Review Film Railroads Tiger by @dodon_jerry

Siapa yang kangen dengan Jackie Chan? Masihkah dia hadir di film dengan spirit-nya yang dahulu? Ringan, kocak, dan menghibur, Railroad Tigers mengajak kita bersenang-senang dengan sajian film anyar Jackie Chan yang mengingatkan kita pada gaya film-film lawasnya terdahulu. Jadi Penasaran kan ya? Dengan sempalan plot para pejuang masa pendudukan Jepang, Railroad Tigers menggelar kisah aksi yang dibalut komedi khas Chan.

Di warsa 1941, pekerja buruh kasar, Ma Yuan (Chan) bersama gengnya yang dijuluki macan-macan rel kereta (railroad tigers) kerap merampok kereta Jepang yang melintas di desa mereka dan mencuri persediaan sandang pangan yang dibagikan ke rakyat kecil. Aksi ala Robin Hood ini lantas berubah menjadi misi patriotik kala mereka menolong seorang tentara pemberontak yang terluka. Sang pejuang memiliki tugas rahasia untuk mencuri bom tentara Jepang untuk meledakkan jembatan lajur kereta api yang vital bagi transportasi para tentara negeri matahari terbit itu. Ketika sang pejuang tertangkap oleh Jepang, Ma Yuan dan grupnya nekad melanjutkan misi tersebut dengan gagah berani.

Harus diakui, aksi bela diri Chan yang kerap bergerak cepat, seru, akrobatik namun komikal adalah jualan utama dari Railroad Tigers ini dan Chan seakan menyadari hal itu sehingga porsi adegan kelahinya begitu mendominasi layar namun efektif dan tak menjemukan. Begitu menggembirakannya karena cukup lama tak disuguhi film laga Mandarin yang demikian, sehingga Chan patut untuk diacungi jempol untuk sajian aksinya yang kocak dan menghibur ini. Tapi bukan berarti Railroad Tigers ini tanpa cela. Dengan durasi yang lumayan panjang (lebih dari 2 jam) Railroad Tigers cukup tertatih-tatih di awal film, termasuk menyajikan kredit karakter-karakternya yang begitu sering dan mengganggu. Namun, untungnya alur menjadi dinamis dan melaju cukup mulus setelahnya. Seakan tahu jika filmnya bertujuan menghibur dan tak muluk-muluk, maka alurnya dibuat sesederhana mungkin namun tetap konsisten dan dikemas menyenangkan.

Berlatar era pendudukan Jepang, Railroad Tigers juga menyajikan tata artistik dan teknikal yang cukup meyakinkan, termasuk replika kereta api yang terlihat otentik dan menjadi setting utama di adegan klimaksnya. Bicara soal adegan klimaks, di tangan sineas Ding Sheng, yang sebelumnya pernah bekerja sama dengan Chan di beberapa film (Little Big Soldier, Police Story : Lockdown), Railroad Soldiers memiliki adegan pamuncak yang seru, menegangkan dan panjang serta mengingatkan kita pada adegan klimatik Lone Ranger-nya Gore Verbinski. Di sini Ding Sheng menggelar habis-habisan adegan stunts, hingga tampilan antagonis klasik yang sukar untuk dikalahkan.

Tampil bersama sang putra, Jaycee, Chan dan banyak aktor pendukungnya yang diisi pemain asal Tiongkok serta bintang-bintang muda jebolan boy band, memang tidak berlakon istimewa. Tapi satu hal yang patut diapresiasi adalah Chan tak memaksakan filmnya menjadi sajian pretensius yang serius. Seakan tahu kapasitasnya sebagai film yang bertujuan melepas tawa dan stres, Railroad Tigers mungkin berhasil menjalankan misinya tersebut dan mengingatkan kita akan gaya film-film lawas Chan yang slapstick, konyol, dan penuh aksi laga berbahaya yang ditampilkan dengan memikat, kocak serta menyenangkan.