#Rumpi, Si Komo

Di tahun 90an banyak acara anak-anak dalam negeri di televisi, dari acara musik anak-anak, sinetron anak-anak sampai sandiwara boneka. Mengedukasi anak-anak dengan cara yang sederhana namun “mengena”. Salah satunya acara Si Komo. Si Komo sangat popular di tahun 90an awal. Tokoh ini identik dengan kemacetan, di mana ada kemacetan selalu ada anekdot “Macet lagi, macet lagi, gara-gara Si Komo lewat”. Si Komo menyerupai hewan Komodo berwarna hitam putih, dengan jargonnya “Weleh…Weleh…”.

Si Komo, pernah tayang di TPI tahun 1990. Berupa sandiwara boneka asuhan Seto Mulyadi, atau Kak Seto. Beliau jugalah pencipta lahirnya tokoh Si Komo. Si Komo tidak tampil sendirian dalam menemani anak-anak, biasanya ditemani oleh Belu si bebek, Dompu si domba, Piko si sapi, serta Ulil si ulat. Nama-nama itu merupakan akronim dan memiliki singkatan, seperti Dompu = domba putih, Belu = bebek lucu, Ulil = ulat jahil.

Selain menyajikan keceriaan dan hiburan, acara ini sarat muatan pengetahuan dan pendidikan moral bagi anak-anak. Semua yang diceritakan biasa ditemui oleh anak-anak. Seperti pentingnya menggosok gigi, selalu menyayangi teman dan hal-hal yang dijumpai sehari-hari. Intinya selalu menjunjung tinggi kebaikan dan menjaga kesehatan. Karakter Ulil selalu menjadi tokoh yang selalu berbuat nakal dan akan menjadi jalan pembuka bagi Si Komo untuk menyampaikan pesan moralnya. Berikut fakta menarik Si Komo,

1. Ngebutnya Persiapan Serial Komo
Ketika Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) akan mengudara, beberapa stafnya mendatangi Kak Seto, yang saat itu sudah aktif sebagai pendongeng di TVRI, menanyakan apa ada ide cerita yang bisa segera diwujudkan dalam serial televisi. Kak Seto kemudian menyodorkan ide membuat dongeng boneka Si Komo yang kemudian disetujui pihak TPI. Persiapannya dikebut dalam 4-5 hari.

2. Boneka Asli si Komo Bukan Boneka komodo
Umum diketahui si Komo adalah seekor komodo, tapi yang digunakan adalah boneka naga yang dibeli Kak Seto saat ke Disneyland, Amerika Serikat. Karena waktu persiapan sangat singkat, akhirnya boneka yang ada dirombak sendiri.

Kuping naganya dijahit agar permukaannya datar seperti kepala komodo. Sisik punggungnya dipangkas. Di bagian punggung boneka terdapat celah memasukkan tangan untuk menggerakkan mulut boneka, juga untuk menyelipkan sayap naga yang sampai sekarang masih tertempel di punggung boneka.Boneka lainnya koleksi pribadi Kak Seto, kecuali si Ulil yang berwarna pink. Boneka Ulil khusus dipesan ke penjahit karena susah mencari boneka tangan berbentuk ulat.Boneka-boneka tersebut digunakan untuk syuting selama lebih dari tujuh tahun.

3. Rumor si Komo adalah Pak Harto
Rumor yang beredar, Karena lirik lagu “Macet Lagi” berbunyi”‘macet lagi, macet lagi. Gara-gara si Komo lewat”, ada yang menyangka si Komo merupakan simbol Soeharto, Presiden RI kedua. Karena kalau Pak Soeharto lewat semua kendaraan disuruh berhenti. Hal ini tidak dibenarkan Kak Seto.

4. Ulil Ganti Nama
Karakter boneka serial Komo merupakan singkatan, seperti Dompu si Domba Putih, Piko si Sapi Kokoh, atau Belu si Bebek Lucu. Karakter Ulil awalnya merupakan kependekan dari Ulat Jahil. Menggambarkan karakter yang mewakili sikap anak yang selalu ingin tahu. Suatu saat Kak Seto bertemu seorang anak yang diejek temannya karena bernama Ulil yang dianggap jahil. Kak Seto minta maaf padanya, dan mengatakan nama Ulil menjadi Ulat Kecil.

5. Asal Kata ‘Weleh-Weleh’
Dikenal kerap mengucapkan ‘weleh-weleh’. Kata tersebut diambil Kak Seto setelah menonton ketoprak di Ponorogo. Ada warok yang setiap memenangkan pertempuran selalu berkata weleh-weleh.

(Sumber)
(Sumber)
(Sumber)