Review Film The Mummy by dodon_jerry

Agak berat sebenarnya untuk menonton film ini kembali, dari beberapa review film ini dari tahun 1997 belum ada yang bisa mengambil hati kritikus film. Lalu setelah 20 tahun film ini muncul apakah di tahun 2017 ini akan ada perubahan signifikan? Apalagi kabarnya produser dan sutradara berhasil membujuk dua nama besar untuk ikut campur di film ini. Mari melongok sejenak.

Tiga tahun berselang, tugas mengawali franchise diemban The Mummy garapan Alex Kurtzman (People Like Us), di mana Tom Cruise berperan sebagai Nick Morton, seorang militer Amerika Serikat yang tengah bertugas di Irak. Ambisi menemukan harta karun terpendam justru mendorong Nick bersama arkeolog bernama Jenny (Annabelle Wallis) pada penemuan sarkofagus peninggalan kerajaan Mesir. Tanpa keduanya tahu, di dalamnya terdapat kutukan hasil perjanjian Puteri Ahmanet (diperankan dengan kombinasi sempurna antara karisma dan sensualitas milik Sofia Boutella) dengan Seth sang Dewa Kegelapan yang dahulu menciptakan pertumpahan darah akibat perebutan kekuasaan.

Keseruan, ketegangan, kesenangan. Tiga poin tersebut substansial membangun blockbuster, dan kentara ada usaha menyatukan ketiganya. Namun masalah timbul kala Kurtzman kurang cakap mengatur tone terlebih soal komedi. Kurtzman tak pandai memainkan punchline, membiarkan selipan humor di naskah berlalu tanpa penekanan. Contohnya ketika Jenny mengungkapkan bahwa Nick adalah orang baik karena berkorban menyerahkan satu-satunya parasut pada Jenny, yang lalu dijawab singkat oleh Nick, “aku kira ada dua parasut”. Pengadeganan Kurtzman memancing kebingungan. Apakah itu momen komedik? Ataukah serius yang menyatakan jika Nick tak sebaik dugaan Jenny?

Keberadaan Tom Cruise untungnya lumayan menolong. Sang aktor mampu menyeimbangkan penampilan meyakinkan sebagai action hero tangguh dan pembawaan komedik. Bukan kali pertama Cruise memamerkan bakat tersebut, bukan pula yang tergila (masih dipegang Tropic Thunder), tapi melihatnya dihempaskan oleh Sofia Boutella atau menerima tendangan dari Annabelle Wallis tepat di wajah nyatanya luar biasa menghibur. Pun walau urung dimanfaatkan maksimal, fakta bahwa Nick bukan one-man army layaknya banyak karakter Cruise lain, pula sedikit menyentuh ranah antihero di paruh awal, membuatnya menarik. Masih menghabiskan mayoritas waktu berlarian (like Tom Cruie always does in his movies), Nick lebih sering tak berdaya menghadapi Ahmanet, setidaknya sebelum klimaks.

Kelemahan terbesar The Mummy terletak pada inkonsistensi terkait tensi. Diawali flashback ke Mesir kuno, daya tarik meningkat kala Ahmanet pertama kali beraksi di dunia modern, mengumpulkan pasukan memakai cara yang mengingatkan akan Lifeforce-nya Tobe Hooper. Reference lain bagi horor klasik hadir sewaktu Vail (Jake Johnson) “menghantui” Nick guna mengingatkannya akan teror yang segera menyerang. Situasi absurd itu dikemas menggelitik, sebagaimana situasi serupa di An American Werewolf in London. Lalu tensi menurun, bahkan mencapai titik nadir sewaktu film berkutat di pertemuan Nick dengan Dr. Henry Jekyll (Russell Crowe). Momen itu berlangsung lama tetapi tanpa injeksi emosi maupun tambahan informasi. Apa sebenarnya organisasi yang Jekyll pimpin misalnya, tak pernah diungkap.

Yang perlu diacungi jempol adalah penampilan Sofia Boutella sebagai Ahmanet. Boutella mampu menampilkan sosok seorang putri Fir’aun yang sadis, beringas, manipulatif, dan ambisius. Aksinya saat menjadi mumi yang bangkit dari kubur juga cukup memukau, membuat para penonton merasakan bulu kuduknya berdiri sekejap, terutama saat Ahmanet menghisap jiwa orang-orang yang dia temui demi mendapatkan kembali kekuatannya.

Bagian terbaik dari film ini adalah dari sisi kejutan yang diberikan. Mirip seperti film-film zombie lainnya, para mayat yang bangkit dari kubur terus mengejar pemeran utama hingga akhir film. Adegan pertempuran yang terjadi antara manusia dan mummy juga cukup seru dan mengagetkan, ditambah dengan efek audio yang mengiringi.

Sebagai film pembuka dari dunia Dark Universe dari studio Universal, film ini memang tidak terlalu mengesankan. Cerita yang mudah ditebak menjadi poin lemah, namun penampilan Sofia Boutella serta faktor mengagetkan dari mayat yang bangkit dari kubur patut diacungi jempol. Sebagai hiburan,The Mummy cukup bisa dinikmati oleh pecinta film. Tetapi jangan berharap banyak.