Browse By

Review Film Kartini by dodon_jerry

Betapa kangennya saya dengan akting Dian Sastro setelah banyak sekali berita buruk yang berputar putar di IG-nya. Tentu saya tidak tahu apakah ini trik jualan atau apa, tapi sepertinya film Kartini karya Hanung boleh juga ditonton demi memupuk rasa nasionalisme saya.

Film Kartini menuturkan kembali kisah perjuangan pahlawan nasional Raden Ajeng Kartini dengan diperankan oleh aktris berbakat Dian Sastrowardoyo. Indonesia di awal tahun 1900 masih di bawah pendudukan Belanda. Pada masa itu, hanya para pria ningrat yang diperbolehkan bersekolah dan menjejak pendidikan tinggi. Sementara wanita-wanita Jawa dibesarkan hanya dengan satu tujuan: untuk menjadi istri seseorang. Kartini tumbuh besar dengan menyaksikan ibu kandungnya, Ngasirah, diperlakukan layaknya pembantu hanya karena tak berdarah bangsawan dan sang ayah tak mampu melawan tradisi. Dengan latar belakang demikian, Kartini memperjuangkan kesetaraan bagi semua orang, khususnya pendidikan bagi perempuan. Bersama kedua adiknya, ia pun membuat sekolah untuk kaum miskin dan menciptakan lapangan kerja bagi rakyat.

Mengangkat sosok ikonik Kartini, Hanung Bramantyo justru bermain aman. Ia tak mencoba sedikit menyinggung kontroversi di sekitar ibu emansipasi Indonesia itu, yang diragukan beberapa kalangan keabsahan perjuangannya dan sempat dianggap sebagai propaganda pemerintah. Alih-alih Hanung menggelar kisah yang crowd-pleasing, mudah dicerna dan menghibur. Ia memang masih menyertakan adegan-adegan sentimental berlebihan dan bertujuan mengurai tangis, tapi untungnya di sini ia didukung jajaran pelakon yang mumpuni. Dari Nova Eliza, Deddy Sutomo, Reza Rahadian, Adiania Wirasti, Acha Septriasa, Ayushita, hingga yang gemilang Djenar Maesa Ayu dan Christine Hakim. Djenar bahkan bisa menyelamatkan sematan karakter klise pada sosok yang dibawakannya, Moeriam. Penggambaran ibu tiri yang keji bisa ditampilkan berlapis oleh Djenar walaupun porsinya tak banyak dan mengundang pemahaman penonton akan aksi antagonisnya. Sedang Christine bisa jadi membawa piala Citra ketujuhnya dari film ini. Dalam sebuah adegan bersama Dian yang begitu menguras emosi tentang arti bakti dan pengorbanan, Christine menampilkan sesuatu yang melampaui akting pada umumnya, apa yang ditunjukkan aktris senior ini adalah hal yang membuat dirinya patut disebut sebagai legenda sinema tanah air.

Naskah tulisan Hanung dan Bagus Bramanti juga mencoba dinamis dengan menampilkan interaksi maya antara Kartini dan sahabat-sahabat pena-nya, hingga dunia imajinasi akan buku yang sedang dibacanya. Alur kisahnya juga cukup mulus walaupun kelewat ringan dan terkadang terasa klise dan konfliknya tampak artifisial. Sedang chemistry Kartini dan kedua adik-adiknya yang terjebak dalam represi patriarki yang berusaha mereka dobrak dapat dihadirkan dengan cukup baik. Salah satu hal yang menjadi minus dari Kartini adalah Dian Sastro. Bukan berarti Dian bermain buruk, tidak. Tapi Dian terlihat seperti Dian di sini. Mencoba menampilkan Kartini yang bandel dan berpikiran bebas melampaui zamannya, Dian sesungguhnya berlakon lumayan, tapi sebagai karakter utama ia masih sulit membuang citra Dian sehari-hari yang kita lihat di media. Akan lebih apik jika Dian bisa menampilkan gaya berbeda saat membawakan perannya dan bisa membuat kita melupakan sosok Dian di luar filmnya.

Kartini mungkin terasa aman, ringan dan menampilkan ciri khas sentimental berlebihan khas Hanung yang seharusnya bisa ditampilkan dalam bahasa visual non verbal sederhana tapi mendalam. Namun secara keseluruhan, Kartini adalah film yang dibuat dengan baik, didukung dengan gambar-gambar cantik dari Faozan Rizal (walaupun dalam beberapa adegan di lapangan terbuka visualnya terlihat pecah), hingga performa kuat aktor-aktor di dalamnya.