Browse By

Review Film xXx: Return of Xander Cage by dodon_jerry

Sepertinya film ini seru untuk ditonton akibat kombinasi dari pemain – pemainnya yang cukup kompleks dengan keahlian bela dirinya masing masing. Setelah 12 tahun berlalu, XXX kembali merilis film terbarunya. Setelah film XXX (2002) dan XXX: State of the Union (2005), tahun ini muncul film ketiganya yang berjudul XXX: Return of Xander Cage. Vin Diesel kembali hadir di film ini setelah sempat absen di film keduanya. Kehadiran aktor berkepala plontos itu diharapkan mampu kembali mengulang kesuksesan film pertamanya. Apalagi kehadirannya turut diikuti oleh wajah-wajah Asia seperti Deepika Padukone, Donnie Yen, Kris Wu, dan Tony Jaa. Ditambah bintang-bintang popular lainnya yang secara tak terduga muncul di film ini.

Setelah menghilang di film kedua, Xander Cage yang diperankan Vin Diesel bakal kembali di seri ketiga film XXX ini. Atlet olahraga ekstrim yang kemudian direkrut menjadi mata-mata pemerintah itu bakal berhadapan dengan Xiang, seorang Alpha Warrior dalam berburu senjata mematikan Pandora Box. Didukung kru baru yang sama-sama menggemari aksi berbahaya, Xander harus bersiap menghadapi perubahan mengejutkan yang menyeretnya dalam pusaran konspirasi maut.

XXX: Return of Xander Cage tak hanya mendatangkan kembali Vin Diesel, tapi juga Samuel L. Jackson yang berperan sebagai agen NSA, Augustus Eugene Gibbons. Selain dua bintang top tersebut, film yang disutradarai D.J. Caruso ini juga menampilkan deretan nama-nama populer dari luar Hollywood seperti Deepika Padukone si Ratu Box Office Bollywood, Donnie Yen yang terkenal karena perannya dalam Ip Man, Kris Wu mantan personel EXO, dan bintang sepakbola, Neymar. Sayangnya, sosok Ice Cube yang mengambil alih kursi pemain utama di XXX: State of the Union (2005) tidak muncul di film ini.

Vin Diesel mungkin mendapat ilham bahwa sudah tiba masa baginya untuk melakukan adegan motorbiking di atas ombak. Namun ia tak bisa melakukannya dalam Fast & Furious karena hal-hal semacam itu merupakan jatah bagi mobil, bukan manusia, sementara adegan tersebut juga tak terlalu antariksa-wi untuk ukuran film Riddick. Jadi apa yang bisa dilakukan? Ia kembali mengunjungi dan memproduseri franchise lama yang ditinggalkannya demi bisa beratraksi (atau berpura-pura beratraksi) absurd.

Itu, atau ia memang hanya menerapkan apa yang ia pelajari dari Fast & Furious: semakin sinting aksinya, semakin populer filmnya. Namun kesintingan tak selalu setara dengan keseruan, terlebih saat kita tahu bahwa tak ada peluang bagi karakter untuk terluka (atau bahkan lecet), seberbahaya apapun aksinya. Tentu saja, hal yang sama juga berlaku pada franchise Fast & Furious. Namun jika disana kita dibuat terpana mengenai bagaimana kru produksi mengkreasi sekuens dengan practical effects yang bombastis, maka nyaris tak ada keseruan menyaksikan absurditas setara yang hanya direkayasa lewat komputer.

Bisa dibilang mereka berhasil dalam menampilkannya. Adegan laga pada film ini memadukan adegan perang, tembak-tembakan, berantem bela diri, serta dengan olahraga ekstrim baik itu terjun bebas, skateboard, sampai dengan motor surfing. Semua berhasil dikemas dengan apik dan rapih. Kualitas adegan laga pada film ini sangat baik, jauh berbeda jika dibanding dengan sekuel kedua di mana efek CG mengacaukan banyak adegan. Di film ini, penggunaan CG sangat minimal. Banyak adegan praktis yang menggunakan stuntman yang benar-benar melakukan adegan-adegan berbahaya tersebut.

Terlebih lagi karena selain Vin Diesel, para tokoh utama di film ini kebanyakan adalah para ahli bela diri. Sebut saja Donnie Yen yang menampilkan ilmu bela diri Winchun dengan apik, lalu ada Tony Jaa yang menampilkan ilmu bela diri asal Thailand, dan kemudian ada Michael Bisping yang dikenal sebagai juara UFC. Selain itu ada Kris Wu asal Korea, lalu ada Rory McCann yang terkenal sebagai The Hound, bahkan ada seorang pemain sepakbola terkenal yang main di Barcelona!

Menonton film ini bagaikan nostalgia ke masa-masa di mana film tidaklah dibuat terlalu serius. Semua yang terlibat pada film ini terlihat hanya fokus untuk bersenang-senang dan menghadirkan film yang membuat kita senang. Bahkan karakter Vin Diesel yang umumnya sangat generik, bisa terlihat enjoy dan menikmati perannya sebagai Xander Cage. Efek editing yang cepat, tampilan pop art ala komik, musik kencang dengan beat yang menderu-deru, semuanya bertujuan untuk menghadirkan film yang menyenangkan. Mereka tidak takut untuk terlihat konyol, yang justru pada akhirnya membuat film ini menjadi film yang dapat membuat kita turut menikmatinya. Film ini juga penuh dengan referensi-referensi dari film-film lain. Baik itu Jason Bourne sampai dengan Avengers.