Browse By

Review Film Rogue One: A Star Wars Story by @dodon_jerry

Saya tertarik menonton film ini karena melihat review-nya yang mengatakan tidak perlu tahu film Star Wars sebelumnya untuk bisa menonton film ini. Bearti saya tidak harus melihat film ini di seri-seri sebelumnya. Jadilah saya menontonnya dengan semangat. Bagi fans Star Wars ini adalah sesuatu yang menyenangkan dan ditunggu-tunggu. Film ini dibuat sebagai pengisi antara rilisnya Star Wars VII dan Star Wars VIII. Meski pun begitu, film ini mengambil setting cerita dimasa sebelum Star Wars IV.

Rogue One: A Star Wars Story menceritakan tentang para intel Rebel Alliance yang menjalankan misinya untuk mencuri blueprint Death Star, senjata penghancur planet yang dimiliki Galactic Empire. Dalam misinya, pasukan Rebel yang dipimpin oleh Cassian Andor (Diego Luna) merekrut Jyn Erso (Felicity Jones) anak dari Galen Erso (Mads Mikkelsen) sang perancang Death Star. Mereka juga dibantu oleh dua orang dari planet Jedha, seorang buta bernama Chirrut Imwe (Donnie Yen) dan seorang pembunuh bayaran bernama Baze Malbus (Jiang Wen).

Ini tidak bisa dikategorikan sebagai film Star Wars biasa. Rogue One: A Star Wars Story memiliki konsep cerita yang diumumkan terlepas dari semua tujuh episode yang sudah dirilis; walau sebetulnya, film garapan Gareth Edwards ini mengambil ruang kisah menuju Episode IV: A New Hope (1977) selaku rilisan Star Wars yang pertama menyapa publik. Apalagi seolah enggan mengikuti budaya membuka film yang dilakukan pendahulunya, Rogue One tidak diawali dengan teks yang merayap soal latar belakang cerita yang hendak dikonsumsi penonton dan berhubung kini Michael Giacchino yang bertanggung jawab atas scoring film, orkestrasi pembukanya pun sudah tak lagi memakai lagu tema asli gubahan John Williams. Seperti pada Episode VII: The Force Awakens (2015), protagonis utama Rogue One merupakan seorang perempuan yang berjuang sebatang kara selama hampir seumur hidupnya. Namanya Jyn Erso yang diperankan Felicity Jones. Ia anak dari Galen Erso (Mads Mikkelsen), mantan ilmuwan resmi Galactic Empire yang dipaksa masuk kembali untuk merancang senjata pemusnah massal bernama Death Star.

Pujian layak diberikan kepada perancang karakter robot K-2SO. Bentuknya melayangkan pikiran kepada The Iron Giant atau robot dalam film Castle in the Sky (1986) arahan Hayao Miyazaki. K-2SO sering mengundang tawa berkat berbagai one-liner yang jenaka (pengisi suaranya adalah Alan Tudyk), tak jauh berbeda dari C-3PO pada film-film Star Wars lain namun terkadang dengan humor yang lebih usil. Dengan demikian Kaytoo—panggilan akrab robot ini—dapat membuat banyak orang jatuh hati, baik anak-anak maupun orang dewasa.

Namun Rogue One baru benar-benar memukau ketika sudah tiba pada babak peperangan. Baku tembak senjata laser, ledakan kecil juga besar, pemanfaatan robot, hingga pertempuran udara yang dahsyat nan sengit; bisa jadi film ini menyimpan adegan perang paling banyak dalam saga film Star Wars. Eksekusinya pun luar biasa, kekacauan demi kekacauan yang ditampilkan mampu membuat mulut menganga. Ditambah dengan penggunaan kamera genggam yang seolah membawa penonton ke tengah medan perang. Meski terbata-bata dalam pembangunan kisah, harus diakui bahwa Rogue One menggarisbawahi kata “perang” pada frasa perang bintang.