Browse By

Review Film – Mata Batin

Mata batin

Menunggangi arus animo horor yang lagi tinggi-tingginya, Hitmaker Studiosmenyumbangkan satu film hantu lagi di tahun ini. Dan dengan Mata Batin, mereka tampaknya benar-benar sudah menemukan jalan sebagai pencetak horor-horor cult di era kekinian.

Mata Batin hadir dengan perwujudan cerita horor yang sangat main fisik di mana adegan slasher jadi nada tertinggi. Film menerapkan formula yang sama dengan yang mereka eksperimenkan di The Doll (2016) dan diestablish lagi di The Doll 2 (2017) Aku sangat surprise saat menonton The Doll 2, film itu seoah terbagi menjadi bagian psikologikal drama dan bagian bunuh-bunuhan, dan kedua bagian tersebut bekerja dengan baik. Pada Mata Batin ini, sutradara Rocky Soraya kembali menekankan kepada drama keluarga, tentu saja dengan twist demi twist yang membawa cerita berkelok ke arah yang berdarah. Nilai minus yang kuberikan kepada The Doll 2 datang dari penggunaan trope-trope horor yang actually menjadi beban dalam penceritaan, dan aku berharap mereka mengurangi trope-trope ini di film selanjutnya. Sayangnya, hal tersebut juga termasuk yang mereka pertahankan dalam film Mata Batin.

Mata Batin belajar banyak dari film-film Hitmaker sebelumnya. Bisa dibilang, Mata Batin adalah penyempurnaan. Penggunaan plot yang bertumpuk tumpuk, membuat Mata Batin ‘mempermainkan’ tebakan penonton. Sehingga twist dalam Mata Batin, bisa bekerja dengan baik. Karakter tokohnya kuat untuk Alia dan Abel, begitu juga dengan Bu Windu. Sedangkan untuk Davin, sebenarnya masih bisa digali lebih dalam lagi. Mata Batin juga kaya dengan adegan seram dan gore, khasnya Rocky Soraya. Ini adalah film terbaik Hitmaker dan Rocky sejauh ini.

Treatment visual di Mata Batin, berbeda dari film-film Hitmaker dan Rocky sebelumnya. Movement camera lebih dinamis dan ini menyenangkan! Kualitas gambar yang tajam, pergerakan yang smooth, editing yang rapih, dan semua ini masih ditambah dengan wardrobe, make up dan artistik yang pas, gak berlebihan.

Untuk urusan suara, empuk dan renyah banget denger dialog di Mata Batin. Apalagi udah memakai Surround 7.1 juga. Musik ilustrasi juga semakin menambah keseruan dalam memainkan emosi penonton.

Jessica Mila menampilkan akting terbaiknya disini. Apalagi waktu dia kesurupan, ah itu pecah! Deni Sumargo yang tak muncul banyak, tak terlalu menguras banyak kemampuan aktingnya. Yang keren juga itu yang jadi Abel, Bianca Hello. Aktingnya juga tak kalah apik dari Jessica Mila. Begitupun Citra Prima, tak perlu diragukan lagi kemampuan aktingnya. Nampaknya akan seru juga kalau di film selanjutnya, Hitmaker bisa mempertemukan Citra Prima dan Sarah Wijayanto.

Hitsmaker Studio sepertinya masih nyaman menyelipkan banyak twist di beberapa bagian filmnya. Ada beberapa adegan yang tak disangka sebelumnya bakal terjadi. Termasuk tokoh Davin (Denny Sumargo) yang akhirnya menjadi sosok kunci dalam film ini.

Soal kengerian jangan ditanya. Rocky Soraya masih tetap cerdik memainkan perubahan angle kamera. Jangan heran jika penonton akan mendapatkan sensasi kejut yang cukup menyentak tempat duduknya. Tentunya ini juga berkat pengisian instrumen dan musik horor yang menjadi senjata andalan Rocky Soraya di setiap filmnya. Jika Anda termasuk orang yang takut dengan film horor, jangan harap bisa menonton dengan tenang. Pasalnya, kengerian di film Rocky Soraya sebelumnya, The Doll 2, masih terasa. Meski tak sesadis di The Doll 2.