Browse By

Review Film Me VS Mami by @dodon_jerry

Saya memilih untuk menonton film indonesia kali ini, setelah kemarin sempat melakukan perjalanan #travelwithmom, tergelitik juga rasanya untuk melihat film drama berbalut komedi yang bercerita tentang perjalanan seorang ibu dengan anaknya.

Berbicara ibu dan anak perempuan seperti berbicara perdebatan abadi antara kucing dan tikus. Pantas saja ada pepatah yang mengatakan bahwa ayah adalah cinta pertama anak perempuannya dalam banyak cerita film-film selalu menggambarkan tokoh ibu sebagai entah itu seorang yang kurang perhatian, atau terlalu cerewet, atau bahkan gila dan tokoh anak perempuanlah yang paling sering digambarkan sebagai yang punya ‘beef’ terhadap ibunya. Liat aja Merida di Brave (2012) mengutuk ibunya menjadi beruang. Carrie yang melepaskan all of that evil kepada ibunya. Even Max Black di serial 2 Broke Girls kerap merendahkan sosok sang ibu lewat celetuk-celetukannya.

Me vs. Mami menggambarkan hubungan unik antara ibu dan putri semata wayangnya dengan sangat kocak. Film ini get it right dengan keputusannya membuat sebuah DRAMA JALAN-JALAN BERNADA KOMEDI dari hubungan ini. Karena memang lucu melihat mereka ‘berantem’. Nyaris setiap waktu ada saja yang diributkan, meski kadang awalnya baik-baik aja.

Bagi beberapa wanita mungkin merasa cukup dekat dengan film ini, seperti melihat kejadian sehari-hari yang kembali diulang. Setting di lingkungan berbahasa Sumatera Barat membuat semakin terasa budaya Indonesia didalamnya. Peran budaya yang kuat diintegrasikan ke dalam lelucon-lelucon film ini dan toh akan tetap bekerja dengan baik karena film ini begitu ringan dan mudah untuk dicerna.

Interaksi keduanya membuat film ini teramat menghibur dan menyenangkan untuk disimak. Menyenangkan melihat mereka mencoba untuk menyelesaikan masalahn sederhana bersama-sama. Untuk sebagian besar waktu, film ini benar memfokuskan cerita kepada hubungan langsung antara kedua tokoh ini, dengan elemen jalan-jalan, pekerjaan, asmara, ataupun sedikit misteri disematkan sebagai penghias.

Jika film road trip adalah film petualangan yang terjadi di dunia nyata, maka film ini adalah film petualangan yang amat jenaka. Diisi oleh interaksi dua orang yang sangat berbeda secara karakter yang sangat asli, berusaha menyampaikan pesan yang sudah sering kita dengar di film-film lain dengan cara yang tidak-biasa dan caranya ini tidak selamanya berujung bagus. Film ini berakhir dengan terlalu berlebihan dan mengirim penonton pulang dalam tawa yang bukan lagi karena tertawa oleh sesuatu yang lucu. Film yang lumayan menghibur, bahkan film ini hidup karena penampilan dan warna tokoh-tokohnya. Juga tidak melupakan elemen budaya, dalam hal ini budaya Sumatera Barat. Rancak Banaaaa.