Browse By

Review Film Ciderella

Siapa yang tidak kenal kisah dongen Cinderella yang selalu identic dengan sepatu kaca. Dari kecil kita sudah dicekoki dengan cerita ini mulai dari komik, novel sampai film. Masih ingat dengan film animasi klasik Cinderella tahun 1950? Tidak hanya cinderalla, banyak dongeng yang kembali di hadirkan dilayar bioskop.

Di mulai dengan Alice in Wonderland 2010 lalu kemudian berturut-turut dilanjutkan dengan Oz: The Great and Powerful sampai yang terakhir Maleficent, raksasa Disney seperti tengah gencar-gencarnya mencanangkan program re-telling dongeng-dongeng animasi klasik mereka ke dalam versi live action-nya. Walapun film yang di buat nyata ini mendapatkan pendapatan yang bagus namun beberapa KRITIKUS film mengatakan secara kualitas bisa dibilang mengecewakan. Alice in Wonderland garapan Tim Burton terasa terlalu suram, Sam Raimi dengan Oz: The Great and Powerful kurang mengigit sementara Maleficent yang menjual pesona Angelina Jolie malah yang paling buruk. Banyak yang bilang bahwa film ini terlalu banyak dimodifikasi dengan harapan dihadirkan sesuatu yang baru namun menyimpang jauh dari jalan cerita sebenarnya.

Tidak mudah menggarap film yang sudah bolak balik dibuat ulang. Kita sudah banyak melihat dengan berbagai versi, mulai dari buku, animasi, live action, drama panggung, musical, komedi romantic dan masih banyak lagi

Cinderella berkisah tentang Ella (diperankan oleh Lily James), seorang gadis yang cantik, optimis, baik hati, begitu mencintai alam sekitarnya, dan menjadi kesayangan kedua orang tuanya. Sayangnya, ketika kedua orang tuanya meninggal, ia kini harus tinggal dengan ibu tirinya yang jahat, Lady Tremaine, serta dua saudari tiri yang tak kalah culas, Drizella dan Anastasia. Para saudara tiri ini pun mencemoohnya dengan julukan “Cinder-Ella” karena wajahnya cemong oleh abu perapian (cinder). Namun meski diperlakukan bak pembantu di rumah peninggalan orang tua kandungnya sendiri, Ella tetap ingat pada pesan ibunya untuk selalu baik hati dan berani. Suatu hari, saat terpuruk dan hendak menenangkan diri di hutan, Ella bertemu dengan pria tampan misterius yang mengaku sebagai Kit (Richard Madden). Sejak saat inilah semangatnya bangkit kembali, dan Ella sama sekali tak akan menduga ke mana cinta dan keajaiban akan membawanya.

jika berharap Cinderella versi live-action ini akan menyerupai film Maleficent, di mana dari versi animasi, jalan cerita asli dikembangkan dengan kejutan-kejutan atau sudut pandang baru, mungkin Anda akan sedikit kecewa. Pasalnya, film besutan Kenneth Branagh ini begitu setia dengan versi kartun, minus nyanyi-nyanyian. Walau demikian, bisa dijamin mata pasti Anda akan terpuaskan oleh tata visual yang begitu indah, baik dari desain produksi, dekorasi, kostum berwarna-warni, sinematografi, efek visual, hingga sorot mata tajam Richard Madden sebagai Kit si Prince Charming. Daya tarik Cinderella pun tambah diperkuat oleh akting para pemeran yang begitu apik. Kehadiran Cate Blanchett sebagai ibu tiri dan Helena Bonham Carter sebagai ibu peri yang quirky sudah pasti tak boleh dilewatkan.

Seperti ujung mata pisau, keputusan Disney untuk tidak banyak merubah narasinya adalah sebuah perjudian berani di mana di satu sisi ada resiko besar penontonnya akan merasakan kejenuhan ketika harus kembali menikmati premis basi yang sudah kelewat familiar itu, namun di sisi lain dengan mengulang kembali cerita yang sama, tugas Kenneth Branagh menjadi lebih mudah karena sutradara sekaligus aktor senior Inggris itu bisa lebih memfokuskan pada presentasinya yang harus diakui, cukup menyengarkan untuk dongeng berusia tiga abad lebih. Ya, Branagh bisa dibilang sukses memoles dongeng sebelum tidur legendaris ini dalam sebuah penyajian yang memandukan unsur klasik dan kontemporer dalam porsi yang berimbang.  Seperti yang dilakukannya dalam Thor, Branagh memberi sentuhan dramatis ala Shakespearean yang lebih manusiawi sekaligus elegan pada Cinderella miliknya, menjaga momentumnya dengan baik dan meledakannya di saat yang tepat dengan pengunaan spesial efek cantik yang menegaskan unsur fantasi yang diisi pesan keberanian dan kebaikan tanpa harus terkesan berlebihan, termasuk momen romansanya yang juga meskipun terkesan cheesy namun berhasil tersaji manis dan lembut. Naskah gubahan Chris Weitz mungkin terkesan malas, namun bukan berarti ia tidak memberikan sedikit, ya, hanya sedikit penambahan di beberapa bagiannya untuk memberi sentuhan kesegaran, misalnya seperti porsi ibu kandung CInderella yang diberikan lebih banyak untuk membentuk jati diri Cinderella sejak kecil, atau juga seperti sedikit variasi cerita menjalang akhir yang cukup bagus tanpa harus melenceng jauh. Dan saya masih belum menyebutkan bagaimana desainer kelas Oscar Sandy Powell mampu memberikan parade kostum-kostum luar biasa yang terlihat sederhana namun secara bersamaan juga terkesan sangat anggun yang secara tidak langsung sudah menjadikan artistik Cinderella menjadi bernilai tinggi.

Tentu saja daya tarik utama ada pada pundak Lily James. Memainkan peran sebagai salah satu karakter dongeng paling ikonis di dunia, James bisa dibilang sukses menjalankan tugas berat ini. Memanfaatkan kecantikan dan pesonanya, karakter Cinderella versinya mampu memancarkan kelembutan, keberanian, kesederhanaan dan cinta dengan kekuatan sama besarnya, sesuai dengan pesan-pesan tentang “courage and kindness” yang kerap digaungkan di sepanjang film. Sementara sang prince charming yang dibawakan Richard Madden mungkin tidak kelewat istimewa. Ya, Madden memang tampan dengan senyum dan tatapan maut-nya, namun saya tidak merasakan aroma ‘charming’ seorang pangeran yang semestinya. Bisa jadi Cinderella adalah dongeng yang menciptakan presepsi buruk tentang ibu tiri, dan pastinya karakter step mother ini menjadi tidak kalah pentingnya dalama pergerakan cerita. Beruntung Branagh mendapatkan aktris hebat macam  Cate Blanchett yang mampu menebarkan ancaman menakutkan sekaligus keanggunan dari caranya berbicara, dari caranya menatap jijik putri tirinya dan dari setiap tawanya yang dibuat-buat, ya, Blanchett memberi enerji tersendiri untuk menguatkan salah satu sektor penting dalam narasinya.