Review Film Outcast

Kali ini, Nicolas Cage memerankan seorang crusader sejati. Gallain (Nicolas Cage) mulanya adalah seorang ksatria pengabdi raja yang setia. Baginya, perang merupakan urusan lelaki dan haram hukumnya untuk membunuh wanita dan anak-anak.

Namun prinsip itu diporak-porandakan ketika ia menyaksikan Jacob (Hayden Christensen) berdiri dengan pedang berlumuran darah sementara di hadapannya tergeletak anak-anak dan wanita yang telah kehilangan nyawa. Gallain kecewa dan menghilang ke Timur Jauh, Tiongkok.

Itulah pembukaan dari film Outcast. Cerita film lalu beralih ke tanah Tiongkok dan berfokus pada seri kisah yang sama sekali lain. Dunia Barat beranjak ke dunia Timur.

Polemik yang disuguhkan kemudian ialah soal Kekaisaran China. Sang Kaisar percaya bahwa kerajaannya akan langgeng kalau dipimpin oleh kaisar yang cinta damai, bukan haus darah dan perang. Keyakinan itu membuatnya untuk lebih memilih si bungsu, Zhao ketimbang Shing.

Karena itulah kaisar akhirnya ditusuk oleh Shing (Andy On), putra kaisar sendiri. Ini berbuntut pada pengejaran putri Lian (Crystal Liu Yifei ) dan pangeran Zhao (Bill Su Jiahang), yang melarikan diri dari kekejian Shing, saudara kandung mereka. Shing tidak terima lantaran sang ayah lebih memilih adiknya Zhao untuk memegang tahta kekaisaran.

Baru kemudian petualangan Jacob mencari Gallain membawa dua dunia: Barat dan Timur bertemu. Jacob sesungguhnya tengah mencari Gallain untuk meluruskan fakta bahwa sebenarnya ia tidak menghabisi wanita dan anak-anak dalam peperangan tersebut. Akan tetapi dalam perjalanan tersebut Jacob yang menjadi pecandu opium,diminta oleh putri Lian untuk membantu proses suksesi Zhao menjadi kaisar.

Dalam petualangan itu, Jacob akhirnya bertemu Gallain dan bersama-sama menyelamatkan Zhao dari kekejian Shing sampai Gallain dan gerombolannya dihabisi oleh tentaranya Shing. Namun endingnya adalah Zhao berhasil menduduki tahta sebagaimana itu memang haknya.

Kendati sebagian besar film ini digarap di daratan Tiongkok dengan latar belakang masyarakat China namun penonton dijauhkan dari pesona kungfu, andalan film-film dari China. Teknik duel yang ditampilkan dalam film ini lebih memamerkan perang masal yang gedebak-gedebuk dan kurang mengangkat seni bela diri. Untungnya selama 99 menit penonton diyakinkan oleh jalan cerita yang enak dan empuk. Nalar penonton bisa menemukan benang penyambung dua dunia yang berbeda tersebut.

Baik Barat maupun Timur sama-sama ingin menjunjung sikap baru terhadap dunia yang lebih damai dan jauh dari peperangan yang tidak adil. Keduanya ingin menempatkan siapa pada tempat yang benar. Keduanya sama-sama melihat angkara murka mesti ditepis dari tatanan masyarakat dan lebih membela kaum lemah.
Walau pun demikian, film yang dirilis oleh Arclight Films ini tetap tidak bisa melarikan diri dari pedang, duel, panah dan kematian.

Semua tokoh merupakan pribadi-pribadi yang tersingkirkan. Ini sesuai dengan judul film ini: Outcast. Jacob merasa terbebani oleh sejarah darah dan anggapan yang keliru dari Gallain.

Ia terasing dari kebenaran fakta. Sedang Gallain pun merupakan sosok yang memilih untuk mengucilkan diri dari masyarakat dengan menyepi di bukit di Tiongkok. Ia tidak mau lagi berurusan dengan negara atau kehidupan yang sudah rusak. Walau nyatanya ia malah menjadi bandit. Juga Lian dan Zhao mesti hidup dalam pelarian. Mereka tersingkir dari kehidupan istana karena keirian Shing.

Sebagaimana semua orang tentu mengharapkan ending yang bagus,akhirnya penonton dengan lega mendapat jawaban dari film bahwa segala hal harus diluruskan agar berjalan dengan apik. Jacob telah menjelaskan pada Gallain kesalahpahaman sebelumnya. Putri Lian telah memenuhi janjinya kepada sang ayah untuk menjaga Zhao. Zhao melanjutkan tahta kekaisaran China.

Fakta telah diluruskan

Sayang sekali Nicholas Cage bermain biasa saja. Sebagai artis veteran seharusnya bisa menunjukkan kemampuan dan akting yang lebih baik. namun sayang, terlalu banyak yang menganggap film ini berkesan asal selesai saja