Browse By

Review Film – Justice League

DC sedang rajin memperkenal satu persatu super heronya dan menjadikan mereka dalam satu film. Setelah film solo Wonder Woman, tahun ini DC Comics dan Warner Bros kembali merilis film terbarunya. Layaknya The Avengers ala Marvel, DC juga punya universe sendiri lho untuk tim superheronya bernama Justice League. Film pertama Justice League menghadirkan kumpulan Superhero DC yang beranggotakan Batman, Wonder Woman, The Flash, Cyborg, dan Aquaman. Pertanyaannya, akankah Superman muncul kembali setelah di film Batman V Superman karakternya dimatikan?

Cerita Justice League berawal dari kekacauan yang terjadi paska meninggalnya Superman. Kerusuhan dan kriminalitas terjadi di mana-mana. Puncaknya muncul Steppenwolf (Ciarán Hinds), seorang monster penakhluk dunia yang juga merupakan kaki tangan Darkseid, musuh besar Justice League. Steppenwolf datang ke bumi untuk mencari tiga Mother Box yang akan dia satukan untuk menghancurkan bumi. Sebagai film perdana bagi kelompok manusia super keluaran DC Comics, Justice Leaguemenawarkan tontonan yang menghibur. Ya, Justice League adalah angin segar setelah kegagalan film Batman V Superman: Dawn of Justice yang tayang dua tahun lalu.

“Apa jadinya dunia tanpa Superman?”, itulah yang jadi tema dari film yang disutradarai oleh Zack Snyder ini. Film ini adalah kisah tentang kelahiran dari tim superhero terkuat di dunia, Justice League. Setelah kematian Superman (Henry Cavill) di film sebelumnya, bumi kini diserang oleh alien supervillain Steppenwolf. Bumi berada diambang kehancurannya, dan itulah yang membuat Batman (Ben Affleck) dan Wonder Woman (Gal Gadot) mencari superhero lainnya, The Flash (Ezra Miller), Aquaman (Jason Momoa), dan Cyborg (Ray Fisher) untuk bergabung dengan mereka. Tanpa Superman, kelima superhero tersebut harus bertarung habis-habisan demi menyelamatkan bumi.

Bisa dibilang film berdurasi dua jam ini mampu menghadirkan apa yang gagal dicapai di film prekuelnya, Batman V Superman: Dawn of The Justice: plot yang menarik, adegan pertarungan yang seru, dan sisipan humor yang mengundang tawa. Lebih dari itu, film ini juga mampu menonjolkan setiap karakter superhero lewat porsi yang pas. Lewat Justice League, DC Comics dan Warner Bros. juga terlihat berusaha untuk menghadirkan tontonan yang dapat diterima oleh semua orang. Dibandingkan film DC Comics yang lain, film ini terlihat lebih sederhana dan “berwarna”. Memang tone yang gelap masih ada di film ini, tetapi tidak sekental film Batman V Superman: Dawn of The Justice dan Man of Steal.

Film Justice League akhirnya menegakkan perdamaian di antara dua kalangan fans superhero. I mean, tau dong kalo selama ini baik fans Marvel ataupun fans DC selalu ngotot-ngototan mengenai film mana yang terbaik. DC terkenal dengan film yang kelam, sedangkan Marvel punya tone cerita yang lebih ringan, dan Justice League kali ini berusaha berada di dalam irisan dua zona itu. Film ini SURPRISINGLY LIGHT-HEARTED. Ada banyak humor yang tercipta dari interaksi para manusia-manusia super itu, dan mendengar mereka bicara dan bertingkah seperti demikian sungguh sebuah pemandangan yang keren. Antara tone yang kocak dengan elemen yang lebih serius film ini memang tidak bersatu dengan mulus, tetapi mereka tetap bekerja dengan menyenangkan. Hal ini tercapai karena Justice League bisa dibilang adalah plethora dari ngumpulin ‘superhero’. Zack Snyder sempat mundur dari produksi karena tragedi keluarga dan Joss Whedon – yang menulis dua film The Avengers – mengambil alih dan melakukan banyak reshots. Justice League mengalami kesulitan produksi dan tetap saja produk akhirnya berdiri gagah sebagai tayangan pahlawan super yang ringan, asyik untuk ditonton, yang berhasil bikin kedua kubu fans menyadari bahwa mereka ada di sini karena hal yang mutual; sama-sama suka aksi superhero.

Salah satu yang patut kita syukuri adalah DCEU bermurah hati memberi kita Wonder Woman dua kali di tahun ini. Gal Gadot sekali lagi memainkan perannya dengan sangat menawan, selalu memukau melihat Wonder Woman beraksi. Dia salah satu bagian terbaik yang dipunya oleh film ini. Batmannya Ben Affleck kuat di karakter, namun aku merasa sedikit kasihan sama Batman dalam hal kekuatan. Sama seperti ketika melihat Piccolo di saga terakhir Dragon Ball, Batman seperti teroverpower. Ada dialog dengan Alfred ketika mereka mengenang betapa mudahnya dulu ketika masalah yang mereka hadapi hanyalah bom pinguin. Bruce Wayne adalah yang paling merasa ketakutan, tapi dia tidak menunjukkannya, dan itulah sebabnya kenapa Batman adalah pemimpin yang hebat buat grup ini.