Review Film Wonder Woman by dodon_jerry

Sudah beberapa kali sosok Wonder Woman hadir di beberapa sekuel film DC. Mereka mencoba memperkenalkan sosok pahlawan wanita yang jarang di dunia super hero. Saya sendiri juga bertanya-tanya, apakah film sekelas Wonder Woman juga akan dibuat versi gelap ala DC? Kalau tak menonton langsung pasti tidak akan tahu. Apalagi ada Gal Gadot di sana. Saya sepertinya harus menonton.

Usai 75 tahun menunggu, Wonder Woman akhirnya dibuatkan film layar lebar perdananya. Gal Gadot mendapat kesempatan besar berperan sebagai superhero wanita kreasi DC Comics tersebut. Menariknya lagi, film ini dibesut oleh sutradara wanita, Patty Jenkins. Wonder Woman memang bukan film superhero wanita pertama di layar lebar.

Sebelumnya ada Elektra (2005), superhero Marvel yang diperankan oleh Jennifer Garner. Tapi secara kualitas, Wonder Woman versi Jenkins jelas jauh lebih baik dan lebih menghibur. Bahkan seperti diakui sejumlah kritikus film di Hollywood, inilah film superhero terbaik DC setelah trilogi Batman kreasi Christopher Nolan.

Wonder Woman versi Gal Gadot tak menjadi kuat dengan cara yang banyak ditempuh banyak pahlawan super lainnya. Meski berasal dari tempat asing seperti Superman, kemampuannya mesti ditempa dulu oleh guru dan ibunya yang keras. Walau punya peralatan tempur yang canggih seperti Batman, ia mesti mendapatkannya dengan mencuri. Bisa dibilang, pemicu utamanya adalah keberanian dan hati yang besar.

Sudah lama rasanya sejak Christopher Nolan mengenalkan konsep film pahlawan super yang harus gelap, bergulat dengan kenyataan dan kepribadian yang tersiksa. Sejak itu setiap adaptasi komik mengikuti jalan tersebut dan berlomba-lomba jadi depresif. Sekarang ketika dunia makin suram saja, Wonder Woman seperti mengajak lagi penonton melihat ke hati terdalam: mungkin cinta yang kita butuhkan.

Di film ini, Wonder Woman adalah perempuan polos dengan pikiran sederhana: ia ditakdirkan untuk menghentikan Dewa Perang, Ares dan kalau mitos yang ibunya ceritakan benar, dunia bakal jadi tempat yang lebih baik. Gal Gadot membawakannya dengan kelembutan yang berpadu dengan keteguhan yang dikombinasikan dengan pas. Penonton bisa melihat tak ada kebencian di dirinya, hanya keinginan utuh untuk berbuat baik. Pahlawan super yang jarang ada dan memang dibutuhkan di situasi dunia yang makin genting ini.

Transformasi dari gadis lugu, terkejut mendapati kenyataan peperangan sampai menjadi wanita tangguh dilakoninya dengan pas dan meyakinkan. Setelah tampil lebih dulu di Batman v Superman: Dawn of Justice, Gal Gadot yang dikenal lewat seri film Fast and Furious menampilkan akting yang lebih baik lagi.

Chris Pine juga tak kalah memesona. Chemistry Gadot dan Pine juga terjalin dengan menarik. Pemain lainnya juga punya porsi yang tak kalah penting, termasuk David Thewlis yang perannya jadi twist menjelang akhir film. Jadi, menurut saya Wonder Woman it’s a wonderful superhero movie yang harus kamu tonton.

Karakter-karakter pendamping Wonder Woman dihadirkan dengan menggelitik. Seorang indian, seorang aktor, dan seorang Inggris pemabuk. Chris Pine menjadi Steve Trevor yang dimaksudkan menjadi pendukung yang bisa menyeimbangkan Wonder Woman yang keras kepala. Ia juga tak punya misi apa-apa, hanya ingin berperan sedikit saja dalam keselamatan dunia.