Browse By

Saprahan Budaya yang Harus Dilestarikan

Pontianak- Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Pontianak, Hilfira Hamid menuturkan, saprahan merupakan budaya Melayu Kota Pontianak.

Apalagi, pemerintah Kota Pontianak baru meresmikan bagian dari launching Kampung Bansir sebagai Kampung Budaya. Di Kampung Budaya, para wisatawan atau tamu dari luar yang tertarik melihat budaya Melayu di Pontianak seperti saprahan, kerajinan-kerajinan khas, bisa berkunjung ke Kampung Bansir ini.

“Siapapun yang ingin melakukan saprahan dan kapanpun waktunya, bisa difasilitasi dan dilayani di Kampung Budaya dengan catatan dua hari sebelumnya sudah melakukan booking dengan menyebut jumlah peserta yang minta disediakan makan bersama secara lesehan ini. Minimal empat orang, akan dilayani makan saprahan di sini,” terangnya.

Ia mengungkapkan, Kampung Budaya ini bisa menjadi aset khususnya bidang budaya. Pihaknya juga melakukan promosi Kampung Budaya ini melalui Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dan Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) sebagai destinasi pilihan bagi wisatawan yang ingin menikmati saprahan atau melihat kerajinan khas warga setempat.

“Makanya, kami juga mengundang dari PHRI dan ASITA untuk mengenalkan kepada mereka supaya mereka bisa membawa tamu-tamu mereka ke sini,” ujarnya.

Sebelumnya, Walikota Pontianak, Sutarmidji saprahan merupakan bentuk pelestarian budaya Kota Pontianak. Ia meminta tradisi saprahan terus dipertahankan dan lebih dikenalkan ke semua kalangan, tak terkecuali generasi muda. Salah satu upaya yang sudah dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak untuk mengenalkan budaya saprahan di kalangan muda adalah menggelar lomba saprahan tingkat pelajar SMA sederajat.

“Tahun depan saprahan juga mulai dilakukan tingkat pelajar SMP. Golongan tua juga hendaknya melestarikan kebiasaan makan saprahan ini,” ujarnya.

Menurutnya, saprahan juga identik dengan Muharram yakni bulan Syafar, dengan tradisi robok-robok. Meski serupa, namun saprahan lebih tertata dan ada tata tertibnya.

Saprahan, kata dia memiliki filosofi sangat dalam dan terkandung nilai-nilai kebaikan, terutama untuk kebersamaan, adab di mana harus ada pemimpin dalam acara makan bersama itu.

“Bagaimana seorang kepala saprah tidak boleh berhenti sebelum anggota saprahan berhenti. Itu menunjukkan bahwa pemimpin itu harus mengayomi,” jelasnya. (Wati Susilawati)