Browse By

Review Film Blair Witch by @dodon_jerry

Film yang bertemakan penyihir cukup populer di kalangan penikmat film. Ada yang berkonsep serius, ada yang komedi sampai dijadikan film bagi anak-anak. Penyihir memiliki tempat tersendiri dalam mitos masyarakat Barat. Di sejumlah negara, banyak urban legend yang menceritakan tentang penyihir, misalnya di Amerika ada The Bell Witch, lalu di Inggris ada Bloody Mary. Kabarnya hanya berbisik “I believe in Mary Worth”, kamu bisa memanggil arwah sang penyihir dengan wajah berlumur darah. Ada sejumlah film tentang penyihir dari berbagai genre film. Mulai dari film horor, film anak-anak, hingga film fantasi seperti Harry Potter yang sangat booming.

Kali ini setelah agak sepi film horor, ada lagi muncul Blair Witch yang diangkat dari kisah tentang seorang imigran Irlandia bernama Elly Kedward yang dituduh sebagai penyihir pada 1786. Elly kemudian dibuang ke hutan di dekat kota kecil bernama Blair, dan dibiarkan kelaparan.

Ada enam karakter penting dalam film ini: Lisa (Callie Hernandez), James (James Allen McCune), Ashley (Corbin Reid), Talia (Valorie Curry), Wes Robinson (Lane, dan Peter (Brandon Scott). Dari awal hingga akhir ya memang hanya ada enam orang ini.

Blair Witch merupakan sekuel dari film sebelumnya yang sukses, berjudul The Blair Witch Project (1999). Berjarak 20 tahun setelah kejadian di film pertama, Film dibuka dengan video amatir, yang terlihat sangat nyata, merekam detik-detik menyeramkan dikejar-kejar sang penyihir. Dari awal film, sudah diingatkan tentang bagaimana kelanjutan film ini. Benar saja, film ini memang akan membuat kamu ngos-ngosan. Bukan tentang penyihirnya, tapi suasana yang ditampilkan dalam film sungguh bakal membuat kamu sendiri was-was.

Tempo berjalannya cerita berlangsung cukup cepat. Dari awal perencanaan untuk mencari sang kakak yang hilang, hingga akhirnya mereka sampai di hutan terkutuk. Kalau kamu sudah menonton film The Forest (2016), film ini sedikit banyak memiliki kemiripan. Tentang anak muda kota yang masuk ke hutan, mengalami kejadian aneh dan tidak mampu mencari arah keluar. Bedanya, kalau The Forest memang menggunakan angle kamera orang ketiga, sedangkan Blair Witch dibuat seolah-olah merupakan hasil dokumenter. Kamera dipegang sendiri oleh pemain; entah lewat kamera DSLR, kamera pengintai yang disematkan di telinga, dan juga drone.

Ada dua peringatan yang bisa diberikan terkait visual. Pertama, kalau kamu mudah mual, perlu hati-hati karena pergerakan kamera akan cukup dahsyat. Kedua, bagi pengidap claustrophobia, ada satu adegan dalam film ini yang menampilkan ruangan sempit.

Angle pengambilan kameranya sengaja di buat supaya penonton tak mampu menatap layar secara langsung. Akan ada posisi di mana dalam suasana gelap, pemain hanya ada di ujung layar. Bagian tengah kosong dan membuat kamu bertanya-tanya apa yang akan muncul di bagian tersebut.

Dari segi cerita, Semua to the point. Tapi kalau dari segi konflik, memang tidak banyak konflik yang terjadi, paling hanya konflik James, Lisa, Ashley, dan Peter dengan dua warga lokal, Lane dan Talia.

Sebagai film horor, Blair Witch tidak butuh banyak CGI. Suara yang dihasilkan sudah sangat mencekam. Memang, untuk film horror, efek suara memegang peranan penting. Bersiaplah menutup telinga untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Meski tidak mendapat skor memuaskan dari IMDB dan Rotten Tomatoes, namun kalau kamu pecinta film horror dan menegangkan, Blair Witch bisa memacu adrenalin. Jangan berharap banyak pada penampakan, tapi cukup dipuaskan dengan angle-angle kamera dan sound effect yang menyeramkan yang membuat ngos-ngosan.