Review Film Headshot by dodon_jerry

Kesuksesan The Raid dan Berandal di tanah air ibarat pendobrak gerbang besar yang selama ini tertutup oleh keraguan membuat film action di Indonesia itu tak akan laku. Bermuatan aksi-aksi sadis nan brutal, kedua film arahan Gareth Evans tersebut ternyata mendapat sambutan meriah selama masa penayangannya, dan masing-masing mengumpulkan sejuta lebih penonton.

Tembus “angka keramat” memang bukan perkara mudah, tetapi bisa dilakukan, termasuk oleh film dengan konten bag-big-bug-crot sekalipun. Apalagi sinema kita dulunya memang dihiasi banyak film-film berisikan tembak-tembakan dan baku-hantam. Gareth memang muncul di saat yang tepat kala penonton merindukan film action lokal yang tidak sekedar tonjok-tonjokan tapi juga berkualitas. Film bagus itu menurut saya akan dengan sendirinya bertemu dengan penontonnya, entah itu horor setan-setanan ataupun film gebuk-gebukan. Pasca The Raid, mereka yang “latah” merilis action saling sikut di bioskop, sayangnya kebanyakan hanya mengekor, memanfaatkan momentum, kualitasnya babak belur. Sejauh ini, 3-nya Anggy Umbara dan Juara-nya Charles Gozali yang paling memuaskan.

Kita sudah tahu kalau Mo Brothers itu gila, jadi tidak mengherankan apabila film yang sempat tayang di Toronto International Film Festival ini bakal disesaki oleh adegan-adegan gila khas mereka. Tapi Headshot bukan saja soal bagaimana Timo dan Kimo mempresentasikan action yang gila, saya pikir yang benar-benar layak disebut gila adalah ide mereka memasukkan seorang Chelsea Islan yang innocent ke dalam dunia penuh kebrutalan. Chelsea memerankan karakter bernama Ailin, dokter (magang) yang merawat sekaligus diam-diam mengagumi Ishmael, pasiennya yang mengalami amnesia akibat cedera berat di kepala. Ailin dan Ishmael semakin dekat dalam sekejap, namun orang dari masa lalu merusak segalanya. Seorang bernama Lee (Sunny Pang) yang berjuluk “ayah dari neraka” mencari Ishmael dan menginginkannya mati, Ailin ikut jadi sasaran. Awalnya sih terasa aneh melihat Screenplay Infinite Films yang biasa memproduksi film-film bertema drama romantis, kemudian melompat ke kubangan darah, merilis action tak bermoral. Keanehan tersebut berkembang jadi keunikan, ciptakan daya tarik dari hasil mengawinkan brutal dan romantis.

Pengalaman menarik tatkala disela-sela aksi tarung berdaya adrenalin kencang, kita juga bisa melihat Ailin dan Ishmael saling bertatap menyembunyikan rasa di balik mata yang memar dan wajah berlumur darah. Mo Brothers saya rasa sudah berhasil mengemas Headshot agar dapat dinikmati tidak hanya penonton seperti saya (yang memang sesat dan bejat), tetapi juga penontonnya Chelsea Islan serta Screenplay. Action sadis yang bertebaran berimbang dengan porsi dramanya, tak sekedar pukul-pukulan tapi ada usaha Mo Brothers untuk merajut cerita, meski penceritaan tetap bukanlah atraksi utama di Headshot. Bayar karcis nonton, saya tentu saja berharap akan dijejali aksi maha dahsyat, ekspektasi langsung dibayar lunas begitu Mo Brothers pamerkan beragam adegan berkelahi, mengadu jurus dan juga tembak-tembakan. Semua dipertontonkan dengan koreografi yang bisa dibilang biadab, sangat meyakinkan hingga tulang-tulang saya ikut terasa remuk. Didukung karakter-karakter bad ass yang suka main darah, termasuk peran yang dimainkan Chelsea Islan, Headshot menghamburkan isi otak sinting Mo Brothers dengan cara paling anjing sekaligus manis.