Browse By

Review Film Bulan Terbelah di Langit Amerika 2 by @dodon_jerry

Film ini merupakan jawaban sisa pertanyaan yang ditinggalkan film pertama, film Bulan Terbelah di Langit Amerika yang tayang tahun lalu. Tanggal 8 Desember ini tayang kelanjutan dari filmnya. Kali ini Hanum mendapatkan tugas yang sangat menantang dari Gertrude di mana Hanum harus mengulik apakah benar Muslim merupakan penemu Amerika?

Alurnya diawali dari Cina pada saat Komunis membantai umat Muslim sehingga dengan terpaksa mereka berpisah dengan keluarga supaya bisa menyelamatkan diri dan sampailah mereka ke Amerika, San Fransisco. Dan di San Fransisco pula orang tua Julia Collins berasal, alur lalu maju ke tahun 90-an saat Julia dan Abe hendak menikah dan mulai terjadi pertentangan antara Ibu dan anak.

Bergesernya Hanum dan Rangga dari New York menuju San Fransisco menjadi punya tiga misi sekaligus, mencari bukti dan fakta untuk dasar penulisan artikelnya, mempertemukan Stephan dengan Jasmine yang kebetulan tinggalnya di San Fransisco pula, serta mendamaikan kembali Julia Collins dengan sang Ibunda.

Ke mana sesungguhnya film ini melangkah? Opening-nya memperlihatkan pengepungan satu keluarga muslim Cina oleh pasukan komunis di tahun 1975, sebelum melompat ke 1998, 2001, dan seterusnya, menyoroti permasalahan keluarga Azima saat ia memutuskan menikah dengan pria Islam, menjadi mualaf walau sang ibu menentang keras, hingga peristiwa 9/11.

Pembuka merupakan latar guna memperkenalkan konflik utama atau membangun karakter, pondasi yang menentukan arah narasi. Tapi bahkan sedari awal, film ini telah kebingungan menegaskan fokus, hendak mengetengahkan penelusuran sejarah atau keterkaitan antara kisah personal tokoh-tokohnya. Keduanya bisa disajikan bersamaan andai terdapat hubungan sebab-akibat. Namun plot “Bulan Terbelah di Amerika 2” tidak demikian saat penelitian Hanum dengan sub-plot lain berdiri sendiri-sendiri.

Di tengah setumpuk sub-plot, Hanum dan Rangga berakhir terpinggirkan dalam film dimana semestinya mereka merupakan tokoh utama, sentral pertemuan segala cerita. Kontribusi keduanya terhadap konflik karakter lain amat minim, tidak substansial. Stefan bisa saja menyadari kesalahannya tanpa ceramah Rangga, begitu pula Azima yang tak membutuhkan Hanum. Interaksi Hanum-Rangga yang selama ini menarik disimak berujung dingin, serupa bagaimana Acha dan Abimana nampak tak bersemangat berperan. Kejenakaan Nino Fernandez serta curahan emosi Hannah Al-Rashid kala resolusi konflik untungnya cukup memberi nyawa.

Jangankan memprovokasi atau memberi jawaban, faktor sejarah terpinggirkan, sekedar diisi serangkaian hipotesis seadanya. Daripada mengolah hipotesis tersebut, alur hanya memperlihatkan perebutan koin antara Hanum dengan sebuah keluarga misterius yang dipaksakan terjadi. Jika keluarga tersebut memang penganut Islam taat kenapa mereka menolak menjadikan koin itu sebagai bukti penguat penemuan Amerika oleh muslim? Apalagi kalau mereka hanya ingin menempatkan koinnya di museum. Kenapa pula akhirnya Hanum memilih tidak melanjutkan tulisan hanya karena ketiadaan koin? Bukankah seorang karakter sempat bersedia memberi bukti lain yang lebih kuat?

Sudah barang tentu “Bulan Terbelah di Amerika 2” masih sempat berceramah demi memuaskan dahaga para penonton “alim” yang mencari pesan agama eksplisit. Kesubtilan bukan kekuatan franchise ini, tapi dalam “Bulan Terbelah di Amerika 2”, penghantaran pesan semakin gamblang namun kosong. Lihat betapa gemarnya Rangga membuang alkohol milik Stefan, atau ucapan Hanum bahwa seorang istri semestinya menghormati suami tapi justru memilih pekerjaan saat mereka tengah berusaha keras mempunyai momongan. Pengadeganan clumsy Rizal Mantovani pun ikut memperparah keadaan. Banyak momen laughable seperti kala seorang wanita mendadak memakai make-up, kehadiran agen FBI, atau perkataan Sarah soal “kebersihan sebagian dari iman” yang bagai berasal dari iklan layanan masyarakat.

Jangankan berujung tontonan thought-provoking, “Bulan Terbelah di Amerika 2” gagal menjadi apapun yang diinginkan. Paparan sejarah kosong, permasalahan karakter dangkal, bahkan keburukan teknis termasuk visualnya meniadakan kesan “jalan-jalan keliling luar negeri” yang biasanya sedikit menolong. Apabila anda merupakan target penontonnya, kepuasan mungkin bakal terasa menyaksikan film dimana semua orang, tidak peduli asal negara maupun ras dapat fasih berbicara Bahasa Indonesia. The first movie is pretty bad, but this sequel is even worse. It’s boring, dull, pointless, and lacks of identity.