Browse By

Review Film Ouija: Origin Of Evil by @dodon_jerry

Siapa yang tidak tahu papan ouija yang bisa dijadikan sarana berbincang dengan roh dari alam lain bahkan bisa mengintip mahluk dari dimensi lain melalui lubang kaca yang digunakan untuk mengintip. Film ingin ingin mengulang kesuksesan film terdahulunya. Saya juga sempat mendapat info bahwa film ini bukan sekuel namun prekuel dari film sebelumnya. Saya lebih memilih menonton di bioskop agar bisa merasakan auranya. Apakah mampu membuat histeris?

Ouija: Origin of Evil sekali lagi memberi anjuran untuk tidak menganggap dunia lain itu sebagai bahan lelucon. Jangan pernah bermain sendiri, jangan bermain di kuburan dan selesai bermain jangan lupa pamitan sambil bilang “goodbye”, itulah ketiga aturan penting dalam papan ouija yang tidak boleh dilanggar. Alice Zander (Elizabeth Reaser) mungkin tak akan mengalami kemalangan jika saja dia mau patuh dengan aturan tersebut, tapi nasi sudah jadi bubur, kehidupannya beserta dua anak perempuannya, Lina (Annalise Basso) dan Doris (Lulu Wilson) berubah menjadi seperti mimpi buruk setelah kedatangan sosok dari alam gaib.

Film dibuka dengan kemunculan logo Universal versi jadul. Film ini memang akan menceritakan awal mula kisah Ouija yang menghantui sebuah rumah di Los Angeles yang terjadi pada film pertama Ouija (2014). Ouija: Origin Of Evil (2016) menggunakan setting tahun 1967, dengan baju-baju rapi dan rambut bob keluar yang ikonik. Film kali ini masih menggunakan rumah yang sama seperti di film sebelumnya. Fim Ouija: Origin Of Evil memiliki tempo yang cukup lama di bagian awal, lalu terburu-buru di bagian akhir. Ide ceritanya sebenarnya sangat pasaran, menampilkan keluarga single parent yang berjuang untuk bertahan hidup, ditambah dengan kenakalan anak remaja yang bikin pusing.

Jika dibandingkan dengan film sebelumnya, Ouija: Oirigin Of Evil ini tidak seseram seperti yang ditampilkan di trailer. Memang, dengan setting jadul, suasana rumah terasa lebih dark dan mencekam, namun itu tidak menambah tingkat horor secara signifikan. Hantu yang ditampilkan pun sebenarnya typical hantu di film-film horor masa kini. You’ll see.

Untuk akting, nggak ada yang spesial. Jangan terlalu berharap banyak pada akting Lulu Wilson. Dia mampu memerankan tokoh anak kecil Doris yang manis, tapi tidak terlalu memukau saat sudah mulai mengalami keanehan. Terasa dipaksakan, dan hanya mengandalkan membelalakkan mata. Not my cup of tea. Ada juga satu adegan yang cukup mengagetkan, namun karakter yang ada tidak mengalami kehebohan yang cukup meyakinkan.

Penyuka film horor, mungkin film ini bukan pilihan film yang grand, namun juga tidak boleh dilewatkan. Ouija: Origin Of Evil masih memberikan jeda bagi kamu untuk bernapas, jadi tidak melulu terengah-engah karena ada hantu. Kalau belum menonton film pertama Ouija pun, kamu tidak akan pusing karena ceritanya nggak terlalu nyambung. Dilihat dari akhirnya, sepertinya film ini akan ada lanjutannya.

Sebenarnya agak berharap banyak karena film ini diproduseri Michael Bay, namun sepertinya dia tidak terlalu memberikan impact positif bagi Ouija: Origin Of Evil. Were you even here, Michael Bay? Jika dibandingkan dengan film horor sejenis, anak kecil yang diganggu setan, film ini tidak bisa ada apa-apanya dibandingkan The Conjuring 2.

Ouija: Origin of Evil bisa dikatakan tak mengecewakan dalam urusannya menakuti, terima kasih kepada kepedulian Mike Flanagan yang tidak melulu bergantung pada penampakan mengagetkan, tetapi juga merancang kengerian dengan memanfaatkan atmosfir rumah yang memiliki masa lalu kelam tersebut. Tidak sekedar dijadikan sebagai ajang uji nyali, Ouija: Origin of Evil juga (untungnya) ingat untuk menceritakan kisahnya secara utuh, selagi sibuk dalam menyiapkan segala bentuk jump scares—sesuatu yang biasanya dilupakan horor-horor lainnya. Porsi yang seimbang antara membangun suasana creepy, momen-momen mengejutkan dan juga bercerita, membuat Ouija: Origin of Evil tidak akan terasa melelahkan, berbeda dengan kebanyakan film horor yang habiskan durasi hanya dengan menumpuk berlapis-lapis jump scares. Mike Flanagan menyadari lebih baik memiliki satu atau dua momen mengerikan yang akan nyangkut hingga penontonnya pulang ke rumah, ketimbang memberi banyak penampakan tetapi efek ketakutannya hanya bersifat sementara atau bahkan tidak ada sama sekali.