Review Film Ghost in the Shell by dodon_jerry

Kembali, sebuah film yang diangkat dari anime Jepang dibuat ulang oleh Holywood, saya penasaran seperti apakah gambaran yang dibuat Hollywood untuk sebuah intrepretasi film anime Jepang apalagi terdapat kontroversi yang saya baca.

Film anime Ghost in the Shell yang diluncurkan pada 1995 adalah sebuah karya klasik dan kerap disebut sebagai salah satu film fiksi ilmiah terbaik yang pernah dibuat. Film anime Jepang Ghost in the Shell tidak hanya merupakan kartun fiksi ilmiah terbaik, tetapi juga film fiksi ilmiah terbaik secara umum. Mencengangkan secara konsep dan visual, film detektif cyberpunk buatan Mamoru Oshii itu menjadi jembatan antara film fiksi ilmiah ‘analog’ dan yang digital. Film itu menjadi jembatan antara film-film lama Blade Runner dan The Terminator yang menampilkan karakter cyborg dan android, dengan The Matrix dan Avatar yang sudah menghadirkan fiksi ilmiah melalui virtual reality dan konsep ‘tukar tubuh.’ Pembuat The Matrix bahkan dengan santai menyatakan bahwa film buatan Oshii itu adalah inspirasi mereka. Memang, konsep utama cerita film Ghost in the Shell tidak lagi semengejutkan ketika film ini tayang 22 tahun lalu. Di tahun 1995, masih terasa janggal mendengar konsep tentang bagaimana setiap manusia disambungkan dengan jaringan komputer dan bisa berkomunikasi satu sama lain, berbagi informasi dengan kecepatan seperti pemikiran.

Di film anime Ghost in the Shell, pembukaan film, yang memperkenalkan tokoh dan berbagai macam organisasi dan birokrasinya terasa lama. Padahal di akhir film, tidak lagi dibahas soal organisasi itu. Film ini terasa hanya sebagai bagian pembuka dari sebuah film bersambung. Namun, di film live action terbarunya, penulis Jamie Moss, William Wheeler dan Ehren Kruger, membuat film ini lebih lugas dan tuntas, bukan berarti tidak ada peluang sekuel bagi Ghost in the Shell.

Ghost in the Shell menampilkan cerita yang mungkin tidak begitu jauh berbeda dari film anime pendahulunya. Dimulai dari perkenalan karakter Major sampai pada konflik yang berkaitan tentang Ghost di dalam dirinya. Namun, yang perlu diapresiasi adalah Rupert Sanders berhasil menyusun cerita secara rapi dengan twist menarik dan tetap mempertahankan keseruan sci-fi kehidupan di masa depan. Pemilihan Scarlett tergolong masih aman karena aktris tersebut masih memiliki aura karakter seorang wanita yang pemberani dan dingin. Terlepas dari isu whitewashing dengan dipilihnya Scarlett Johansson untuk memerankan karakter cyborg wanita Jepang, Ghost in the Shell masih dapat dinikmati dari awal hingga akhir. Visual effects yang disuguhkan dapat memanjakan mata kita seolah masa depan memang akan menjadi nyata layaknya di film. Seakan kita bernostalgia dengan film-film sekelas trilogi The Matrix dan Blade Runner (1982).

Scarlett Johansson tampil garang dengan kostum cyborg yang terlihat seksi. Kostum tersebut melekat pada tubuhnya sehingga ia terlihat seperti hampir bugil. Sedikit berbeda dengan karakter Major pada versi film anime yang sebenarnya lebih vulgar dan menyerupai manusia. Pada film versi live-action ini Major juga tidak memakai penutup mata seperti pada versi film anime-nya.