Review Film La La Land by @dodon_jerry

Memutuskan menonton film drama musical adalah pilihan sulit bagi beberapa orang termasuk saya. Tapi membaca reviewnya membuat saya penasaran bagaikan terbuai dalam mimpi indah! Ya, itulah yang akan kamu rasakan ketika menonton film musikal La La Land di layar lebar. Berbeda dengan karya sebelumnya, Whiplash (2014), kali ini sutradara Damien Chazelle hadir dengan tema yang lebih ceria dan romantis, meski masih mengusung aliran musik yang sama yaitu jazz.

Layaknya kisah boy meets girl pada umumnya, alur cerita La La Land cukup mudah ditebak. Mia (Emma Stone) adalah seorang calon aktris yang sudah gagal berkali-kali dalam audisi. Demi membiayai hidupnya, Mia rela bekerja sebagai barista. Mia bertemu dengan Sebastian (Ryan Gosling), seorang pianis jazz yang bercita-cita ingin membuka klub jazznya sendiri. Bertolak belakang dengan Mia, Sebastian sangat idealis. Ia terlalu terpaku pada cita-citanya sehingga sulit mendapatkan pekerjaan tetap. Dibalut dalam scoring indah dari Justin Hurwitz, perjalanan cinta Mia dan Sebastian dikemas dengan sangat manis, menggemaskan, dan quirky. Emma Stone tampak mempesona dengan dress-dress lucu berwarna cerah, sementara Ryan Gosling charming as always dengan jasnya yang rapi. Sambil mengendarai mobil convertible klasik, mereka berkencan ke bioskop tua dan berdansa di tengah pemandangan kota LA yang cantik. Awww, lovey-dovey! Sayang, sejak bergabung dalam band jazz modern milik Keith (John Legend), perbedaan idealisme menyebabkan Sebastian dan Mia cekcok. Akankah mereka terus bersama? Dapatkah mereka menggapai mimpinya masing-masing?

Kisah tentang meraih cita-cita mungkin sudah biasa — apalagi kisah cinta yang super-romantis seperti ini bisa dibilang klise, bahkan cheesy. Akan tetapi Damien Chazelle bisa mengemasnya dengan teknik penyutradaraan yang sangat istimewa. Adegan menyanyi dan menari dalam La La Land bukan sekadar nyanyi-nyanyi biasa, namun diambil dengan teknik pengambilan gambar yang nyaris mustahil. Sejak pembukaan film saja kita sudah disuguhi banyak long-take yang membuat penonton berdecak kagum. Sebut saja menari di tengah jalan tol, keluar-masuk ruangan sempit, hingga melompat keluar-masuk kolam renang. Wow! Bisa dibayangkan betapa sulitnya menyelaraskan gerakan tarian puluhan orang dan satu kamera? Rasanya bagaikan menonton pertunjukan Broadway secara langsung! Memang ada beberapa adegan yang tidak realistis, tapi tidak perlu terlalu dipikirkan ya. Kamu harus memahami bahwa tujuan sang sutradara di sini adalah menciptakan cinematic experience yang menghibur secara visual.

Pemilihan pemeran juga merupakan kekuatan utama film ini. Emma Stone sebagai Mia yang meledak-ledak menonjol melalui ekspresi muka dan tariannya yang atraktif. Daya tarik Emma rasanya terlalu besar untuk dibiarkan. Bagian terbaik hadir saat paling candid seperti ketika ia mengejek Sebastian (Ryan Gosling) dengan menyuruh bandnya membawakan “I Ran” dari A Flock of Seagulls atau dansanya saat Sebastian bermain di band jazz. Emma yang membawakan karakter ini dengan gempita harusnya bisa dapat porsi yang lebih besar. One-woman-show yang digagas olehnya harusnya bisa menunjukkan kedalaman karakternya, namun entah kenapa tak ditampilkan sama sekali oleh Chazelle. Padahal di situlah momen penting perjuangan Mia sebagai seseorang yang berusaha menancapkan dirinya di dunia yang berusaha ia raih. Di sinilah La La Land menunjukkan masalahnya, taman ria yang menjanjikan pertunjukan besar bisa juga terasa tanpa jiwa. Di beberapa bagian film ini terasa seperti kumpulan formula yang sekadar menjalankan perintah. Konfliknya kering. Sebastian dan Mia terlihat terisolasi dari realita. Karakter mereka kadang terlalu sederhana. Orang-orang di sekeliling mereka hanyalah figuran yang tak berarti apa-apa. Sebastian dan saudara perempuannya, Mia dan teman-temannya (juga orang tuanya). Hubungan mereka kepada kenyataan yang terbatas ini menjatuhkan kedua karakter sebagai delusional.

Di luar kekurangan tersebut, film ini memenuhi tujuannya sebagai film romantis. Namun bukan romantis dalam artian pertemuan lelaki dengan perempuan. Lebih ke ide bahwa American Dream itu nyata dan luhur. Segala pengorbanan layak ditebus. Chazelle mengakhiri film dengan pesta visual yang indah, namun pesannya jelas: kesuksesan lebih manis daripada cinta yang tulus.