Review Film Maju Kena Mundur Kena by @dodon_jerry

Setelah sukses mengusung reborn-nya film DKI beberapa waktu lalu, hal ini membuat banyak produser yang kembali tergiur untuk membuat ulang karya-karya film warkop DKI (Dono Kasino Indro) yang melegenda. Termasuk film maju kena mundur kena, walaupun tanpa embel embel reborn seperti Jangkrik Bos tapi tentu penggemar film komedi di Indonesia bisa menebak apa yang terjadi dengan film ini. Tapi apakah film ini mampu membuat penontonnya tergelak?

Digarap oleh Cuk FK (“Komedi Moderen Gokil”, “Komedi Gokil 2”), film ini menampilkan trio baru bernama “WOW”, terdiri dari Wira (Wira Nagara), Ozie (Rafael Tan), dan Wulu (Lolox). Akibat bertindak ceroboh, ketiganya dipecat dari pekerjaan mereka di rumah sakit. Beruntung, nasib baik masih menaungi sehingga trio WOW bisa bekerja di suatu minimarket. Di sisi lain ada Gadis (Adinda Thomas) yang setelah memecahkan guci bernilai miliaran rupiah kepunyaan sang ayah, Jarwo (Jarwo Kwat), memutuskan kabur ke asrama puteri milik Bu Norma (Maya Wulan), tempat di mana trio WOW sering menyelinap masuk guna menemui pacar masing-masing.

Mempertahankan gayanya dalam dua film “Komedi Gokil”, Cuk FK menghujani filmnya dengan “lawakan mesum” khas Warkop era 90-an. Tapi berbeda dengan Arizal sang pengarah film-film Warkop, penggarapan Cuk FK lebih terkesan murah dan miskin imajinasi. Bahkan di titik terendahnya, guyonan Warkop masih menyimpan usaha lebih merangkai pengadeganan, mengkreasi setting komedi unik nan menggelitik.

Sedangkan film ini cenderung mengambil dari slapstick formulaik (Wulu jatuh menimpa pasien), gaya klise Warkop (kasur pasien meluncur kencang), hingga titik nadir film berupa ekspresi mesum menjijikkan trio WOW kala terpana memandangi tubuh wanita. Sensual comedy at its lowest.

Film ini memposisikan trio WOW selaku penggemar berat “Maju Kena Mundur Kena”, di mana dalam berbagai kesempatan ketiganya menonton film tersebut. Tidak ada substansi dibalik kegiatan tersebut kecuali usaha tak kreatif menjalin ikatan dengan film aslinya, sekaligus pemberian tribute yang tidak terkesan menghormati mengingat hasil akhir film tak mencerminkan kualitas pendahulunya tersebut. Alur penceritaan pun sama, ketika film Warkop DKI masih punya sinergi sebab-akibat walau alurnya berbentuk sketsa, sekuel ini mengesampingkan itu, sewaktu sejumlah konflik macam perselingkuhan Wira, kegagalan WOW mencuri cincin, Jarwo tertangkap basah sepenuhnya dilupakan tanpa menghadirkan konsekuensi.

Banyak yang kecewa dengan hasil film ini karena kembali tersandung dengan nama besar warkop DKI yang tentu menjadi bahan pembanding. Semoga lebih banyak produser dan sutradara yang menggarap lebih serius.