Browse By

Review film X – Men Apocalypse by @dodon_jerry

Kalau menonton film super hero saya selalu punya ekspektasi tinggi dengan teknologi CGI yang digunakan. Pasti banyak adegan ciamik disertai ledakan yang hebat dan juga aksi dari masin-masing super hero. Banyak yang mengatakan film ini “biasa saja” tapi saya percaya bagi fanboy film X-Men pasti sudah menunggu film ini sebagai penutup dari trilogi cerita X-Men seri ini.

X-Men: Apocalypse ini menceritakan tentang Apocalypse, dewa yang katanya sudah ada sejak awal peradaban. Dewa dari para mutan. Tokoh antagonis Apocalypse sendiri diperankan sama Oscar Isaac. Ia bangkit kembali setelah ribuan tahun terkubur dan memengaruhi Magneto (Michael Fassbender) dan para mutan lainnya yang sedang dalam kekacauan, untuk membentuk sebuah tatanan dunia baru.

Nasib Bumi pun bergantung pada mutan (yang masih bertahan di sekuel Days of Future Past) yang belum berada dalam pengaruh jahat Apocalypse; Profesor X (James McAvoy), Raven aka Mystique (Jennifer Lawrence), dan Hank the Beast (Nicholas Hoult) yang memimpin para mutan muda untuk menghentikan niat jahat Apocalypse menghancurkan peradaban manusia ini.

Sebenarnya, film ini lebih dalam menceritakan mengenai sebuah obsesi seorang Apocalypse yang ingin menguasai dunia. Dia ingin menjadi dewa di peradaban, sebelumnya dia dikatain dewa abal-abal. Kasian banget.

Dari segi visual effects dan music score, film ini patut diacungi dua jempol, dengan keberhasilannya menggambarkan dunia yang hancur akibat ulah En Sabah Nur dan Four Horsemen, serta “ditemani” oleh musik yang apik. Namun, dari segi plot cerita, ­X-Men: Apocalypse minim aksi dan terlalu banyak bertabur drama, tidak seperti predesesornya. Karakter yang ada juga kurang dikembangkan ceritanya, seperti mengapa En Sabah Nur, secara tiba-tiba, dikhianati pengikutnya sendiri pada awal film. Four Horsemen juga digambarkan tidak begitu jelas, dengan relasi antar-teammate yang kurang menonjol. Seharusnya, sebagaimana para antagonis yang bekerja secara berkelompok di film-film lain, film ini menggambarkan bagaimana para Four Horsemen dan En Sabah Nur menyusun rencana penghancuran dunia, sehingga penonton tidak menganggap para Horsemen sebagai budak yang mau-mau saja menjalankan kemauan sang tuan. Four Horsemen juga hanya sedikit beraksi dan seakan-akan En Sabah Nur melakukan one-man show. Yang saya sayangkan pula adalah tokoh Jubilee yang penampilannya hanya sebentar dan tidak ikut beraksi. Padahal, sesuai dengan yang ada di komik, kemampuannya bisa membantu para X-Men.

Scene stealers yang patut diapresiasi dalam film ini adalah Sophie Turner dan Evan Peters, yang kembali memerankan Peter Maximoff. Turner tampil mengesankan sebagai Jean Grey, yang tampak lebih dewasa dan tidak volatil, berbeda dengan film X-Men 2 dan X-Men: The Last Stand. Peters juga kembali mencuri perhatian dengan aksi lari cepatnya yang menyelamatkan puluhan orang dalam waktu sekejap. Cameo dari Hugh Jackman sebagai Wolverine meskipun sebentar juga dapat mencuri perhatian penonton.