Browse By

Stop Merokok Jika Harga Jadi naik

Pontianak – Rencana Pemerintah Pusat meniakkan harga rokok per bungkus hingga mencapai Rp 50 ribu mendapaat respon beragam di kalangan masyarakat. Sejumlah warga yang memiliki penghasilan di bawah Rp 1,5 juta mengaku tidak akan merokok lagi jika harga rokok naik drastis seperti diwacanakan.
Seperti diungkapkan, bapak tiga anak ini, Iwan Hermawan (35), pria yang tinggal di kawasan Sungai Jawi ini mau tidak mau tidak bisa merokok lagi jika rencana pemerintah itu direalisasikan. “Saya pikir saya tak akan merokok lagi, sekali-sekali mungkin tapi pastinya tidak akan setiap hari. Biasanya satu bungkus untuk sehari dua hari, sekarang kalau mahal yaa tak mungkin mampu saya beli,” katanya dengan jujur, kemarin.
Ia mengungkapkan, harga rokok yang direncanakan pemerintah itu menurut Iwan, tidak masuk akal, mengingat penghasilan sebagai tukang bangunan hanya cukup untuk makan keluarganya. “Biasanya kan sebatang Rp 1000-1.500, jika sebatang itu Rp 5.000 yaa mahal, lebih baik untuk jajan anak atau apa, kan sayang sebatang itu harganya segitu. Kita orang kecil mau gimana lagi, jika jadi, yaa otomatis kitanya stop untuk merokok,” ungkapnya.
Hal senada juga diungkapkan Anto (28), ia mengaku jika harga rokjok paling murah itu Rp 32.000 dan paling mahal itu Rp 50.000, ia akan memperimbangkan ulang untuk merokok per bungkus. “Tindakan paling ektrem yang berhenti merokok, kalau tidak kuat yaa sebatang tiga hari seklai mungkin,” akunya sambil tersenyum.
Jika pun ia yang masih pengangguran ini tidak mampu membeli rokok meski sebatang, ia masih mampu mengunyah permen sebagai alternatif saat lidah terasa pahit akibat kebiasaan merokok. “Rokok itu kan mengandung zat adiktif, jadi kaya ketagihan gitu, yaa palingan saya ngunyah permen saja, yang penting ada yang dikunyah saja di mulut,” ucapnya. (wti)