Review Film Captain America: Civil War by @dodon_jerry

Saya dengan santai menunggu kemeriahan selesai. Civil war benar-benar ditunggu. 4 studio dan studio 3D semua menyajikan musik ini. Sungguh semarak. Lalu seperti apa film ini di mata saya sebagai penikmat film. Oh ya, saya bukan kritikus film yang melihat secara detail teknis film, hanya menggunakan perbandingan mata dan kenangan film-film sebelumnya. Mari menyimak.

Konflik yang dihadirkan dalam Civil War memang sangat sederhana dan terbilang tidak rumit. Kesalahpahaman antara Steve Rogers (Chris Evans) dan Tony Stark (Robert Downey Jr.) di dalam tubuh Tim Avengers bermula dari kehancuran di beberapa penjuru dunia yang disebabkan oleh Bucky Barnes (Sebastian Stan).

Kehadiran Bucky/Winter Soldier setelah menghilang selama berpuluh-puluh tahun mengundang perhatian beberapa negara untuk segera menangkapnya, tak terkecuali Tim Avengers yang dipimpin oleh Steve Rogers/Captain America.

Namun Steve percaya bahwa Bucky tetaplah teman kecilnya yang diperalat oleh pihak tak bertanggungjawab. Steve pun memutuskan untuk membawa kabur Bucky dari kejaran berbagai pihak dan mencari siapa dalang di balik kasus-kasus masa lalu Bucky.

Pilihan Steve ternyata berujung perpecahan di kubu Tim Avengers. Tony Stark/Iron Man tidak setuju dengan keputusan yang diambil oleh Steve dan lebih memilih untuk segera menyerahkan Bucky agar Tim Avengers tidak dibekukan.

Dengan memiliki latar belakang cerita seperti ini, Captain America: Civil War memuat jalan cerita yang lebih politik. Percakapan dan argumen cukup sering terjadi. Para penonton sebaiknya tidak mengharapkan terus adanya ledakan melewati batas ataupun mewahnya peralatan-peralatan canggih yang disediakan oleh Stark Industries.

Ada pun beberapa poin lainnya yang membuat Captain America: Civil War menjadi spesial. Adegan baku hantam jarak dekat di film ini berkembang lebih intens dan indah dari film Captain America sebelumnya. Dua sutradara Joe Russo dan Anthony Russo juga berhasil menerapkan alur maju mundur dalam mempermainkan praduga penonton akan akhir cerita film. Porsi dan penempatan sia-sia dialog humor yang sering terjadi di beberapa film Marvel sebelumnya, kini terasa berkurang dan lebih efektif.

Captain America: Civil War memuat dua belas pahlawan super yang bentrok di dalam satu cerita. Selain kedua ‘pemimpin’ yang sudah disebutkan sebelumnya, sisanya adalah Black Widow, Winter Soldier, Falcon, War Machine, Hawkeye, Vision, Scarlet Witch, Ant-Man, Black Panther, dan Spider-Man. Untuk pertama kalinya dua karakter yang terakhir disebutkan muncul dan terlibat di serikat orang super kuat dengan selera humor tinggi ini. Dan perlu diacungkan jempol karena Captain America: Civil War berhasil memperkenalkan mereka berdua dengan sangat baik. Tidak hanya muncul sekali, lalu menghilang, berulang-ulang seperti itu dan tiba-tiba di ujung film ia berdandan seksi membawa perisai dan pedang.

Dua belas pahlawan super dalam satu film bukanlah jumlah yang sedikit. Bahkan masing-masing dari mereka mendapat kuota adegan yang cukup dan jitu untuk memperkuat sosok karakternya. Dengan alur cerita yang ampuh, Captain America: Civil War berhasil menjadi ujung tombak dalam melahirkan trilogi film Marvel terbaik sejauh ini.