Browse By

Review Film – Coco

Dari beberapa film pixar, beberapa nya sangat menyentuh hati dan penuh pelajaran hidup. Bagaimana dengan coco? film animasi Coco yang lembut tetapi bersuara lantang dan melankolis tetapi menghangatkan hati. Pasti penasaran untuk menonton. Beberapa tahun belakangan, Pixar terlihat mulai terbebani oleh sejarahnya sendiri. Film-film seperti The Good Dinosaur (2015), Finding Dory (2016), dan Cars 3 (2017) cenderung jatuh dibandingkan dengan film-film klasik mereka. Sebagian dari kita tumbuh besar menonton film-film mereka, pra dan pasca-akuisisi Disney di tahun 2006. Film-film seperti trilogi Toy Story, Finding Nemo (2003), hingga Up (2009) selalu lekat dalam ingatan. Secara garis besar, Coco adalah film keluarga. Film itu membawa pesan yang begitu menyentuh, tentang sebuah ikatan keluarga yang kuat, nilai-nilai dalam tradisi, serta penghormatan pada budaya leluhur.

Coco turut mengajarkan bagaimana memperjuangkan mimpi, seperti Miguel yang ingin menjadi musisi di tengah tekanan keluarga yang menentangnya. Meski yang diusung merupakan budaya Meksiko, film ini tetap relevan bagi budaya lain, termasuk di Indonesia sendiri.

Di sisi lain, film ini juga memberikan tambahan pemahaman nilai soal unsur budaya dan tradisi di Meksiko. Penonton diajak memahami serta mengenal perayaan Dia de Muertos yang menjadi kepercayaan masyarakat Meksiko. Imajinasi tak terbatas selalu menjadi kekuatan utama film-film Pixar, selain tentunya kecakapan bercerita. Coco mengambil kisah dan budaya dari Meksiko, dari mulai yang kasat mata seperti penamaan, logat, dan busana hingga yang tak tampak seperti hubungan keluarga.

Orang-orang Latin dikenal punya kultur keluarga yang erat. Mereka mengenang dan mengingat masing-masing sanak saudara baik yang hidup maupun yang tiada. Sama seperti orang Indonesia, khususnya yang berkeluarga berdasarkan sistem marga.

Orang-orang Latin juga dikenal sangat hormat dan sayang pada sosok mama. Dalam film Coco ini, tokoh seperti nenek Abuelita dan nenek buyut Imelda digabarkan dominan. Eratnya hubungan keluarga inilah yang menjadi pesan utama Coco. Lewat naskah Adrian Molina dan Matthew Aldrich, Coco membawa hubungan keluarga itu dalam bentuk produk budaya. Misalnya, keberadaan foto orang yang telah mati menjadi bukti bahwa keluarganya masih ada yang ingat. Foto itu kemudian menjadi unik, sebab ia punya banyak cerita di baliknya.

Dunia Coco terasa sangat kaya dengan banyaknya kisah dan budaya yang melatarbelakanginya. Contohnya saja si anjing buduk Dante yang ternyata modelnya diambil dari Xoloitzcuintli, anjing khas Meksiko.

Selain itu, kekayaan tersebut juga kemudian dikembangkan oleh para animator Pixar/Disney dengan gambar-gambar yang memukau, terutama Dunia Kematian yang warna-warni indahnya. Namun, kekayaan dunia itu datang dengan dua sisi mata pisau. Untuk memperkenalkan dunia yang kompleks ini, Coco tak pelak terjatuh dalam jebakan eksposisi. Coco terlalu banyak menjelaskan dengan bahasa verbal pada awal film, terutama saat Miguel masih di Dunia Kehidupan.

Beberapa adegan saat Miguel baru saja masuk ke Dunia Kematian juga mudah ditebak. Cerita Cocomenjadi lebih menarik ketika semua kebenaran mulai terungkap.

Film ini punya lagu-lagu yang catchy untuk didengar, terutama lagu Remember Me yang langsung mengingatkan saya pada When She Loved Me dalam Toy Story 2. Keduanya ini tipe lagu-lagu melankolis tentang kehilangan yang selalu efektif menyayat hati.

Maka, ketika lagu tersebut digabungkan secara efektif dengan pesan sederhana tentang keluarga dan menggapai mimpi, kantong air mata jebol begitu saja.

Ada cerita indah nan menyentuh yang bisa diapresiasi oleh anak-anak pada film ini. Ada banyak hal positif yang bisa kita ambil mengenai keluarga, mengenai jalan hidup yang kita pilih. Film ini juga kaya oleh unsur budaya. Tapi tentu saja, seperti mata uang, ada sisi kelam di balik pesona dan keceriaannya