Review Film Birdman

Bingung dengan film yang akan ditonton minggu ini selalu memberikan dampak yang luar biasa. Siapa sih yang mau mengeluarkan uang 40 ribu rupiah dan kemudian disuguhkan dengan tontonan yang biasa saja? Sebenarnya saya tidak terlalu tertark untuk membahas film ini, namun karena telah diganjar banyak piala Oscar, ada baiknya saya memberikan sedikit komentar ala penonton.

Birdman, atau lengkapnya Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) “judul panjang yang mungkin tak terlalu anda pedulikan, bercerita tentang mantan aktor gaek Riggan Thomson (Michael Keaton). Dulunya Riggan adalah aktor film yang sangat sukses dan terkenal dengan perannya sebagai superhero di trilogi Birdman. Semenjak dia bilang “tidak” untuk sekuel berikutnya, Birdman 4, karir Riggan anjlok. Riggan juga menolak tampil dalam salah satu serial TV yang ditawarkan kepadanya, karena egonya yang tinggi. Kesulitan finansial dan keinginan kembali terkenal, memotivasinya untuk bangkit.

Namun bangkit lagi tidaklah mudah. Di dunia perfilman yang lebih mempedulikan popularisme karakter film dibandingan talenta nyata dari aktornya, Riggan tak bisa menemukan tempat. Dia mencoba peruntungan di dunia hiburan lain yang mirip yaitu dunia teater dengan mengangkat adaptasi cerita pendek Raymond Carver yang diproduseri, disutradarai, dan dibintangi olehnya sendiri. Tapi, debutnya di teater Broadway menemui banyak kesulitan. Mulai dari pencarian aktor pendukung yang kompeten, intrik di belakang panggung, sinisme para kritikus, hingga permasalahan pribadi Riggan dengan anak, mantan istri, dan pacar yang sering diabaikannya.

Secara visual, film ini sangat mengagumkan. Sinematografer inovatif, Emmanuel Lubezki, dengan sinematografinya yang memenangkan Oscar tahun lalu untuk film Gravity, menghadirkan kembali pengambilan gambar yang terlihat mustahil. Dengan kamera yang bergerak kontinu dari satu angle saja sepanjang film, memberikan kesan seolah-olah film ini diambil satu kali saja tanpa cut. Semua mengalir tanpa terputus-putus. Meski timeline film ini berlangsung selama beberapa hari, sinematografi-nya Lubezki menghadirkan kita keberlanjutan waktu, dan pastinya membuat tak bisa berpaling sedikitpun.

Score/musik latar yang tak konvensional dari tabuhan drumnya Antonio Sanchez yang jazzy sepanjang film (kecuali saat klimaks film), menjadi pelengkap atmosfer film yang menggambarkan kacaunya dunia di sekeliling Riggan, dan merepresentasikan konflik batinnya. Cukup mengagumkan, bagaimana paduan suara cymbal dan drum yang berat bisa mewakili struktur film yang meledak-ledak.

Alejandro González Iñárritu yang juga menulis naskah ini bersama Nicolás Giacobone, Alexander Dinelaris, Jr., Armando Bo, mencoba bersenang-senang, dengan membuat skrip yang berbeda dari filmnya yang dulu seperti 21 Grams, dan Biutiful, yang depresif. Ada banyak dark comedy, sinisme, kevulgaran, serta sindiran cerdas dan tegas terhadap industri hiburan, yang pasti membuat anda tertawa. Birdman tak segan-segan menyindir aktor-aktor hebat yang sekarang suka main di film superhero (diantaranya Michael Fassbender, Jeremy Renner, Robert Downey, Jr); ketergantungan generasi abad 21 dengan gadget; palsunya dunia showbiz; penonton yang lebih suka film dengan ledakan yang lebay dibandingkan drama filosofis, dan masih banyak lagi, yang mungkin tak cukup jika dijelaskan disini. Anda bahkan bisa menganalogikan apapun yang terjadi disini dengan dunia hiburan nyata.

Tentu anda bakalan suka hal di atas (hei siapa yang tak suka satire?). Dan aspek teknisnya juga pasti membuat tercengang. Namun, Iñárritu menyampaikan sesuatu yang lebih dalam, seperti pemenuhan self respect dan pemulihan reputasi Riggan. Perjuangannya untuk melakukan sesuatu yang berarti di penghujung karirnya. Keinginannya untuk kembali menjadi “seseorang” dan tak ingin menjadi “yang terlupakan”.

Sebenarnya, kehidupan nyata Keaton mirip dengan Riggan: karirnya yang semakin anjlok seiring pertambahan usia, orang yang hanya ingat dari peran ikoniknya, dan kehidupan pribadi yang terlalu disorot. Namun, Keaton berhasil membuktikan bahwa pemilihannya sebagai Birdman bukan hanya karena perannya dulu sebagai superhero dengan judul film yang berima sama (Batman?), dengan memberikan penampilan terbaiknya sebagai mantan aktor top dengan segala masalah eksternal dan internalnya, yang frustasi dengan keadaan namun mencoba bangkit. Persona Birdman dengan suara parau (yang terkadang digambarkan secara eksplisit) yang berbicara pada Riggan, memberikan kita penelaahan tentang pertentangan batin yang lebih rumit dibandingkan dengan yang terlihat di permukaan.

Usaha Riggan di film ini akan berhasil, kalau saja tak ada datang masalah dari orang-orang di sekelilingnya. Tokoh pendukung memberi lapisan tersendiri dalam kehidupan Riggan dan semua diperankan dengan baik. Yang paling menonjol adalah Edward Norton yang berperan sebagai Mike Shiner, aktor Broadway yang super-brengsek namun bisa menyukseskan preview drama-nya Riggan. Kemudian Emma Stone sebagai anak sekaligus asisten Riggan yang mencoba mencari perhatian ayahnya karena kurang kasih sayang. Peran Zach Galifianakis sebagai Jake, pengacara Riggan adalah sebagai penengah dan orang paling waras dalam kacaunya dunia sekitar Riggan.

Anda mungkin saja sibuk menebak dimana cut pengambilan gambarnya yang kontinyu (dan saya yakin anda pasti bisa menemukan beberapa), namun hal ini tentunya akan mengalihkan tentang apa visi film ini sebenarnya. Ini adalah film terbaik Iñárritu, begitu juga dengan peran terbaik Keaton. Saat anda terikat dengan ritme film ini, anda takkan bisa terlepas, hingga tabuhan drum Sanchez berakhir.