Review Film Danur by dodon_jerry

Kenapa saya menonton film ini? Sederhana, ada Shareefa Daanish yang menggoda. Sosok perempuan berwajah datar dan dingin ini mampu membuat aura mistis apalagi saya melihat buku ini ditulis oleh Risa Sarasvati yang memang punya kekuatan melihat mahluk halus. Tidak ada salahnya untuk menyaksikan di bioskop agar semakin mempertegas pernyataan saya.

Cerita kemudian mengisahkan masa kecil Risa (Asha Kanyeri) yang kesepian. Ibunya sibuk bekerja, sedangkan ayahnya dinas ke luar negeri dan hanya pulang setengah tahun sekali. Di hari ulang tahunnya, Risa meminta teman yang dapat diajak bermain. Tiga sosok anak kecil yang sedang bermain petak umpet membuat Risa heran. Tanpa rasa takut, Risa pun bergabung dalam permainan tersebut. Ely (Kinaryosih), ibu Risa, mulai merasakan keganjilan di rumahnya. Banyak coretan di lantai dan mainan berserakan. Awalnya Ely mengira hal itu perbuatan Risa, namun Risa mengelak dengan mengatakan itu semua perbuatan teman barunya. Tentu saja Ely tak dapat melihat siapapun selain anaknya.

Cerita selanjutnya bergulir mulai menegangkan kala Risa menemukan sisir di dekat pohon beringin dan membawanya pulang ke rumah. Saat malam menjelang, sosok wanita misterius bernama Asih (Shareefa Daanish) muncul dengan tampilan seperti seorang perawat. Ia tak banyak berbicara selain mengangguk dan membuat kaget Risa. Risa mengira jika Asih adalah perawat baru yang dikirim oleh tantenya untuk mengurusi sang nenek. Sejak saat itu, teror menyeramkan pun mulai menimpa Risa dan Andri. Riri juga berada dalam bahaya saat jiwanya dibawa Asih yang merindukan anaknya yang juga telah tewas. Sampai di sini plot masih rapih dengan alur yang sebetulnya cukup menjanjikan. Beberapa teror yang dihadirkan cukup membuat bulu kuduk penonton berdiri. Sayangnya, karakter Asih terasa komikal saat berusaha menampilkan wajah seram seperti hantu Jepang. Bukannya seram, penonton yang saat itu kebetulan berada di samping ikut tertawa dengan wajah konyol sang hantu.

Pemeran Peter, William, dan Jansen kurang seram. Terkadang saya merasa kok mereka malah berakting seperti manusia, bukan seperti hantu yang gayanya kaku dan dingin. Saya sempat dibuat merinding, namun di beberapa adegan–bahasa tubuh, gaya bicara dan tatapan mereka terlalu polos. Mungkin saya terlalu berekspektasi bahwa hantu anak kecil harus tampak mengerikan, meski diceritakan sebagai hantu yang baik. Pemilihan sudut pandang Risa di awal juga terasa kurang nge-twist karena penonton sudah tahu dari awal jika keganjilan yang ada pada Risa merupakan ulah hantu-hantu cilik. Alangkah lebih baiknya jika sudut pandang di awal menunjukkan keganjilan dari Ely yang curiga dengan perilaku tak wajar anaknya. Ketegangan dapat terbangun lebih baik jika plot tak menampilkan sudut pandang Risa yang sudah membongkar alur cerita.

Beberapa bagian film juga masih terasa mencomot beberapa film horor luar negeri seperti Sadako hingga Insidious. Asih bisa keluar berjalan menembus kaca layaknya Sadako yang keluar dari layar televisi. Risa yang masuk ke dimensi dunia lain untuk menyelamatkan Riri yang dibawa Asih juga terasa mirip saat karakter Josh (Patrick Wilson) mencoba menyelamatkan Dalton (Ty Simkins) dari dimensi dunia iblis merah. Well, kehadiran nenek Risa yang diperankan Inggrid Wijdanarko seolah cuma jadi tempelan untuk mengembalikan Risa ke rumah lamanya saja. Penampilan nenek Risa yang bahkan lebih seram dari hantu utamanya juga cuma membuat penonton berguman,”Kok neneknya lebih serem dari setannya.”