan pesona Emma Watson, kamu juga akan dihibur dengan karakter-karakter lain yang tak kalah mencuri perhatian.

Dalam versi live actionnya karakter Beast terlihat lebih menakutkan. Beast hadir dengan tampilan lebih sangar, kuku dan taring tajam, serta suara berat yang membuat kesan Beast lebih menyeramkan terutama di awal-awal kemunculannya. Sementara itu karakter Gaston juga sukses diperankan Luke Evans yang mampu menampilkan dengan baik sifat congkak Gaston. Layaknya film-film live action lainnya, Beauty and the Beast tidak terlepas dari sentuhan CGI. Sayang sapuan CGI pada penampilan Beast dan beberapa hewan terlihat kurang smooth. Filmnya juga cenderung mengangkat nuansa dark, namun cepat berganti seiring dengan perpindahan setting cerita. Acungan jempol patut disematkan pada tim artistik dan wardrobe yang mampu menampilkan nuansa fairy tale khas Disney. Seperti dalam film animasinya, film ini juga mengambil setting cerita di sebuah desa di Prancis. Namun jika kamu jeli, kamu pasti akan merasa aneh dengan gaya bicara Belle yang kental dengan aksen British padahal ia tinggal di Prancis. Tapi sudahlah tidak perlu terlalu dipikirkan, nikmati saja keindahan filmnya.

Secara visual, seluruh adegan terekam dengan apik. Warna dan suasana tiap adegan terasa hidup, belum lagi adegan Belle ketika ia tinggal di istana yang megah nan suram. Diusung warna emas dan merah, istana tersebut mengingatkan kita pada istana di film animasinya terdahulu. Musik tidak lepas dari flim berdurasi 2 jam 9 menit itu. Hampir seluruh adegan kaya akan musik yang beragam, mulai dari instrumentasi orkestra hingga nyanyian yang keluar dari mulut para pemain. Kesan pertama seperti menyaksikan film ‘La La Land’. Tapi tentu saja, ‘Beauty and the Best’ sudah lebih dulu terkenal dengan tema musikalnya, begitu juga dengan film-film Disney Classics lainnya. Dan jangan khawatir. Alan Menken yang menangani urusan musik di film animasi ‘Beauty and the Beast’ kembali diturunkan untuk memperindah musik di film live action ini.

‘Beauty and the Beast’ benar-benar penuh warna. Megah, mewah, dan menyenangkan adalah tiga kata yang tepat untuk merepresentasikan tiap adegan film tersebut. Di balik segala kontroversinya terutama karena memuat karakter LGBT, Beauty and the Beast terbukti sukses menampilkan film musikal yang indah, apalagi lagu-lagu yang ditampilkan juga sukses membuat kita bernostalgia. Sebagai catatan, jangan berharap lebih dari segi ceritanya, karena kemasannya dibuat nyaris mirip dengan versi animasinya. Film ini pun sukses membuat kita terpesona, hanya saja tidak menawarkan hal yang baru.