Browse By

Review Film Warkop DKI Reborn Part 2

Semua orang akan bertanya apakah sekuel ini akan lebih sukses dari yang pertama setelah penangkapan Tora Sudiro? Memenuhi hampir semua studio bioskop di Pontiank dan Singkawang. Setelah menghancurkan lukisan mahal dan terlilit hutang 8 miliar, trio Warkop DKI + Shopie pergi ke Malaysia untuk mencari harta karun, tapi yang akan mereka temui di sana adalah sesuatu yang sangat “mengejutkan”.Dan tentu saja perjalanan mereka akan menemui banyak hambatan sampai akhirnya mereka akan menemui Big Boss yang sebenarnya.

Inti cerita yang awalnya mengejar begal. terlilit hutang lalu mencari harta karun saja sudah bisa menggambarkan betapa kacaunya cerita film ini. Cerita semakin ke sini malah semakin tidak jelas yang dijamin akan membuat bingung siapapun yang menontonnya.

Selain 4 tokoh yang sudah ada sebelumnya yaitu Dono (Abimana Aryasatya), Kasino (Vino G Bastian), Indro (Tora Sudiro), dan Shopie (Hannah Al Rashid), Part 2 kedatangan tokoh baru yaitu Nadia (Fazura), seorang peneliti dari Malaysia yang akan membantu mereka untuk mencari pulau tempat harta karun berada. Indro asli tetap muncul sebagai cameo / halusinasiTora Sudiro meskipun tidak sebaik Part 1.Tidak ada perubahan kualitas akting untuk para aktor, tapi cerita absurb yang dihadirkan malah merusak akting mereka, entah kenapa film ini memiliki twistsekelas Comic 8 (tapi lebih jelek) yang sangat GeJe dan tidak cocok untuk film Warkop yang seharusnya bergenre komedi (karena setidaknya Comic 8 memiliki dasar cerita yang kuat).

Tidak melulu buruk, Berita bagus untuk para penonton, tiada kelakar yang direduksi dalam Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 2 demi memberi ruang lebih bagi sesi petualangan maupun aksi. Malahan, Anggy Umbara beserta dua penulis skrip, Bene Dion Rajagukguk dan Andi Awwe Wijaya, memilih untuk melipatgandakannya. Sebuah keputusan yang berpotensi mendatangkan ‘kerusuhan’ di dalam bioskop. Sebentar, sebentar, ‘kerusuhan’? Ya, saat saya menontonnya di Gala Premiere beberapa waktu lalu, suasana senyap tak pernah sekalipun terjadi. Gelak tawa heboh dari penonton hampir selalu terdengar di sepanjang durasi. Betapa tidak, sedari menit pembuka yang tepat melanjutkan apa yang tertinggal dari Part 1, penonton telah dihujani dengan banyolan-banyolan penggelitik saraf tawa meliputi keributan dengan penjual sabuk, toko serba KW yang memberi penghormatan ke Sama Juga Bohong, serta pertengkaran akibat lokasi toilet.

Baru juga mereda, tawa berderai-derai lain dapat dipastikan muncul saat trio Warkop DKI beradu mulut dengan penjaga perpustakaan bersuara toa. Jika kamu berpikir bahwa humornya tidak bisa lebih lucu lagi, tunggu sampai kamu dibawanya mengikuti kelima tokoh dalam film menjejakkan kaki di pulau seram tak berpenghuni. Dimulai dari sini, kegilaannya semakin tak terbendung apalagi tatkala mereka bersentuhan dengan televisi ajaib yang memberi tawa heboh itu. Dilontarkan secara gesit dalam bentuk beraneka ragam (entah dialog sarat referensi yang terkadang nyentil, situasi ganjil, atau slapstick) dengan ketepatan waktu yang layak diacungi jempol membuat sebagian besar humor berhasil mengenai sasarannya.