Review Film Spider-Man: Homecoming by dodon_jerry

Spider-Man Homecoming adalah salah satu film yang paling dinantikan kehadirannya di tahun ini. Dari banyak selentingan yang beredar ini adalah film spiderman terbaik yang pernah dibuat karena menyerupai komik dengan tokoh utama yang muda dan tidak bertampang terlalu tua.

Spider-Man: Homecoming menceritakan kehidupan Peter Parker (Tom Holland) setelah dia digigit laba-laba radiasi dan menjadi Spider-Man. Film ini adalah kelanjutan dari aksi Spidey bersama Tony Stark/Iron Man (Robert Downey Jr.) dan timnya di perang bandara di film Captain America: Civil War.

Sejak pulang ke New York dari misi tersebut, Peter seolah terobsesi untuk bisa masuk menjadi salah satu anggota Avengers. ABG berusia 14 tahun itu kemudian bertemu lagi dengan Tony dan menantikan misi selanjutnya. Sayang, Tony yang memandang remeh Peter tak kunjung memberikan misi baru.

Akhirnya Spider-Man dikemas dengan karakter yang menyerupai komik tanpa kelihatan terlalu komikal. Setelah inkarnasi Spider-Man terakhir yang tidak begitu menggigit, kini Spider-Man menyapa kita lagi dengan cara yang amat personal. Spider-Man: Homecoming boleh jadi merupakan film Spider-Man yang tak hanya menawarkan aksi spektakuler, tapi juga digarap dengan sepenuh hati. Jika Spider-Man: Homecoming adalah sesosok makhluk hidup, maka dia layak mendapat pelukan yang erat dan hangat.

Di dunia komik, Spider-Man adalah salah satu karakter yang paling populer sepanjang masa, saingannya mungkin hanya Batman. Namun, di dunia film Spider-Man tenggelam oleh digdayanya Iron Man. Iron Man sudah mencetak pemasukan US$ 2 miliar dari film-filmnya. Itu belum dihitung film di mana Iron Man hadir, seperti Avengers dan Captain America: Civil War. Tidak mau Spider-Man disia-siakan, Sony Pictures yang memegang hak produksi karakter ini pun bekerja sama dengan Marvel Studios untuk membuat manusia laba-laba ini kembali mendapatkan hati penonton.

Kolaborasi Marvel Studios dan Sony Pictures ini memang memuaskan. Jika Sam Raimi berhasil menancapkan sebuah standar film superhero saat Spider-Man rilis di tahun 2002, film ini mampu menampilkan Spider-Man yang paling pas. Dari segi karakterisasi, pemilihan pemain, tema, dan juga alur cerita, film ini benar-benar seperti Spider-Man yang keluar dari panel komik. Raimi bukannya tidak berhasil melakukan itu. Dia sukses menghidupkan Spider-Man secara visual, tetapi kekurangan versi lawas Spider-Man adalah sosok yang terlalu karikatural.

Alur cerita Spider-Man: Homecoming dibuat berbeda dari versi 2002 ataupun versi 2012 besutan Marc Webb. Di versi baru ini, tidak ada lagi kisah Peter Parker yang larut dalam perasaan bersalahnya akibat tewasnya Paman Ben. Di versi ini juga tidak perlu lagi diceritakan dengan detil bagaimana dia menjadi Spider-Man. Spider-Man: Homecoming mengambil tempat sesaat setelah Peter Parker membantu Tony Stark menghentikan Captain America di film Civil War.

Pergelutannya berkutat di kesehariannya sebagai anak sekolah sekaligus mencari cara agar Iron Man tertarik merekrutnya menjadi anggota Avengers. Demi menyajikan film Spider-Man yang lebih fresh, Spider-Man: Homecoming pun dikembangkan dengan cara yang berbeda. Di sini Peter Parker dikembangkan dengan cara lebih personal dan tampil membumi sebisa mungkin. Peter Parker pun dibuat seandainya anak seusianya tiba-tiba mendapat kekuatan super. Manusia biasa mendapat kekuatan super tentu memiliki perjuangan yang tidak mudah. Mulai dari bagaimana mengontrol kekuatannya, sampai ke hal yang memengaruhi perkembangan kepribadiannya. Dan Tom Holland sukses memerankan Peter Parker yang sangat menyenangkan.