Review Film Doctor Strange by @dodon_jerry

Sudah lama rasanya tidak menonton film premiere. Saat diajak untuk menonton Doctor Strange, saya langsung mengiyakan. Walaupun bukan fanboy Marvel tapi film yang sudah dua tahun lalu digembar-gemborkan pasti punya daya tarik luar biasa. Persiapan yang sangat matang sudah pasti disiapkan untuk memuaskan semua penikmat film. Tiket sudah di tangan dan waktunya duduk dengan bahagia di depan layar lebar.

Menjelang akhir tahun 2016 ini, Marvel tidak ketinggalan untuk memberikan satu lagi film superhero untuk melengkapi jajaran film Marvel Cinematic Universe Phase 3. Dimulai dengan Captain America: Civil War yang mengawali MCU Phase 3 tersebut yang tayang awal tahun ini, kini terhitung 26 Oktober 2016 untuk pasar Indonesia telah tayang resmi film Doctor Strange, turut melengkapi daftar superhero baru dalam franchise ini.

Berbeda dengan film-film superhero Marvel Studios lainnya yang lebih kuat dan bergantung kepada kekuatan sains, teknologi modern atau mungkin memang adalah dewa dari dunia lain, Doctor Strange pun memberikan sudut pandang lain terhadap apa yang membuat sebuah karakter dapat disebut sebagai pahlawan berkekuatan super; yakni dengan kemampuan sihir.

Doctor Strange berpusat pada ahli bedah yang kehilangan fungsi tangannya setelah ia mengalami kecelakaan. Saat melakukan perjalanan ke Tibet, ia pun berhadapan dengan Ancient One yang mengubahnya menjadi sesosok Penyihir Agung demi mempertahankan dunia dari kejahatan.

Doctor Strange dianggap memiliki keseimbangan plot, aksi, humor, dan drama yang jarang ditemukan di film-film lain. Keseluruhan film ini didasarkan pada karakternya, seperti halnya The Winter Soldier.

Film ini menyajikan hiburan ala Marvel yang ringan dan tentu saja menghibur. Ceritanya pun padat tapi juga tidak berat. Gambar-gambar futuristik dengan sentuhan efek 3D membuat scene dunia supranatural film ini jadi tampak hidup. Jika Anda ingin menyaksikannya, ada baiknya Anda memilih versi 3D karena dijamin Anda akan lebih puas dengan gambar-gambarnya yang indah dan jangan lupa untuk menantikan post-credit scene khas Marvel yang juga ada di film ini.

Meskipun film ini mengisahkan dunia supranatural, tapi tidak ada suasana kegelapan di sana. Film ini justru akan membuat Anda tertawa dengan dialog-dialog konyol yang dilontarkan Doctor Strange.

Mungkin ini yang membuat para orang tua penasaran, bahkan takut-takut untuk mengajak anak mereka nonton. Kenapa film Doctor Strange diberi rating 17+? Karenanya, bagian ini juga akan dibahas di dalam review Doctor Strange versi Duniaku ini.

Film ini menyajikan kekerasan yang lumayan untuk ukuran film Marvel. Kamu akan melihat darah, adegan pemenggalan (meski hanya disajikan bayangannya saja), hingga sejumlah kematian. Walau temanya sihir, yang dihadapi Strange juga kebanyakan adalah manusia, bukan robot atau monster dari alam lain. Tapi film ini tidak menampilkan adegan sensual sama sekali. Selain itu, nuansanya pun tidak mutlak kelam. Namanya film Marvel, kamu akan disuguhi komedi. Beberapa di antaranya bahkan sangat lucu. Kalau kamu ingin mengajak nonton anak, dan kamu merasa si anak sudah siap untuk melihat adegan kekerasan dan sejumlah kematian, rasanya Doctor Strange masih bisa dijadikan tontonan keluarga.

Memang bagian klimaksnya terasa terlalu cepat dan karakter Kaecillius terasa menyia-nyiakan bakat seorang Mads Mikkelsen. Tapi selain itu, ini adalah film yang sangat bagus dan pasti memuaskan fan Doctor Strange, Marvel, bahkan fan pahlawan super keseluruhan.